
Haris semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Sita.
"Mas, lepasin!" gertak Sita dengan kedua tangannya yang berusaha melepaskan tangan Haris. "Kita harus bicara, tapi biarkan aku berada di posisi yang nyaman. Gak kayak gini!" sambungnya yang mulai panik apalagi pas Haris menegakkan tubuhnya yang membuat jarak wajah keduanya hanya tinggal beberapa centi saja.
"Apa aku bisa pastiin kalau aku lepas, kamu bakal tetap tenang?" sindir Haris yang sudah bisa menebak sikap Sita yang saat ini mulai sukar untuk dikendalikan. Tatapannya pun tajam dan dalam.
Sita menghentikan pergerakannya lalu menundukkan pandangannya sembari menghela napas dalam-dalam. Haris masih terus memperhatikannya dengan salah satu sudut bibir yang terangkat.
"Apa yang membuatmu tadi siang datang kemari? Kan udah aku bilang, jangan ke sini sebelum aku yang mengajakmu! Kenapa kamu melakukannya sendiri? Aku khawatir sama kamu Sita!" desak Haris yang mencecar Sita dengan beberapa pertanyaan. Sementara Sita masih bungkam dengan pandangannya yang menunduk.
Sita mengangkat wajahnya seketika, "Khawatir? Kemana kamu saat aku butuh? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang dan membiarkan kakakmu itu yang muncul di hadapanku? Kenapa Haris!" Ia balik mencecar Haris. Kini tatapannya berani, walau bola matanya mulai memerah, Sita terus memandang kedua manik mata suaminya itu dengan lekat.
Haris langsung menurunkan Sita dari pangkuannya lalu berdiri memunggungi istrinya yang masih duduk di sofa dengan dengan pandangan yang tak lepas darinya. Ia sedang mencoba mencari kata pembuka untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Sita.
Perempuan berona teduh itu menunggu Haris untuk memberinya sebuah jawaban dari bibir tipis itu. Bibir yang sejak awal menyentuhnya malah menjadi sebuah candu untuknya.
"Sebenarnya, setelah makan siang itu aku mau bilang sama kamu. Kalau aku mencintaimu." Haris perlahan membalikkan tubuhnya, detak jantung Sita seketika berhenti sejenak setelah mendengar pernyataan darinya. Kini mereka saling bertatapan kembali.
"Aku mendapat telepon dari sekretarisku, karena di sana sedikit mengalami kegagalan dalam panen bulan ini."
"Panen?" Sita sedikit memiringkan kepalanya. Haris pun mengangguk.
"Aku memiliki salah satu perusahaan kilang anggur dan juga produksi coklat di Adelaide, negara di Australia bagian selatan. Walaupun masih dibilang baru merintis, tapi aku sangat menyukai kota itu."
__ADS_1
Kini amarah Sita berangsur mereda. Punggungnya pun ia sandarkan di sandaran sofa itu. Dengan cahaya yang masih temaram, Sita masih bisa menatap wajah suaminya cukup jelas.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal? kenapa kamu membiarkan aku menerkanya sendiri?" Sita meremang bahkan kedua matanya mulai berkabut.
"Aku sengaja mematikan ponsel karena tadi mau masuk ke dalam pesawat. Tetapi, salah satu orang kepercayaan ku datang ke bandara. Dia bilang kalau kamu baru aja dari apartment ku. Selain itu dia juga bilang kalau kamu panik dan kelihatan ada masalah. Saat itu juga aku langsung membatalkan penerbanganku ke sana. Aku khawatir banget sama kamu." Haris bertekuk lutut sambil menyamaratakan wajahnya dengan wajah istrinya.
Sita masih tak bergeming dengan raut wajahnya yang datar. Ia masih menanti Haris menjelaskan semua hal yang dianggapnya semu selama ini.
"Apa kamu tau keberadaan kedua orang tuaku sekarang?" tanya Sita tiba-tiba, nada bicaranya terdengar dingin di telinga Haris. Bukan hanya itu, pandangannya pun teralihkan ke arah lain.
Kini giliran Haris yang terdiam sambil menghembuskan napas kasar lalu berkata, "Aku ingin membicarakan hal ini kepadamu."
Sontak membuat Sita menoleh kembali kepadanya. "Apa? aku siap mendengarkannya."
"Perempuan yang dianggap istrinya? bukankah mereka memang udah nikah?" tanya Sita kembali yang semakin penasaran. Haris masih terdiam, ia menyimpan pertanyaan Sita untuk dijawab bersamaan. Haris pun mengambil sebuah map dari dalam sana lalu membawanya ke hadapan Sita.
"Kenapa ada map itu? tadi waktu aku ke sini .... " Sita tidak menyelesaikan kalimatnya karena melihat Haris mengangkat kedua bahunya lalu duduk di sebelahnya.
"Aku baru mendapatkannya dari orang kepercayaanku. Sebenarnya bukan orang kepercayaan yang seperti dimiliki para mafia untuk memata-matai, melainkan dia itu sahabatku sejak SMA dulu. Dia sangat baik, dia gak kerja sama aku. Tapi, selama dia melihat dan mesti disampaikan kepadaku, ya disampaikan." Haris mendesah pelan sambil menggelengkan setelah menceritakan tentang orang yang ia anggap sahabatnya itu. Kemudian ia pun membuka isi map yang ada di tangannya.
Sita mengernyit saat Haris mengeluarkan sebuah kepingan DVD ber-cover polos itu.
__ADS_1
"Apa itu isi yang ada didalam sana?" tanya Sita yang belum bisa menebaknya.
"Ayok kita liat sama-sama." Haris mendekat ke arah layar datar berukuran lima puluh inci serta sebuah DVD player berukuran panjang dan tipis itu. Ia mulai mengoperasikannya. Dalam beberapa menit, layar itu menyala yang mulai menampilkan isi dari DVD tersebut.
Foto yang pertama muncul dalam video itu adalah Sulthan. Sita menatap Haris dengan arti tatapan yang menuntut penjelasan. Haris yang mengerti pun mencoba menjelaskannya.
"Seperti yang kamu tau, dia adalah kakakku. Kami beda ibu dan satu ayah. Ibunya dan ayah kami meninggal karena sebuah kecelakaan nahas saat itu. Sehingga kami hanya melihatnya sekadar dari balik kaca ruang jenazah, karena tubuh mereka benar-benar hancur." Haris merinding saat mengingat kejadian itu lagi, terlebih Sita yang ikut meringis.
"Kak Sulthan tinggal di sebuah kota besar di negara Australia bagian Barat, yang terletak di bagian paling ujung dekat pantai. Namanya kota Darwin. Di sana, dia tidak pernah mengenal kata libur kalau udah dihadapkan dengan pekerjaannya." Haris mendekatkan wajahnya sehingga pandangan keduanya kembali terkunci, sedangkan jari tangannya menekan tombol next yang membuat layar berganti. Sita menyadari itu langsung menoleh ke layar tersebut.
"Perempuan itu siapa?" tanya Sita yang membuat Haris ikut menoleh ke sana.
"Namanya Rima Marcheliend Aycel, dia adalah cinta pertama kak Sulthan. Sampai saat ini, dia masih belum bisa tergantikan oleh siapapun di hati kak Sulthan."
"Bukannya—"
"Kak Rima sebenarnya telah tiada." Haris memotong ucapan Sita dengan segera. Sebab ia tahu yang akan di tanyakan oleh istrinya itu. Sita pun terperangah dan seolah tidak percaya.
"Ke-kenapa?" tanya Sita dengan lirih.
"Kak Rima memiliki sakit kanker stadium akhir sebulan sebelum hari pernikahannya dengan calon suaminya." Haris memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Calon suaminya? apa bukan kak Sulthan?" Sita semakin terperangah. Haris pun menggeleng lemah. Ia menarik napasnya dalam-dalam.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...