
Hari ini, Mala mulai ikut bekerja di perusahaan suaminya. Mala menyerahkan semua pekerjaan rumah pada bibi untuk sementara. Jika nanti Mala sudah bosan bekerja, dia pasti akan kembali menjadi ibu rumah tangga.
Selesai sarapan, Mala meminta Dicko untuk menunggu diluar. Mala masih harus mengambil tas miliknya dan juga tas suaminya. Namun Dicko tidak mungkin membiarkan Mala terlalu capek.
"Mas, tunggu aku di mobil. Aku mau mengambil tas dulu," kata Mala.
"Tidak, sayang. Biar aku saja yang mengambil tas kamu dikamar kan? Lagian aku juga belum membawa tasku. Aku ambilkan sekalian."
"Baiklah, kalau begitu aku menemani Gala menyiapkan tasnya," kata Mala sambil melihat kearah Gala.
"Tidak perlu bu, Gala bisa ambil sendiri. Ibu duduk saja. Jaga dedek bayi," kata Gala.
Mereka tersenyum mendengar perkataan Gala. Gala memang sudah bersikap dewasa sekarang, sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
"Baiklah, karena kalian sudah bisa mengurus diri sendiri, ibu akan nurut kalian saja."
"Baiklah, Gala, ayo semangat," kata Dicko sambil melangkah pergi.
Mala tersenyum melihat tingkah kedua orang laki-laki yang sudah memberi warna dalam hidup Mala. Bahagia memang sederhana. Melihat perhatian keduanya padanya lebih membahagiakan.
Mereka bertiga naik mobil bersama. Setelah mengantarkan Gala ke sekolah, Mala dan Dicko melanjutkan perjalanan ke perusahaan.
"Mas, nanti turunin aku di jalan samping perusahaan ya?" kata Mala.
"Kenapa?" tanya Dicko kaget.
"Aku ingin bekerja sebagai pegawai biasa. Aku ingin menikmati saat-saat seperti dulu. Saat pertama bekerja di sini."
Mala tersenyum mengenang masa lalu. Meski ada banyak kenangan sedih karena waktu itu Dicko berpura-pura tidak mengenalinya. Tetapi Dicko sangat perhatian dengannya. Membelikan makanan kesukaannya meski dengan berbagai alasan.
"Padahal aku berencana mengenalkanmu pada semua karyawan jika kamu adalah istriku," ucap Dicko agak kecewa.
"Mas, jika mereka tahu aku istrimu, mereka akan sangat sungkan bekerja bersamaku. Jadi turuti saja aku," kata Mala.
__ADS_1
"Baik, sayang . Sekarang kamu bosnya, jadi sebagai bawahan aku akan menuruti semua perintah bos," kata Dicko sambil tersenyum.
Mala membalas senyum suaminya dengan senyuman termanis yang dia miliki.
Mobil Dicko berhenti di samping gedung perusahaan Dicko. Mala turun dengan hati-hati.
"Jangan turun mas, aku bisa sendiri. Nanti ada yang melihat," kata Mala pelan.
Dicko hanya diam mendengar ucapan sang istri. Ada-ada saja keinginan ibu hamil ini. Ngidam kerja. Tetapi dengan begitu, Dicko bisa mengawasi istrinya 24 jam. Lebih menyenangkan.
"Pergilah dulu mas, nanti aku menyusul," ucap Mala pelan.
"Baiklah. Nanti jika butuh bantuan, segera hubungi aku atau Agam," pesan singkat Dicko.
"Oke," jawab Mala singkat.
Mala menatap mobil suaminya yang sudah semakin menjauh dan masuk ke parkiran. Mala berjalan perlahan menuju loby perusahaan.
Namun kepercayaan diri Mala lebih besar ketimbang pandangan buruk mereka padanya. Mala dengan santai berjalan melewati para karyawan yang dulu pernah menjadi teman kerjanya.
"Mala, masih ingat aku?" tanya Mila kakak Wina.
"Hei, mbak Mila," jawab Mala sambil mengulurkan tangan pada Mila.
Mila menyambut uluran tangan Mala dan mereka berpelukan sesaat.
"Kamu kerja lagi?" tanya Mila penasaran.
"Iya mbak."
"Jadi, wanita yang kata teman-teman lain wanita kesayangan bos itu kamu?" tanya Mila kaget.
"Wanita kesayangan apa? Mungkin yang mereka maksud adalah orang lain," jawab Mala mengelak.
__ADS_1
"Mungkin saja, kalau begitu selamat bekerja," kata Mila sambil tersenyum.
Mala merasa lega karena Mila tidak terlalu banyak bertanya. Jika Sampai terjadi maka Mala tidak tahu harus menjawab apa.
Mala bekerja sebagai asisten seperti pekerjaannya dulu. Namun kali ini, Dicko lebih perhatian dan tidak memberinya pekerjaan yang berat. Karena bagi Dicko, Mala adalah istrinya yang sedang hamil dan tidak boleh banyak beban. Meskipun Mala selalu mengatakan padanya untuk tidak membeda-bedakan dia dengan yang lain, tetapi Dicko tetap tidak bisa.
Dicko pergi sendiri untuk mengambil air minum, padahal biasanya Agam yang mengambilkan untuknya. Tentu saja hal itu memicu rasa penasaran seluruh karyawan yang kebetulan melihatnya.
Dicko sama sekali tidak peduli. Yang dia pedulikan hanyalah kenyamanan Mala selama berada di kantornya. Dicko meletakkan segelas air diatas meja kerja Mala.
"Mala, kamu pasti sudah haus. Aku bawakan minuman untukmu. Minumlah?" kata Dicko sambil tersenyum.
"Pak Dicko, jika saya ingin minum, saya bisa ambil sendiri. Pak Dicko tidak perlu khawatir," jawab Mala cuek.
"Sayang, aku tidak tahan biarpun cuma sehari. Kenapa mesti di rahasiakan? Apa kamu malu menjadi istriku?" tanya Dicko cemberut.
"Pak Dicko, aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Pasti nanti mereka akan mendekati aku dan berusaha menarik simpati dariku. Aku pasti capek mas," jawab Mala berusaha menenangkan hati suaminya.
"Tetapi jika tidak ada orang, boleh ya aku sekedar memelukmu. Atau mencium kening saja, oke?"
"Baik pak Dicko. Oh ya pak, tadi aku lihat perusahaan ada kerjasama dengan Mall Raya. Kapan kalian kerjasama?" tanya Mala.
" Tiga bulan lalu. Tapi kali ini ada perubahan menajemen baru. Katanya pimpinannya baru datang dari luar negeri. Akan ada pembaruan dalam kerjasama ini," kata Dicko."Kenapa kamu menanyakan ini?"
"Karena pemilik baru Mall Raya adalah bu Shella, ibu kandungku," Jawab Mala sambil menghela nafas.
"Benarkah? Bagaimana kamu bisa tahu kalau pemiliknya ibu kandungmu yang berarti adalah mertuaku?" tanya Dicko agak becanda.
"Kemarin aku dari sana dan bertemu dia. Tidak hanya itu, aku sudah berbicara dengannya. Dia terlihat masih sangat cantik," jawab Mala kemudian tersenyum.
"Aku percaya dia pasti cantik. Anaknya saja secantik ini, manis, lembut dan menawan. Sungguh membuat aku iri," kata Dicko yang membuat Mala gemes pada suaminya.
"Bicara apa sih mas, aku kok tidak kedengeran ya?" ucap Mala pura-pura.
__ADS_1