
Mala mengawali aktivitasnya seperti biasa. Meski tergolong pengantin baru, dia tidak suka terus bermanja dengan suaminya. Banyak hal yang harus dia kerjakan, terlebih jadwal kuliah yang kian padat karena sebentar lagi skripsi.
Setelah menikah dia berhenti bekerja di kafe milik Bagas, namun Mala masih menyempatkan waktu untuk datang walau hanya sekedar mampir. Hari ini setelah pulang kuliah, Mala mampir ke kafe untuk menemui Mei yang akan segera menikah dengan Bagas sang bos.
"Selamat ya Mei, jangan lupa undangan pernikahannya?" kata Mala.
"Aku nggak akan lupa kayak yang ngomong. Menikah diam-diam, takut menghabiskan hidangan kali ya," kata Mei agak kesal.
"Aduh Mei bukan begitu. Tempatku jauh, Bara aja tidak aku undang karena tidak ingin merepotkan dia."
"Apa, tega bener kamu Mala."
"Kan memang aku tidak mengundang siapa-siapa dihari pernikahan aku. Entar aku undang kalian buat makan-makan aja, oke?!"
"Baiklah. Coba lihat, bukankah itu Andra? Beberapa hari ini dia sering kemari. Apakah dia sedang mencari kamu?" kata Mei sambil melihat ke arah Mala.
"Bicara apa kau Mei. Aku dan dia tidak ada urusan apa-apa. Jadi nggak mungkin dia cari aku," ucap Mala sambil menikmati kopi yang di sajikan Mei.
Andra memang sengaja datang untuk mencari Mala. Apalagi dia mendengar jika Mala sudah menikah alias rujuk dengan mantannya. Hati Andra sakit dan kecewa. Walaupun jika dia bertemu Mala, dia tidak tahu apa yang akan dikatakannya.
Andra kaget tapi juga senang, ketika dia melihat Mala tengah santai sambil minum kopi. Dengan perasaan campur aduk, dia mendekati Mala.
"Mala," suara Andra ragu.
Mala terkejut dan dia tidak menyangka jika hari ini dia bertemu Andra. Mala menghela nafas panjang untuk menata hati agar bisa tenang menghadapi Andra.
"Hai Andra," jawab Mala sambil tersenyum.
"Boleh duduk disini?"
"Boleh saja, tapi pesen kopi sendiri ya."
"Tentu. Mbak, kopi dua seperti pesanannya."
Mei tersenyum melihat Mala yang agak canggung. Dia memang pernah marah dengan Andra, tapi Mala bukan tipe pendendam. Andra duduk sambil menatap Mala dengan tatapan sayu.
"Mala, aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu."
"Andra, semua sudah berlalu. Tak perlu kau ingat lagi."
__ADS_1
"Tapi aku ingin mendengar langsung bahwa kamu memaafkan aku," kata Andra setengah memaksa.
"Baik-baik, aku memaafkan kamu."
"Kalau kamu sudah memaafkan aku, bolehkah kita tetap berteman?!"
"Aku rasa, mungkin tidak bisa."
"Karena kamu sudah menikah?!"
"Salah satunya itu. Lagipula aku harus menjaga perasaan suamiku."
"Apakah dia tidak percaya padamu?"
"Andra, bisakah kau tidak terlalu ikut campur urusan keluargaku. Aku merasa ada yang salah dengan kamu," kata Mala agak kesal.
"Mala, maafkan aku. Tapi, aku memang tidak bisa semudah itu melupakanmu. Izinkan aku tetap mencintaimu. Aku tidak akan mengganggumu."
"Maaf, Andra. Aku sudah menikah dan aku tidak akan memberi izin kepada siapapun untuk mencintaiku kecuali suamiku. Aku yakin kamu pasti bisa melupakan aku," jawab Mala tegas.
Andra terdiam mendengar perkataan Mala. Sedih, kecewa dan patah hati.
Andra tidak menyentuh sedikitpun minuman yang diberikan oleh Mei.
"Udah sore, aku pergi dulu. Silakan di nikmati kopi pesanan kamu," pamit Mala pada Andra yang hanya tertunduk.
Mala tidak perduli bagaimana perasaan Andra, karena dia lebih peduli dengan keluarganya yang sekarang.
Saat Mala melangkah hendak keluar, sang suami tiba-tiba masuk. Mala sangat kaget, dan dia sangat takut jika Dicko marah karena Mala bertemu dengan Andra. Namun akhirnya dia berusaha tenang karena dia tidak melakukan kesalahan. Hanya suatu kebetulan bisa bertemu Andra.
"Mas, kok tahu aku ada disini?!" tanya Mala sambil mendekati Dicko yang terlihat menahan rasa cemburunya.
"Hanya kebetulan lewat saja," jawab Dicko. Padahal Dicko tahu dari bibik. Dicko takut jika Mala merasa bahwa dia tidak mempercayainya.
"Kita pulang saja. Tadi aku hanya mampir untuk bertemu Mei dan mengucapkan selamat karena dia mau menikah," kata Mala berusaha menjelaskan agar Dicko tidak salah paham.
"Lalu dia?!" tanya Dicko sambil melihat Andra yang masih duduk di tempatnya semula.
"Kami hanya kebetulan bertemu."
__ADS_1
Andra menyadari kehadiran Dicko dan Dicko pasti sedang cemburu melihat pertemuannya dengan Mala. Timbul keinginan buruk di hatinya untuk memperkeruh hubungan Mala dan Dicko. Andra berdiri dan mendekati mereka yang terlihat dalam suasana tegang.
"Hai Dicko. Apa kabar," kata Andra sambil mengulurkan tangan.
"Baik," jawab Dicko sambil menjabat tangan Andra.
"Mala, besok kita ketemu lagi disini ya?!" kata Andra membuat Mala dan Dicko kaget.
"Andra, apa yang kamu katakan?! Kita bertemu hanya kebetulan saja mas. Percayalah padaku," kata Mala.
Dicko terlihat marah dan cemburu mendengar perkataan Andra. Dicko langsung menuju mobil.
"Kita pulang. Kutunggu di mobil," kata Dicko marah.
"Andra kamu keterlaluan," kata Mala pada Andra yang tersenyum penuh kemenangan. "Mas, tunggu aku."
Mal setengah berlari mengejar suaminya yang langsung masuk ke mobilnya. Selama perjalanan Mereka hanya diam. Mala tidak tahu harus bagaimana menjelaskan jika dia dan Andra tidak pernah janjian bertemu di kafe. Mala hanya bisa membiarkan Dicko, setelah marahnya mereda barulah Mala akan menjelaskan dengan baik.
Saat di rumah, Dicko masih juga mendiamkan Mala. Namun jika dihadapan Gala, Dicko berusaha terlihat baik-baik saja. Saat melaksanakan sholat pun mereka masih berjamaah, walau setelah itu mereka masih diam-diaman.
Setelah menidurkan Gala, Mala kembali ke kamar dan mendapati suaminya masih dengan raut muka marah. Mungkin saat inilah saat yang tepat untuk menjelaskan pada Dicko tentang pertemuannya dengan Andra.
Mala perlahan naik keatas ranjang dan duduk di samping suaminya. Bingung dalam memulai pembicaraan, Mala menjadi bertambah gugup. Dicko memalingkan wajah seolah tidak ingin Mala melihatnya.
Apakah yang akan dilakukan Mala untuk membuat sang suami berhenti marah padanya dan kembali mempercayainya?
#####
Bersambung
Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan satu novel apik karya teman otor bernama Andini_Putri berjudul Diary Usang semoga suka...
Mengisahkan tentang seorang gadis desa bernama Raina Anastasya yang merasa hidupnya dipenuhi kesialan. Dipaksa menikah di usia belasan tahun. Tak boleh mengenyam pendidikan tinggi dengan alasan perempuan tak perlu terpelajar karena tugas wajibnya hanya 3 yaitu (macak, masak, dan manak). Pergi ke kota orang dengan harapan bisa untuk menghilangkan nasib buruknya. Namun, kenyataannya kesialan itu tetap mengikuti kemana pun kakinya melangkah.
Tak ada yang indah di dalam hidupnya, begitu pun dengan perjalanan cintanya.
Lantas bagaimana Raina berdamai dengan diri sendiri dan keadaan?
Temukan jawabannya di jawabannya di Diary Usang!
__ADS_1