Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Kenyataan yang pahit


__ADS_3

Mala dan Dicko duduk bersebelahan dan Mala menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Mala berusaha meyakinkan hatinya untuk memberitahukan kebenaran tentang dirinya pada suaminya.


"Mas, sebenarnya aku bukan anak kandung ayah dan ibu," kata Mala membuat Dicko kaget.


"Apa, kamu bukan anak kandung ayah dan ibu? Lalu siapa orangtua kandung kamu?" tanya Dicko penasaran.


"Namanya Shella, adiknya bu Bella," jawab Mala.


"Apa, adiknya bu Bella?" jawab Dicko.


Mala menceritakan semua kepada suaminya. Semua menjadi sebuah kejutan bagi Dicko. Dicko mencoba menenangkan diri, karena dia harus bisa menjadi sandaran bagi Mala disaat seperti ini. Dia saja sangat terkejut, apalagi Mala.


"Mas, aku bingung. Apakah menurutmu aku harus senang setelah mengetahui semua ini?" tanya Mala hampir menangis.


Dicko meraih tubuh istrinya dan dipeluknya erat, berharap pelukannya bisa memberikan ketenangan di hati Mala.


"Mas, bagaimana aku menghadapinya? Saat aku tahu, aku anak yang tidak diinginkan? Aku membencinya mas," kata Mala lagi.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja semua dengan sabar. Tidak akan ada apa-apa. Bukankah kamu sudah dewasa, sudah menikah dan memiliki Gala. Jadi percayalah semua tidak akan berubah," kata Dicko.


"Aku tidak ingin mengetahui semua ini mas. Aku hanya ingin ayah dan ibu tetap menjadi orangtua kandungku."


"Ya, selama 25 tahun mereka merawatmu. Mereka merawatmu dengan sangat baik. Siapa yang tidak ingin menjadi anak kandung mereka?" kata Dicko pelan.


"Mas, aku tidak ingin membuat mereka sedih."


"Kamu tidak akan membuat mereka sedih, selama kamu tidak meninggalkan mereka."


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka mas. Bagaimanapun juga mereka tetap ayah dan ibuku."


Dicko semakin erat memeluk tubuh istrinya yang mulai menangis. Dicko membiarkan Mala dan berharap setelah puas menangis dia akan lebih bahagia dan menerima kenyataan hidupnya dengan ikhlas.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara, bu Bella mencoba menghubungi adiknya yang saat sedang berada di luar negeri. Shella bekerja sebagai seorang desainer pakaian. Dia sudah pernah menikah, namun pernikahan mereka gagal dan berakhir dengan perceraian.


Bu Bella selalu berharap agar Shella menikah lagi, namun Shella selalu menolak karena ternyata dia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya, Reno. Reno adalah ayah kandung Mala.

__ADS_1


Namun sejak seminggu yang lalu, nomor adiknya tidak bisa dihubungi. Entah apa yang terjadi dengannya. Hal ini membuat bu Bella sangat khawatir. Dia mondar mandir diruang keluarga sambil menggenggam tangannya penuh kecemasan.


Diluar terdengar suara sepeda motor Andra yang baru saja pulang. Andra terkejut ketika melihat ibunya mondar-mandir seperti sedang memiliki masalah.


Apakah ibu memikirkan masalahnya dengan Mala? Bukankah kemarin aku sudah bilang, meskipun Mala tidak mengatakan memaafkan ibu, setidaknya Mala tidak akan melaporkan ibu ke kantor polisi? batin Andra.


Andra mendekati ibunya perlahan takut mengejutkan ibunya.


"Ibu, ada apa? Kenapa ibu terlihat sangat cemas?" tanya Andra.


"Oh...Andra. Kamu sudah pulang? Ibu sedang bingung. Sudah seminggu tantemu Shella tidak bisa dihubungi. Apakah dia pernah bilang mau ganti nomor?" tanya bu Bella.


"Kayaknya tidak bu, memang ada hal penting apa?" tanya Andra penasaran.


"Andra, duduklah. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu," kata bu Bella sambil duduk di sofa.


"Ibu, jangan bikin Andra makin penasaran," jawab Andra sambil mengikuti ibunya duduk.


Bu Bella terdiam sesaat sambil menghela nafas berat.


"Andra, kamu jangan sedih atau kecewa setelah mendengar apa yang akan ibu katakan."


"Andra, apa kamu pernah mendengar jika tante kamu, Shella memiliki seorang anak?" tanya ibunya.


"Pernah, dan dia menetap di luar negeri karena marah nenek sudah membuang anaknya. Lalu apa hubungannya dengan aku?" tanya Andra.


"Anak Tante Shella itu sekarang sudah ketemu," jawab ibunya pelan.


"Apa, siapa? dimana?" tanya Andra sangat bersemangat karena dia bakal memiliki saudara sepupu.


"Mala," jawab Bu Bella.


"Mala. Kenapa ibu menyebut namanya? bukankah ibu tidak menyukai dia?" tanya Andra.


"Saudara sepupumu adalah...Mala."


Jawaban sang ibu membuat jantung Andra seakan berhenti berdetak.

__ADS_1


"Ibu jangan bercanda. Ibu sengaja berkata begitu agar aku tidak mencintai Mala lagi bukan? Ibu, sudahlah. Jangan, jangan usaha lagi," kata Andra sedih dan kecewa.


"Andra, ibu tidak bercanda. Mala memang anak kandung dari Shella, Tante kamu. Jadi ibu nggak mengada-ada Andra," kata bu Bella serius.


"Jadi benar Mala sepupuku?" jawab Andra sambil berdiri dan pergi meninggalkan ibunya.


Hati Andra sangat sedih dan hancur. Wanita yang selama ini sangat dicintainya ternyata adalah sepupunya. Kenyataan yang tidak ingin Andra dengar, namun dia tidak bisa menghapus takdir jika mereka bersaudara walau hanya sebagai saudara sepupu.


Sementara sang ibu membiarkan Andra sendiri dan memberinya waktu untuk bisa menerima kenyataan yang mau tidak mau harus Andra hadapi. Pasti sangat sulit bagi Andra untuk bisa merubah cinta sebagai laki-laki dewasa menjadi cinta saudara.


Andra mengenang masa lalu yang pernah mereka lalui bersama. Pertemuan pertamanya hingga mereka sering menghabiskan waktu bersama. Naik motor dan bahkan pergi berlatih ke arena balap motor tempat Andra berlatih.


Akh...aaarkh


Suara teriakan Andra terdengar hingga keluar kamarnya. Dia memukul-mukul bantal yang ada diatas ranjangnya dengan kedua tangannya. Hatinya terasa sakit dan dadanya sesak seperti ada sebongkah batu yang menghalangi nafasnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Mala dan Andra memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman sebelum pulang kembali ke rumah. Namun sebelum mereka sempat berdiri, tiba-tiba datanglah seorang anak kecil yang sedang berlari dan memberi kode pada mereka untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya di mulutnya.


Mala dan Andra saling berpandangan sebelum mereka tersenyum melihat ulah anak itu. Anak itu bersembunyi di belakang bangku yang sedang mereka duduki.


Tidak berapa lama, datanglah seorang wanita muda yang sedang mencari sesuatu.


"Permisi mbak, mas. Kalian lihat seorang anak kecil sedang berlari kesini?" tanya wanita itu sambil terengah-engah.


"Anak kecil, apakah dia anakmu? Kenapa bisa hilang, atau kalian main petak umpet?" tanya Dicko.


"Bukan. Dia anak majikan saya. Dia memang agak nakal, suka kabur-kaburan. Saya nanti pasti kena marah nyonya dan tuan kalau mereka tahu Dodi menghilang," jawab wanita itu yang ternyata seorang baby sitter.


"Kami tidak lihat, ya kan mas? Dari tadi kami duduk disini, tapi tidak melihat ada anak kecil lewat," kata Mala sok serius.


Mala dan Dicko saling berpandangan. Mereka tersenyum sambil menggelengkan kepala. Akan tetapi tangan Mala menunjuk ke belakang bangku yang sedang dia duduki. Wanita itu tersenyum lalu berjalan pelan-pelan kebelakang bangku.


🌹🌹🌹🌹🌹


Bersambung ya

__ADS_1


Mkasih yang masih setia mengikuti cerita ini.


jangan lupa like dan koment ya..


__ADS_2