Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Pergi bersama


__ADS_3

Mala akhirnya bisa bekerja kembali di cafe milik Bagas. Menjalani hari-hari seperti dulu, tanpa beban. Kembali menjadi Mala yang semaunya dan cuek.


Mala juga senang ketika mendengar dari Bagas kalau Bara sudah memiliki kekasih. Senyum merekah dibibir Mala yang tipis menggoda. Senyum Mala terhenti ketika seseorang memanggilnya.


"Mala, cappuccino dua ya. Jangan pake lama," teriak seseorang yang ternyata adalah Dicko.


"Baik," jawab Mala kemudian.


Mala mengingat perkataan Mei kemaren. Dan Mala jadi tersenyum sendiri. Kenapa tiba-tiba hatinya berdebar-debar.


"Ini pesanan anda pak," kata Mala sambil meletakkan dua cangkir kopi di depan Dicko.


"Terimakasih," jawab Dicko sambil tersenyum.


Mala melangkah pergi meninggalkan Dicko yang terus memperhatikan Mala sambil menghela nafas berat.


Mulai hari ini, Dicko menjalankan usahanya untuk kembali menarik perhatian Mala dan mendapatkan cinta Mala kembali. Dia ingin setiap hari Mala melihatnya dan merasakan ketulusannya.


Dicko selalu menyempatkan diri, disela-sela kesibukannya untuk minum kopi di tempat kerja Mala. Terkadang dia mengajak Agam yang penasaran dengan kondisi Mala saat ini.


"Bos, apa istrimu masih secantik dulu?" tanya Agam sambil tersenyum.


"Bisa diam tidak."


"Dia datang bos," teriak Agam pelan.


Mala tersenyum ketika melihat Agam. Agam membalas senyum Mala walau dalam hatinya takut jika Dicko cemburu. Tapi itu urusan nanti.


"Ini pesanan kalian. Silakan dinikmati," kata Mala.


"Tunggu Mala..."


"Iya, ada apa pak Agam? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mala sopan.


"Jam berapa kamu bebas kerja hari ini?!" tanya Agam membuat Dicko berhenti melihat laptop.


"Sekitar satu jam lagi. Ada apa?" tanya Mala sambil melirik kearah Dicko yang melihat kearah Agam.


"Mau ngobrol-ngobrol lah. Kan udah lama nggak ketemu sama kamu," jawab Agam gugup.

__ADS_1


"Iya, bener juga. Baiklah, satu jam lagi aku kesini," kata Mala sambil melangkah pergi.


Dicko menatap Agam dengan wajah kesal.


"Agam, aku ajak kamu ke sini bukan untuk merayu Mala."


"Tenang bos, ini juga demi bos. Kita ngobrolnya bertiga. peace jangan cemburu," gurau Agam.


Dicko merasa apa yang dikatakan Agam benar. Kesempatan berbicara mungkin lebih bisa mendekatkan diri lagi padanya.


Dicko dan Agam benar-benar menunggu jam kerja Mala berakhir. Mala tidak mengira jika mereka serius ingin ngobrol bukan hanya candaan karena tidak ada omongan.


"Hai, kalian belum pulang?" tanya Mala pura-pura bertanya.


"Ya belum lah. Kan kita lagi nungguin kamu. Duduklah," kata Agam sok akrab.


"Memang di kantor kalian tidak ada kerjaan, kok santai disini?" tanya Mala penasaran.


"Jawablah bos. Klo pertanyaan ini yang tahu si bos."


Dicko gugup juga karena tidak menyangka Agam akan mengalihkan pembicaraan padanya.


"Cari udara segar apa cari calon istri?!" gurau Agam.


"Dua-duanya kalau bisa," sambung Dicko.


"Ada-ada saja kalian. Udah dewasa masih suka bercanda. Kenapa kalian tidak cocok ya bercandanya. Pakai stelan jas, dasi kok malah gitu?!" kata Mala cemberut.


"Haruskah yang pake stelan jas dan pake dasi mesti dingin dan arrogan kayak di novel-novel. Nggak semua CEO itu musti gitu. Dia akan galak kalau ada bawahannya yang berbuat salah. Lha kalau bininya , biar salah juga dibenarkan oleh dia," jawab Agam membela Dicko.


"Apa aku buang saja jas sama dasiku, biar tidak jadi penghalang diantara kita?!" tanya Dicko serius.


"Apaan sih. Kenapa mesti bawa-bawa kita?" kata Mala dengan wajah memerah karena malu.


Melihat reaksi Mala, Dicko dan Agam saling berpandangan dan tersenyum senang seolah apa yang mereka harapkan telah mereka dapatkan.


Tiba-tiba ponsel Mala berdering. Mala dengan halus menjawab panggilan masuk yang ternyata adalah ibunya.


"Apa, Gala sakit bu. Baik, Mala pulang sekarang juga," ucapan Mala mengakhiri panggilan telepon dari ibunya.

__ADS_1


"Ada apa Mala? Apa Gala sakit, apakah sakitnya parah?" tanya Dicko khawatir.


"Entahlah, ibu hanya minta aku pulang. Tapi aku sangat khawatir dengan kondisi Gala. Dia jarang sakit, tapi kalau sudah sakit pasti agak mengkhawatirkan. Aku harus pergi dulu, harus membeli tiket."


Mala bergegas berdiri dan hendak segera pergi.


"Tunggu, biar aku antar kamu pulang. Gala juga anakku, jadi aku juga berhak mengkhawatirkan kondisinya sekarang. Benarkan?!" tanya Dicko yang akhirnya di benarkan oleh Mala.


"Iya. Tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu disini?" tanya Mala.


"Agam, aku titip perusahaan padamu. Handle semua pekerjaanku. Jika ada yang penting kamu bisa hubungi aku. Mengerti?!" katanya sambil memandang Agam.


"Siap bos. Selamat bersenang-senang. Semoga Gala cepat sembuh," gumamnya pada Dicko.


"Semua sudah beres, kita berangkat sekarang saja. Mumpung masih terang."


Mala bergegas mengikuti langkah Dicko menuju mobil Dicko. Mala sangat senang melihat Dicko sangat perhatian pada Gala sama seperti dulu.


Selama perjalanan mereka hanya saling mencuri pandang dan tersenyum jika pandangan mereka bertemu. Seperti cinta anak ABG saja, malu-malu tapi mau.


Akankah Dicko dan Mala mampu membuka hati masing-masing untuk menerima cinta?


######


Bersambung...


Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan satu novel karya teman otor bernama Momoy Dandelion berjudul pura-pura Miskin


Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.


__ADS_1


__ADS_2