
Andra sama sekali tidak marah ataupun membenci Mala karena meminta uang satu milyar kepada ibunya. Karena dia tahu, Mala hanya ingin membuat ibunya marah. Andra sangat memahami sifat Mala, bahkan Mala sendiripun belum tentu bisa memahami dirinya sendiri.
"Andra, kenapa kamu malah tertawa. Dia sungguh wanita yang tidak masuk akal dan tidak tahu malu," kata Bu Bella.
"Memangnya ibu memberi Mala uang?!" tanya Andra.
"Ya tidaklah. Gila apa. Uang sebanyak itu untuk dia. Mending untuk ibu jalan-jalan."
"Kalau begitu, jangan berharap dia menjauhi aku," kata Andra membuat ibunya kesal.
"Andra, ibu ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata ibunya sambil mengeluarkan beberapa lembar foto dari tas mewahnya.
"Apa ini?!" tanya Andra kaget.
"Lihat saja sendiri. Itu Mala dan mantan suaminya beserta anak dan ibunya. Mereka terlihat sangat mesra. Pasti mereka sebentar lagi akan rujuk," ucap ibunya berusaha membuat Andra menyerah mengejar Mala.
Andra tertegun melihat lembar demi lembar foto keluarga lengkap Mala. Andra tidak bisa berpikir jernih lagi, pikirannya mulai kacau.
"Andra, berhentilah. Kamu masih muda, Masa mudamu masih panjang. Jangan kamu sia-siakan," nasehat sang ibu.
Andra hanya terdiam mendengar nasehat ibunya. Mungkin dia memang belum pantas untuk Mala. Dibandingkan dengan mantan suaminya, tentu dia jauh tertinggal. Tiba-tiba muncul keinginannya untuk bekerja keras demi bisa meminang Mala.
"Ibu, Andra mengerti. Mulai besok Andra akan menerima tawaran ayah untuk bekerja di perusahaan keluarga kita," kata Andra penuh semangat.
"Andra syukurlah nak, kamu mengerti nasehat ibu," ucap ibunya senang. "Ibu akan bicarakan segera dengan ayahmu. Dia pasti akan sangat senang sekali mendengarnya."
Jika ibu tahu tujuan Andra bekerja untuk meminang Mala, dia pasti akan sangat marah sekali. Biarlah ini menjadi rahasia hatinya.
***
Andra tidak dapat menahan diri untuk tidak menemui Mala. Dia menunggu Mala pulang kerja untuk mengajaknya bicara.
"Andra, sedang apa disini?!" tanya Mala kaget.
"Tentu saja menunggumu, siapa lagi?!" jawab Andra.
__ADS_1
"Kelihatannya ada hal penting yang ingin kamu katakan padaku," kata Mala sambil duduk di kursi dekat cafe diikuti Andra.
"Aku ingin menagih janji kamu saat wisudaku dulu."
"Oh kau sudah memikirkannya?!" tanya Mala. "Katakan semoga aku bisa mewujudkannya."
Andra terdiam sesaat untuk menata hatinya. Seharusnya dia tidak boleh impulsif, tapi hatinya sedang kacau saat ini.
"Aku mohon, jangan rujuk kembali dengan mantan suamimu," ucap Andra dengan nada bergetar.
Mala sungguh sangat kaget dengan permintaan Andra. Permintaan yang tidak pernah Mala bayangkan akan terucap dari mulut Andra.
"Aku..."
"Ingat Mala, kamu sudah berjanji padaku untuk mewujudkannya."
"Andra..."
"Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Aku harus pergi, maaf aku tidak bisa mengantarmu," kata Andra lesu.
***
Gala tidak ingin kembali ke kampung. Hal ini membuat neneknya bingung. Ibu Sri mendatangi tempat kos Mala untuk membicarakan masalah Gala.
"Mala, ibu rasa kamu harus mengalah untuk Gala," kata sang ibu.
"Maksud ibu apa?" tanya Mala tidak paham omongan ibunya.
"Rujuklah dengan Dicko. Dengan begitu, kalian sekeluarga bisa hidup bersama di satu rumah. Mungkin itu yang Gala inginkan saat ini. Ayah dan ibunya bersatu kembali."
Mala terdiam mendengar perkataan ibunya. Mala menjadi dilema dan bingung. Padahal kemarin Andra datang dan memintanya untuk tidak rujuk dengan Dicko. Sekarang ibunya memintanya rujuk dengan Dicko.
"Ibu, berilah Mala waktu untuk berpikir," kata Mala sambil menghela nafas.
"Apa yang perlu dipikirkan lagi, mereka itu anak dan suamimu. Bukankah dulu kamu begitu gigih memperjuangkan cintanya? Kenapa sekarang kamu terlihat tak acuh padanya."
__ADS_1
"Mala sedang bingung bu. Entah kenapa Mala merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Yang Mala cintai adalah Gama bukan Dicko. Meski mereka orang yang sama tapi mereka berbeda," kata Mala bingung.
Ibu Sri jadi ikut bingung juga. Dan mungkin saja Mala sudah mencintai orang lain.
"Mala, apa kamu disini ada orang yang kamu sukai?" tanya ibunya serius.
"Tidak, tidak ada bu. Mana mungkin, Mala secepat itu bisa menyukai orang lain. Disini Mala hanya berteman dengan beberapa orang saja itupun hanya teman biasa."
"Baiklah, tolong pikirkan dengan baik perkataan ibu. Ibu pergi dulu."
"Hati-hati di jalan Bu. Dan jangan lupa selalu minum obatnya tepat waktu."
Mala menatap kepergian ibunya dengan tatapan sedih. Sedih tidak bisa langsung berkata 'ya' pada ibunya. Tapi memang semua harus dipikirkan dengan baik karena ini menyangkut hidup Mala kedepannya.
Dua hari kemudian, Mala mendengar kabar bahwa Gala sedang sakit. Mala sangat khawatir dengan keadaan Gala. Dia menjaga Gala siang dan malam dan dia tidak peduli biarpun dia harus menginap di rumah Dicko.
Setelah beberapa hari Mala menginap di rumah Dicko, Dicko mulai merasa nyaman hidup bersama Mala dan Gala. Dicko memberanikan diri untuk meminta rujuk dengan Mala.
"Mala, aku bisakah kita rujuk kembali? Demi anak kita, Gala." kata Dicko agak gugup.
"Maaf, tapi aku belum bisa memutuskan sekarang. Aku masih belum yakin," jawab Mala.
"Baik, aku tidak akan memaksamu. Aku bersedia menunggu sampai kamu siap menerima aku yang sekarang," ucap Dicko agak sedih karena Mala ternyata masih belum bisa menerima dirinya sebagai Dicko.
Gala sangat senang karena ibu dan ayahnya bisa menemaninya beberapa hari ini.Gala akhirnya mengucapkan satu kata yang membuatnya tak bisa memilih
"Ibu, Gala mau ayah dan ibu."
Perkataan yang memang hanya satu kalimat tapi Mala sadar apa keinginan Gala dalam hatinya. Sampai akhirnya Mala memutuskan untuk bersedia rujuk kembali dengan Dicko.
Keputusan Mala disambut baik ibu dan Dicko. Senyuman bahagia terpancar dari orang-orang di sekitarnya. Namun berbeda dengan Mala. Meski memutuskan untuk rujuk kembali, hatinya masih diliputi keraguan. Hal itu membuat Mala tak bisa lagi merasakan kebahagian orang-orang terdekatnya. Dadanya terasa sesak dan dia tidak tahu harus bahagia atau sedih.
Ketika malam tiba, Mala mulai insomnia. Mala merasakan tekanan mental dan tekanan batin yang hebat. Dia tidak bisa bercerita pada siapapun selain mengadu pada Allah Swt. Didalam setiap doanya, dia berharap akan ditemukan jalan untuknya. Jika memang takdirnya bersamanya, Mala ingin diberikan rasa ikhlas yang tulus tanpa beban.
Mala merenung dalam doa hingga pagi menjelang.
__ADS_1