
Gosip semakin santer terdengar di seluruh perusahaan. Sang bos dikatakan sedang berselingkuh dengan salah satu pegawai perusahaan. Lebih jelas lagi dengan pegawai baru.
Hal itu tentu saja mengundang bermacam-macam reaksi dari berbagai kalangan. Ada yang percaya dan ada yang tidak. Bahkan ada yang sangat marah karena berharap jika bos mau berselingkuh harusnya sama dia.
Namanya Sonya. Dia juga termasuk pegawai baru perusahaan ini. Dia tidak suka melihat Mala lebih dekat dengan bos ketimbang dengannya. Sonya memang cantik dan seksi dan sangat menggoda. Tapi itu menurut dia sendiri. Dia tidak akan membiarkan orang lain menang darinya.
Sonya bertemu Mala ketika Mala akan mengambil air minum. Hal itu membuat Sonya ingin membuat Mala menyerah mendekati bos.
"Kamu yang bernama Mala?" tanya Sonya dengan nada tinggi.
"Iya, bener mbak," jawab Mala lembut.
"Klo aku perhatiin, kamu nggak ada cantik-cantiknya. Bagaimana pak Dicko bisa tertarik padamu? Jangan-jangan kamu menggunakan tubuhmu untuk mendekatinya," ledek Sonya genit.
"Menurutmu, apa pak Dicko akan tertarik dengan tubuhku ini? Tidakkah menurutmu tidak ada yang bisa aku andalkan untuk menarik perhatiannya."
"Benar juga. Memang tidak yang menarik darimu dari segi manapun," ucap Sonya menghela nafas.
"Lalu, kalau begitu siapa yang salah, siapa yang genit?" tanya Mala sambil tersenyum dalam hati.
Meski Mala merasa berdosa sudah membuat nama Dicko jadi bahan gosip.
"Pak Dicko. Seandainya dia mau selingkuh, mestinya sama aku aja kenapa malah memilih kamu? Sebel jadinya," kata Sonya manja.
"Selingkuh? Maksudnya?!" Mala pura-pura panik.
"Pak Dicko itu sudah punya istri. Katanya istrinya dari kampung. Meskipun cantik, dia pasti kampungan. Makanya mau cari yang bau-bau kota," jawab Sonya sok tahu.
"Sok tahu," gumam Mala.
"Apa katamu? Eh, Mala, jangan karena kamu selingkuhannya bos, aku takut ya sama kamu. Klo istri bos sampai tahu, hidup kamu nggak akan lama di sini."
Mala tersenyum mendengar ocehan Sonya.
__ADS_1
Emang bener kata Sonya. Jika Sampai Dicko berani selingkuh dengan wanita lain di kantor ini, aku tidak diam. Nggak akan aku biarkan wanita itu hidup dengan tenang, batin Mala.
"Heran, kenapa kamu malah tersenyum seakan tidak bersalah. Terang-terangan menggoda bos di depan umum dasar psiko," kata Sonya keras.
Merasa dipermainkan Mala, Sonya merasa kesal. Dia langsung mendorong tubuh Mala hingga terjatuh kelantai. Sontak saja kejadian itu membuat kantor heboh.
Mala dibantu beberapa karyawan berdiri, ada sedikit bercak darah yang keluar dari ************ Mala. Mala menahan sakit dan panik melihat darah.
"Anakku..."
Dicko mendengar apa yang terjadi pada Mala. Matanya merah menahan amarah. Dia berlari menuju kearah toilet. Disana dia melihat Mala tengah duduk menahan rasa sakit dan panik.
"Siapa yang melakukan ini, pecat dia?!" teriak Dicko.
Dicko segera mengangkat tubuh istrinya dengan perasaan cemas. Semua mata karyawan saling berpandangan. Sonya merasa ketakutan mendengar teriakan bosnya yang berniat memecatnya.
Semua bertanya-tanya, siapa wanita itu yang sanggup membuat pak Dicko panik dan ingin memecat pelakunya?
"Agam, siapkan mobil. Cepat?!" teriak Dicko sambil berlari.
"Kalian benar-benar melakukan kesalahan besar. Kalian tahu siapa wanita yang kalian sakiti itu?" tanya pak Wira wakil manajer.
Semua yang ada disitu saling berpandangan dan tidak bisa menjawab.
"Dia adalah Mala, istrinya bos."
Mendengar hal itu membuat hati Sonya orang was-was dan cemas. Ada kemungkinan dia akan dipecat karena telah membuat istri bos terluka.
"Kalian bukan hanya mencelakai istri bos, tetapi juga calon bayi dalam kandungannya. Benar-benar sudah keterlaluan," ucap pa Wira lagi.
Sementara, Mala sudah sampai di rumah sakit, dan mendapatkan perawatan dokter. Dicko berjalan mondar-mandir karena cemas dengan keadaan istri dan bayi yang ada dalam kandungannya.
Tidak berapa lama, salah seorang dokter keluar dan menjelaskan keadaan Mala pada Dicko.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istri dan calon bayi dok?" tanya Dicko panik.
"Bapak suaminya? Kondisi pasien tidak ada yang serius. Hanya sedikit pendarahan saja. Bapak tidak usah khawatir, sebentar lagi perawat akan membawa pasien ke ruang rawat inap. Jadi silahkan bapak mengurus administrasinya dulu," kata Dokter.
"Terimakasih dok. Kami akan segera mengurusnya," jawab Dicko sambil menghela nafas.
"Saya permisi dulu, masih banyak pasien yang menunggu," kata pak Dokter lalu berlalu pergi.
"Sekali lagi terimakasih, dok," kata Dicko. "Agam."
"Siap bos, aku akan segera urus semuanya. Bos tenang saja, silahkan dengan tenang merawat nyonya bos," jawab Agam sambil tersenyum.
Agam memang sekretaris kepercayaan Dicko. Selain sebagai karyawan, dia juga sahabat Dicko ketika kuliah di luar negeri. Jadi Agam tentu paham keinginan Dicko dan perintah yang berupa isyarat.
Dicko masih menunggu Mala dipindah ke ruang rawat inap. Setelah sekitar satu jam, Mala dibawa keruang rawat inap. Dicko menemani Mala sambil sesekali mengelus rambut istrinya yang tergolek lemah.
"Mas," suara Mala parau.
"Iya sayang. Ada apa? Apa yang kamu rasakan? Apakah ada yang sakit? Katakan saja padaku?" tanya Dicko sambil memegang tangan Mala.
"Bagaimana bayi kita mas?"
"Kamu tidak perlu khawatir, anak kita baik-baik saja. Aku senang sekali ketika mendengar penjelasan dokter."
"Alhamdulillah ya mas. Tadinya aku takut kau akan kehilangan anak kita," kata Mala sambil tersenyum kecil.
"Sudahlah, sekarang istirahatlah. Aku akan menemanimu."
"Tapi mas, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Semuanya tidak lebih penting dari kesehatanmu. Kamu itu nomor satu dan yang lainnya nomor dua," jawab Dicko.
"Mas Dicko bisa aja," kata Mala.
__ADS_1
Keduanya tersenyum dan saling memandang. Bahagia meski sekarang ada di rumah sakit. Dengan kejadian ini, mereka lebih bisa mengetahui bahwa mereka saling peduli dan saling mengetahui arti penting masing-masing.
Sorenya, datanglah serombongan orang untuk menjenguk Mala. Diantara mereka ada pimpinan Mall yang ternyata ibu kandungnya Mala. Ada apa mereka datang berkunjung?