Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Salah Tingkah


__ADS_3

Setelah hasrat itu telah tersalurkan, kedua pengantin baru itu akhirnya terlelap di atas singgasana yang sangat empuk sambil berbalut selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Walau di atas sana tampak rapi, tapi jangan salah ... di lantai, pakaian yang sebelumnya melekat di tubuh mereka pun berserakan entah berantah.


Tidak dapat dipungkiri, yang awalnya Sita maupun Haris menolak dengan perjodohan ini. Dalam waktu sekejap, tarikan gairah itu saling menyambut satu sama lain.


Apalagi, untuk Sita yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan laki-laki selain berjabat tangan. Tentunya, dari keahlian Haris yang mampu menggempur pertahanan Sita, hingga menekannya ke ubun-ubun.


*****


Setelah tiga jam lamanya mereka terlelap dalam mimpi— karena terlalu lelah dengan pergulatannya. Kini Haris pun terbangun lebih dulu, kemudian turun dari tempat tidur. Ia segera pergi ke kamar mandi.


Sesaat setelah Haris masuk ke dalam kamar mandi, tangan Sita tidak sengaja meraba ke sampingnya. Sontak membuatnya membuka matanya lebar-lebar dan menoleh.


Kemana perginya Mas Haris?


Kemudian, ia mendengar suara gemercik air yang keluar dari shower di dalam kamar mandinya. Hembusan napas lega keluar begitu saja.


Ada sedikit trauma, karena Sita yang pernah ditinggalkan oleh Haris setelah malam pertama kali mereka melakukannya itu. Ia pun turun dari tempat tidur, lalu pergi ke walk in closet untuk mengambil kimono dan memakainya.


Sita memunguti satu per satu pakaian yang berserakan di lantai itu, lalu ia taruh ke dalam keranjang pakaian kotor yang ada di dalam walk in closet. Tetapi setelah itu, ia bingung. Sebab seingatnya, Haris tidak membawa koper ketika sampai beberapa jam yang lalu.


Ketika Sita hendak keluar dari walk in closet itu, pintu kamar mandi pun terbuka, dan ia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh. Tampak Haris dengan balutan handuk di pinggangnya sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil, serta tetesan air yang mengalir di dadanya yang liat dan kekar itu.


Ganteng banget sih! Ya Tuhan, aku gugup banget kalau lihat Mas Haris kayak gitu.


Kedua tangan Sita tanpa sadar merumat kedua sisi kimono yang bersilang di dadanya. Ia merapatkannya hingga kimono itu membentuk tubuhnya yang selalu ia sangka jauh dari kata sempurna, sambil mengigit bibir bawahnya. Padahal kenyataannya, very beautiful!


Haris yang melihat raut wajah Sita yang tergoda, berjalan menghampiri istrinya dengan tatapan yang penuh arti.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?" Haris melingkarkan kedua tangannya di pinggul Sita. Sontak membuat empunya terlonjak kaget dan salah tingkah. Ia bahkan tidak sadar kalau kedua tangan Haris telah dieratkan pada pinggulnya itu.


"Hm!" Napasnya seketika tertahan membuat Haris tersenyum jenaka, lalu mengerlingkan mata.


"Sejak kapan tangan Mas di sini?" Sita melirik ke pinggulnya dan Haris pun mengikuti arah pandangnya. Sementara laki-laki itu hanya mengangkat kedua bahu sambil melengkungkan bibirnya sebagai jawaban 'Tidak tahu'.

__ADS_1


Kedua tangan Sita mencoba melepaskan tangan Haris yang melingkar di sana. Ia mendelik seraya tersenyum menyeringai, sedangkan Haris hanya menanggapinya dengan sikap santai.


"Mau kemana sih?" tanya Haris sambil memutar tubuh Sita untuk berhadapan dengannya. Kedua tangan Sita pun terangkat.


"Mau ... mandi ... Mas." Sita tersenyum sambil menunjukkan gigi putih yang berbaris rapi.


Haris masih memperhatikannya. Sita yang tidak kuat di tatap Haris sangat dalam, sedikit menundukkan pandanganya.


"Apa kamu gugup, Sayang?" Pertanyaan Haris antara perhatian dan menjebak. Namun Sita masih tidak bergeming.


"Bisa gak aku mandi sekarang, udah lengket banget Mas." Sita meminta izin dengan kedua mata yang enggan untuk menatap suaminya.


Haris menarik sebelah tangannya, lalu menyentuh dagu dan mengangkatnya. Kedua pasang mata itu bertemu. Haris pun mulai memajukan wajah sedikit lebih maju dengan kedua matanya yang mulai sayu. Lebih maju lagi, hingga kedua mata Sita tertutup dengan sendirinya.


Haris mengulum bibirnya karena menahan tawa. Kemudian ....


"Segera mandi, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


Seketika kedua kelopak mata Sita terbuka lebar. Mulutnya sedikit ternganga. Ia mengira, Haris akan melakukan hal seperti beberapa jam yang lalu. Oh Tuhan, otak Sita mulai terkontaminasi!


"Mas, pakaianmu .... "


"Keep calm, kamu gak usah khawatir. Cepat mandi, aku tunggu kamu di sini!" Perintah Haris membuat Sita mengernyit.


"Kena—"


Sita mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat Haris memotong pembicaraannya lebih dulu, lalu Haris pun berkata, "Udah gampang, kamu mau mandi atau kita gak jadi jalan-jalan?"


Sita semakin terperangah. Ia benar-benar tidak percaya dengan Haris yang berkata dengan santainya.


"Baiklah." Sita membalikkan badannya lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah Sita masuk, Haris mengambil ponsel yang seingatnya ditaruh di atas meja belajar istrinya itu. Ia mulai menghubungi seseorang dari ponselnya.

__ADS_1


"Halo ... tolong bawakan pakaian ganti untuk saya sekarang!" Kemudian, Haris memutuskan sambungan teleponnya.


*****


Setengah jam berlalu, Sita keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju lemarinya. Ia membukanya, lalu mulai memilihnya.


Sementara Haris yang sudah rapi dengan setelan casual-nya, tengah duduk santai di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


Sita terperangah saat ia melihat Haris berpakaian yang sangat berbeda. Terlihat lebih tampan tiga kali lipat, sejak awal keduanya bertemu.


Haris pun menoleh ke arah Sita yang masih mematung di ambang penyekat ruangan itu. Ia menaikkan sebelah alisnya dan Sita pun tersadar.


"Ada yang salah dengan pakaianku?" tanya Haris seraya berdiri dan sedikit memutar badannya.


"Eng-nggak kok, very nice! ya." Sita tersenyum lalu berjalan menghampiri Haris.


"Wait ... penampilan kamu mulai berubah ya sekarang?" Haris memicingkan matanya dengan hati yang terkagum-kagum melihat Sita yang terlihat lebih cantik saat ini.


"Ya, ini semua karena kamu." Sita menjawab dengan cepat dan malah berjalan ke arah pintu. Haris pun mengernyit.


"Because of me? Why?" Haris merentangkan kedua tangannya— belum menyadari maksud Sita.


"Nanti juga kamu akan tau sendiri kok!" ujar Sita seraya membuka pintu kamarnya. Haris mulai melangkahkan kakinya.


"Apa kamu mulai mencintaiku?" Pertanyaan Haris membuat lidah Sita seketika tercekat.


Ci-cinta? benarkah aku mulai mencintainya?


"Kenapa kamu terdiam? Aku akan sangat bahagia kalau kamu memang benar telah mencintaiku," timpal Haris yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang lalu memeluk dan memberi kecupan di tengkuk leher istrinya.


Seketika, Sita melepaskan gagang pintu dengan memberi sedikit dorongan yang kemudian ... pintu itu tertutup kembali.


"Apa Mas juga merasakan hal yang sama denganku?" Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Sita justru bertanya balik. Ia sendiri belum paham tentang perasaannya. Hati yang berdesir ketika dekat Haris, apalagi ketika sedang ber.cin.ta.

__ADS_1


Apa benar dia telah jatuh cinta pada suaminya itu? Sungguh sulit di pahami, pernikahan keduanya pun baru berjalan beberapa hari. Apa bisa cinta datang secepat itu?


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2