
Saat masuk ke dalam toilet, Sita berdiri di depan wastafel. Kondisi toilet pun cukup sepi. Bahkan lima pintu yang ada di sana terbuka semua.
Ia memperhatikan pantulan dirinya sendiri dari cermin besar itu dengan lekat. Batinnya mulai menggerutu.
Kenapa Mas Haris lihatin Meylani terus sih? Apa iya Meylani jauh lebih cantik dari aku? Bukannya di sana juga Mas Haris pasti punya pegawai yang cantik-cantik? Meylani juga, kecentilan banget sih dia!
Sita merapikan pakaian dan juga riasannya kembali. Setelah itu keluar dari toilet.
"Kamu cemburu sama Haris?" Suara seorang laki-laki mampu menghentikan langkah kaki Sita lalu menoleh ke arahnya.
"Kak Sulthan, lagi ngapain di depan toilet perempuan?" Sita memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Sulthan yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya.
"Dari toilet, baru aja keluar. Eh lihat kamu keluar toilet juga." Sulthan berkata dengan santainya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Sita memperhatikan pintu toilet itu, ternyata memang benar, pintu keduanya tidak berjauhan.
"Ya udah, aku mau ke depan lagi ya, Kak!" pamit Sita, tapi seketika tangannya ditarik oleh Sulthan. Sita yang tersentak menatap tangan lalu kedua mata laki-laki itu sambil mengernyit dengan tatapan yang menuntut sebuah penjelasan.
"Aku harap kamu bisa bersikap dewasa atas apapun yang Haris lakukan." Perkataan Sulthan membuat hati kecil Sita seketika tidak terima.
Apa aku seperti anak kecil?
"Maksud Kak Sulthan?" Sita memberanikan diri untuk bertanya. Sementara Sulthan hanya mengangkat kedua alis sambil bersilang dada.
"Nanti juga kamu akan tau sendiri jawabannya. Ayok ke meja lagi!" ajak Sulthan seraya berjalan lebih dulu meninggalkan Sita yang masih mematung di sana.
Setibanya di meja, Sita duduk lebih dulu dan Sulthan kemudian di kursinya masing-masing. Bersamaan dengan datangnya pesanan mereka.
Setelah para pelayan itu menaruh makanan di atas meja, lalu pergi ... Sita tetap bersikap biasa saja. Ia bahkan menunjukkan raut wajahnya yang ceria.
Haris yang melihat hal itupun, bernapas lega. Karena tidak terjadi masalah apapun yang terjadi pada istrinya itu.
******
__ADS_1
Mereka pun akhirnya telah menyelesaikan makan siang itu. Kini para pelayan pun mulai mengambil piring kotor yang ada di meja mereka. Setelah rapi dan pelayan itu pergi, Haris berpamitan kepada Sulthan.
"Kak, aku sama Sita pergi dulu ya." Haris berdiri begitupun dengan tiga orang yang ada dihadapannya.
"Mau kemana emangnya?" tanya Sulthan sambil mengernyit.
"Mau ke suatu tempat Kak. Biasa .... " Haris melirik ke Sita lalu tatapannya kembali ke Sulthan. "Mau kasih kejutan sama Sita," pungkasnya seraya tersenyum.
"Oh, baiklah. Manfaatkan waktu kalian saat bersama ya!" titah Sulthan dan diangguki oleh Haris. "Oh iya, kamu kapan kembali ke Astrali lagi?" tanyanya.
"Besok pagi mungkin udah kembali ke sana. Kalau Kakak sendiri?" jawab Haris, lalu balik bertanya ke Sulthan.
"Nantilah kalau pekerjaan di sini udah senggang, aku balik ke sana." Sulthan menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Mereka pun sambil berjalan keluar dari restauran itu.
Haris mengernyit lalu berkata, "Emangnya kak Rima gak minta Kakak untuk segera pulang?" tanyanya membuat Sulthan menarik napasnya dalam-dalam.
Sementara Meylani hanya bersikap biasa saja. Memang, dia salah satu orang yang tahu banyak tentang Sulthan.
"Ini hal yang biasa, but ... aku selalu memberinya pengertian." Sulthan menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Haris dan tersenyum.
"Oh, by the way ... makasih udah mau makan siang bareng kita," ucap Haris sebelum dia dan Sita pergi dari hadapan Sulthan dan Meylani.
"You're very welcome." Sulthan tersenyum.
"Bye Kak." Haris mengangkat sebelah tangannya, sedangkan Sita tersenyum lalu pergi dari hadapan mereka.
Sulthan menatap nanar punggung Haris dan Sita, saat keduanya telah semakin menjauh dari dirinya. Kemudian pandangannya beralih ke Meylani yang masih berdiri disebelahnya.
"Mey, aku ada urusan. Kamu kembali ke head office aja ya! Kalau saya belum kembali juga hingga jam kantor selesai, kamu langsung pulang aja ke rumah." Sulthan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu pergi usai berpesan kepada Meylani.
__ADS_1
Disisi lain, Meylani sedikit kesal. Sebab, penampilannya yang berbeda hampir seharian ini. Bahkan tidak dipuji sedikitpun oleh Sulthan. Padahal jauh lebih besar harapannya itu bisa dipuji, walau dengan kata 'Kamu Cantik', tapi rasanya mustahil.
Sulthan pun pergi menjauh dari tempat Meylani berdiri sambil menghubungi seseorang dari ponselnya. Seketika, Meylani berbalik badan lalu berjalan kembali ke head office.
****
Haris menghentikan mobilnya di tepi sebuah danau dengan angin yang berhembus cukup kencang. Ia pun melepaskan seat belt-nya.
"Kita ngapain ke sini Mas?" tanya Sita dengan seat belt-nya yang masih terpasang dan menoleh ke Haris.
Laki-laki di sebelahnya itu memposisikan tubuh menghadapnya. Sita masih menoleh.
"Aku hanya ingin berbicara padamu di sini. Tidak banyak orang dan sangat damai .... " Haris meraih kedua tangan Sita dan mengelusnya dengan lembut. Ia menundukkan pandangannya sejenak, lalu terangkat kembali dan menatap manik mata istrinya lekat-lekat.
"Sayang, aku mau minta maaf. Aku tau tatapanku saat melihat Meylani membuat kamu cemburu. But, she isn't interesting for me. Aku hanya melihatnya, kalau Meylani tampak seperti tipe perempuan yang kak Sulthan mau." Haris memohon dengan kedua alis yang melengkung ke bawah. Sita mencari sebuah kebohongan di manik mata suaminya itu, tapi ternyata tidak ada.
"Ya, aku juga minta maaf. Karena aku terlalu cepat mengambil opini hanya karena melihat yang sebenarnya aku tidak tau apa-apa dari sisi lainnya. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan ...." Sita menghela napas lalu berkata lagi, "Mungkin karena aku ... mulai mencintaimu."
Haris tercekat saat Sita dengan mudahnya menyatakan perasaan kepadanya. Lagi-lagi, Haris dilanda kebimbangan. Ia masih mencari rasa cinta itu untuk Sita.
Seorang perempuan yang telah mendapat sebuah sentuhan baik batin maupun fisik, walau awalnya tidak ada rasa cinta ... lambat-laun pasti akan merasakannya. Berbeda dengan laki-laki, walau dia mampu melakukan semua itu. Hal tersulit yang ia utarakan itu menyatakan perasaan, sebab bisa saja hanya karena rasa nyaman, membuatnya enggan berterus terang tentang perasaannya sendiri.
Sita masih menunggu Haris berkata apa yang tadi sempat ia ucapkan. Namun, kedua tangannya justru di lepaskan dan Haris mengalihkan pandangannya ke depan sambil bersandar di sandaran kursi.
Sedikit ada rasa kecewa di dalam hatinya. Haris yang ia kira akan juga menyatakan perasaannya, tapi ternyata hanya terdiam.
"Sita, aku mau jujur sama kamu." Haris menoleh dengan kedua tangan yang dia letakkan di atas setir mobil.
"Jujur tentang apa?" Sita semakin penasaran, detak jantungnya pun sangat cepat beriringan dengan darah yang berdesir di dalam nadinya.
"Sebenarnya, aku ... "
__ADS_1
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...