
Seperti yang Dicko janjikan, makan malam dengan Hena di tempat biasa yang dulu sering mereka kunjungi bersama ketika masih pacaran. Mungkin tujuan Hena mengajak Dicko ketempat itu adalah untuk mengenang kembali masa-masa indah dulu.
Namu bagi Dicko, semua itu sudah lama terhapus dari ingatannya. Kenangan itu sudah tidak ada yang tersisa. Hanya bekas lukanya saja masih terlihat namun rasa sakitnya sudah lama hilang.
Dicko melihat ketempat yang dimaksud Hena. Disana, Hena sudah duduk menunggu kedatangan Dicko dengan harap-harap cemas.
Hena takut Dicko tidak akan datang menemuinya. Sungguh sangat sulit membuat Dicko kembali memperhatikannya.
"Hai, Dicko," sapa Hena saat melihat Dicko dari kejauhan.
Dicko berjalan santai menuju tempat duduk Hena yang merupakan tempat favorit mereka kala itu.
"Sudah pesan makanan?!" tanya Dicko setelah duduk.
"Sudah. Seperti biasanya."
"Baiklah kalau begitu. Kita tunggu pesanan datang."
Tak lama kemudian pesanan datang. Semua adalah makanan yang sering mereka pesan saat mereka masih bersama. Dicko hanya memandangi makanan yang sudah tertata rapi didepannya.
"Makanlah Dicko. Kenapa kamu hanya diam. Atau ada yang salah?" tanya Hena bingung.
"Tidak ada yang salah. Jika kamu suka maka kamu juga boleh memesannya. Tapi, aku berhak menolaknya karena seleraku sudah berubah," jawab Dicko dingin.
Hena kecewa dengan perkataan Dicko yang selalu membatasi diri darinya. Seolah mendirikan dinding tebal dan tinggi diantara mereka. Jika seperti itu, bagaimana bisa Hena kembali masuk ke dalam hati Dicko?
Hena jadi tidak selera makan, apalagi Dicko juga tidak sedikitpun menyentuh makanan yang ada di meja.
__ADS_1
"Sudah selesai makannya? Aku siap mendengarkan rahasia yang kau tawarkan kemarin," tagih Dicko.
"Baiklah. Beberapa bulan lalu, aku mendengar Farel marah dengan seseorang di telepon. Ternyata Farel yang menyuruh orang itu untuk mencelakaimu. Sebenarnya aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, tetapi semua itu nyata setelah aku bertanya langsung padanya."
"Apakah kamu tidak bertanya padanya, mengapa dia melakukan itu padaku?" tanya Dicko agak kaget namun dalam hatinya dia percaya.
Seorang sahabat yang bisa menghianati kepercayaan dan berselingkuh dengan kekasih sahabatnya mungkin saja bisa melakukan apapun yang lebih dari itu. Termasuk membunuh saingannya meski saingannya itu adalah sahabatnya sendiri.
Hena terdiam mendengar pertanyaan Dicko. Dia mencoba mencari jawaban yang tidak akan membuat Dicko marah padanya. Tetapi Hena masih belum bisa menemukannya.
"Hena, kenapa tidak menjawab? Apa ada hubungannya denganmu?!" tanya Dicko lagi.
"Bukan tapi... Dia bilang dia mencintai aku dan kamu merebutku darinya. Dia marah padamu dan merencanakan semua itu," jawab Hena gugup.
"Kamu juga menyukainya bukan?" kata Dicko menyindir.
"Disana banyak tempat yang indah dan romantis. Tempat yang bebas melakukan kegilaan," kata Dicko sambil tersenyum sinis.
"Bagaimana kamu tahu tempat itu? Apakah kamu pernah pergi kesana?! Benar, hari itu ada seseorang yang datang ketempat ku. Apakah itu kamu, Dicko?!" tanya Hena panik.
"Benar, cinta membawaku kesana dan menemukan apa yang memang harus kuketahui. Jika tidak, selamanya aku akan menjadi laki-laki bodoh didepan kalian berdua."
"Apakah kamu melihat kejadian itu?!" tanya Hena tampak sangat panik.
"Apakah kamu berharap aku tidak melihatnya dan kalian akan bermain dibelakang ku? Aku sudah melepaskan kamu dan kamu bebas bersama dia tanpa takut di cap sebagai peselingkuh. Bagaimanapun dia sahabatku dan sudah kuanggap seperti saudara. Jika kalian saling mencintai, aku tidak akan menjadi pengecut yang menghalangi cinta kalian," jawab Dicko datar.
"Maafkan aku Dicko. Aku hanya khilaf saat itu. Aku yakin aku masih sangat mencintaimu," kata Hena memelas.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu. Jika kamu memang mencintai aku, kamu tidak akan selingkuh dengan sahabat baikku di belakangku."
"Jadi alasan kamu memutuskan hubungan denganku karena kamu tahu aku selingkuh dengan Farel? Kamu laki-laki berdarah dingin Dicko. Kamu sebenarnya tidak pernah mencintai aku bukan?!" tanya Hena kesal.
"Apapun itu, aku tidak akan pernah mempertahankan wanita sepertimu," jawab Dicko.
Hena tidak pernah menyangka jika perselingkuhannya dengan Farel sudah Dicko ketahui sejak awal. Dan Dicko tidak pernah memberitahu Hena. Namun antara Dicko dan Farel sudah sama-sama tahu semua itu.
Kisah cinta segitiga antara Hena, Dicko dan Farel.
Farel jatuh cinta pada Hena sejak awal bertemu akan tetapi Hena mencintai Dicko. Dicko yang saat itu sedang galau akhirnya menerima cinta Hena tanpa tahu bahwa Farel juga jatuh cinta pada Hena.
Saat Hena memilih bekerja di luar negeri, Farel juga mendapatkan kesempatan yang sama. Sedangkan Dicko harus meneruskan perusahaan orangtuanya.
Adanya kesempatan dan waktu serta tempat dapat memicu perselingkuhan antara Farel dan Hena di sana. Setelah diputus Dicko, Hena merasa menyesal dan ingin kembali. Akan tetapi Farel menjadi marah dan merencanakan hal jahat pada Dicko.
Namun penyesalan tidak bisa membawanya kembali pada Dicko yang sudah tidak mencintainya lagi.
#############
Bersambung ya...
Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan novel yang apik karya teman saya yg bernama Khodijah Rahman dengan judul Kugoda Lagi Suamiku.
Ana seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak yang tidak pernah memperhatikan penampilannya, hingga suaminya berpaling pada wanita lain. Ana berusaha menggoda lagi suaminya agar kembali ke pelukannya. Apakah godaan Ana berhasil? Akankah Prasetya, suami Ana, akan tergoda?
Let's check this out!!
__ADS_1