Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Bara dan siska


__ADS_3

Siang itu Bara duduk di kantin kantornya sambil melamun. Makanan didepannya sama sekali belum dia sentuh. Hatinya sedih karena teringat pada Mala yang harus menanggung beban akibat kecelakaan yang terjadi pada Andra. Meskipun Bara ingin membantu, tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa membantu dengan doa.


"Selamat siang pak, boleh duduk di sini?" tanya seorang wanita yang tidak Bara kenal.


"Boleh saja. Tapi bukannya disana masih ada tempat kosong," kata Bara sambil menunjuk beberapa kursi yang masih kosong.


"Tahu, tapi saya lihat bapak lagi makan sambil melamun sendirian jadi saya pikir bapak pasti butuh teman," kata Wanita itu sambil duduk dihadapan Bara.


"Kamu karyawan sini juga? Tapi aku kok nggak pernah lihat kamu?" tanya Bara.


"Perkenalkan, namaku Siska. Anak magang baru hari ini," ucap Siska Sambil mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


Bara menyambut uluran tangan Siska dan memperkenalkan diri juga.


" Bara..."


"Kok makanannya belum disentuh sama sekali sih pak? Apa nggak enak?" tanya Siska sambil makan.


"Enak kok, tapi tadi emang kebanyakan ngelamun jadi belum nyendok sama sekali."


"Makanya saya temani, biar pak Bara jadi ketularan nafsu maka saya. Kalau soal makan, saya jagonya pak Bara."


"Benarkah?!" tanya Bara.


Siska, anak magang baru itu memiliki kemiripan dengan Mala. Orangnya apa adanya dan banyak omong meski belum kenal lama. Bara tersenyum melihat tingkah Siska seolah melihat Mala didepannya. Wajahnya juga cukup cantik walaupun bagi Bara tentu lebih cantik Mala.


Siska sesekali melirik wajah Bara yang terlihat dewasa dan tampan. Apalagi saat Bara tersenyum, Siska semakin terpikat dengannya.


******


Siska sudah terpikat oleh ketampanan Bara. Dia tidak bisa lepas dari pesona Bara sehingga dia berusaha dengan berbagai cara untuk bisa mendekati pria yang terkenal dingin dengan wanita itu. Bara selalu bersikap dingin dengan semua wanita-wanita yang ada di sekelilingnya kecuali Mala.


Sepulang kerja, Siska melihat Bara berjalan seorang diri hendak ketempat parkir. Siska berlari berusaha untuk mengejarnya.


Buukkk.


Terdengar suara orang terjatuh. Bara menghentikan langkahnya dan berbalik badan untuk melihat apa yang terjadi. Bara terkejut saat melihat Siska yang jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


Tiba-tiba, Siska berubah dan terlihat seperti Mala. Bara bergegas mendekati Mala dan membantunya berjalan kearah sebuah bangku kecil di pinggir tempat parkir. Bara tampak begitu khawatir dengan kondisi Mala.


"Mala, apakah kakimu sangat sakit? Aku akan mengantarmu ke dokter."


"Mala, siapa itu Mala?!" tanya Siska kaget sepertinya Bara salah orang.


Bara tersentak kaget. Dengan cepat dia melepaskan tangannya yang sejak tadi memegangi kaki Siska. Rupanya Bara melihat Mala dalam diri Siska.


"Maaf, aku salah bicara. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, Siska," kata Bara gugup.


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Hanya istirahat sebentar pasti nanti sudah bisa baikan," jawab Siska agak kecewa.


"Sekarang, aku antar kamu. Jangan menolak," kata Bara merasa bersalah telah salah memanggil Siska dengan Mala.


Bara segera menggendong Siska tanpa perlawanan. Wajah Siska berubah merah karena malu, dan hatinya yang tadinya kesal berubah luluh kembali. Siska tampak tersenyum bahagia dalam gendongan Bara yang tidak peduli dengan teman-temannya yang sejak tadi memperhatikannya.


Bara membawa Siska ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Sampai di rumah sakit, Siska segera diperiksa dokter. Kata dokter hanya otot ketarik aja dan hanya perlu istirahat beberapa hari akan segera sembuh.


"Benar kan aku nggak apa-apa," kata Siska malu.


"Memang aku mau kemana? Kaki sakit begini."


Perkataan Siska membuat Bara tersenyum dan Siska membalas senyum Bara dengan senyum pula.


Hubungan Bara dan Siska makin hari semakin dekat. Bahkan Siska dengan berani menyatakan Cinta pada Bara saat mereka pergi makan di sebuah rumah makan.


"Mas Bara, aku tidak bisa membohongi perasaan aku lagi. Sejak pertama aku mengenalmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Walupun mungkin bagimu ini tabu, akan tetapi aku memberanikan diri untuk maju demi cinta," kata Siska setelah selesai makan.


Pernyataan cinta Siska membuat Bara bingung. Bara masih belum bisa melupakan Mala, tapi mungkin ini cara satu-satunya agar dia bisa melupakan cintanya pada Mala. Dengan bersama wanita lain yang mencintainya.


"Siska..."


"Tunggu, mas Bara tidak perlu menjawab pernyataan cintaku. Aku hanya ingin mengatakannya saja agar hatiku lega. Anggap saja mas Bara tidak mendengarnya," kata Siska takut ditolak Bara.


Siska tidak memberi kesempatan Bara untuk berbicara apalagi menolaknya. Lebih baik mengalihkan ke topik lain.


"Mas Bara kapan mulai bekerja di perusahaan itu?" tanya Siska.

__ADS_1


Kenapa Siska mengalihkan pembicaraan ? batin Bara.


"Belum lama, belum ada satu tahun. Kenapa?" tanya Bara penasaran.


"Nggak sih, hanya sekedar ingin tahu saja."


"Siska, bersediakah kamu menjadi pacarku?!"


Siska terkejut dengan pertanyaan Bara. Apa dia tidak salah dengar?


"Apa?!" tanya Siska.


"Bersediakah kamu menjadi pacarku?" ulang Bara.


"Mau, aku bersedia," jawab Siska senang karena dia tidak menyangka Bara akan menerima cintanya.


Siska berdiri dan dengan berani dia mencium pipi Bara lalu kembali duduk dengan kepala tertunduk karena malu.


Bara tersenyum melihat Siska begitu bahagia bisa bersama dengannya. Matanya berkaca-kaca mengingat Mala yang selama ini tak pernah sedikitpun memiliki perasaan cinta padanya.


Mala, semoga aku bisa melupakanmu dan memulai hidupku yang baru. Aku memang sudah tidak ada harapan meraih cintamu. Jika kini ada cinta yang datang menghampiriku, aku akan menyambutnya.


Bersambung...


###############


Sambil menunggu up selanjutnya, author rekomendasikan novel yang bagus untukmu. Karya dari teman aku ,Judul : Kembali Cantik Si Gadis Cacat


Napen : Emy


Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat sebagian wajahnya terluka.


Semenjak saat itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semya orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.


Namun diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice. Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya? Apakah pria itu akan menampakkan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?


__ADS_1


__ADS_2