
Wanita itu berjalan pelan-pelan menuju belakang bangku. Mala dan Dicko hanya tersenyum melihat tingkah baby sitter dan anak majikannya yang seperti sedang bermain petak umpet.
"Dodi..."
Wanita itu dengan cepat memegang tangan Dodi yang kaget mbak Tari bisa dengan mudah menemukannya.
"Mbak Tari..."
"Sudah Dodi, diam. Jangan berteriak, nanti aku dikira penculik?!" kata mbak Tari kesal.
"Biarin," ucap Dodi kesal.
"Kalau kamu kesal sama papa mamamu, jangan lampiaskan padaku dong. Protes langsung sama orangtuamu. Mbak capek harus terus kejar-kejaran sama kamu," kata mbak Tari sambil menghela nafas.
"Nama kamu Dodi ya? Tante juga memiliki anak yang hampir seusia kamu. Kapan-kapan kenalan sama anak tante, mau?" tanya Mala sambil mengelus rambut Dodi.
"Dodi boleh ikut tante?" tanya Dodi merajuk.
"Ikut tante? sekarang?" tanya Mala kaget.
Mala melihat ke arah mbak Tari yang semakin kesal melihat tingkah Dodi.
"Nggak boleh, kita pulang saja. Oke?" kata mbak Tari.
"Nggak mau. Aku mau ikut tante. Boleh ya tante?" rengek Dodi.
"Mereka punya urusan sendiri. Jangan ganggu mereka," kata mbak Tari lebih keras.
"Sudah-sudah mbak Tari. Dodi boleh kok ikut kita, ya kan mas? Tapi tunggu mobil kita datang ya? masih dalam perjalanan," kata Mala sambil melihat kearah Dicko yang heran melihat Mala begitu perhatian dengan anak orang lain.
"Boleh ya mbak Tari, boleh ya boleh ya," ucap Dodi manja.
"Baiklah. Tapi jangan buat masalah lagi," kata mbak Tari sambil tersenyum pada Dodi.
Kelihatannya meskipun mbak Tari keras pada Dodi, tapi dia sangat menyayangi anak majikannya itu.
"Nah, mbak Tarinya udah setuju. Jadi Dodi jangan ngambek lagi. Ayo senyum...," kata Mala sambil mencubit pipi Dodi pelan.
__ADS_1
Tidak berapa lama, pak Sapto telah datang untuk menjemput Mala dan Dicko. Mereka bergegas menuju mobil diikuti Dodi dan baby sitter-nya.
"Tante duduk di belakang sama Dodi ya?" kata Mala sambil meraih tangan Dodi.
Dicko duduk di samping pak Sapto, sedangkan Mala, Dodi dan mbak Tari duduk dibelakang.
"Pergi ke sekolah Gala, pak Sapto," perintah Dicko.
"Baik pak."
Mobil melaju menuju sekolah Gala yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat itu. Mereka menunggu hingga Sekolah Gala selesai. Mala turun dari mobil ketika melihat Gala berlari mendekat. Gala langsung memeluk ibunya dengan erat.
"Ibu, dedek kok belum lahir sih. Temen-temen Gala ada yang udah punya dedek. Katanya lucu kayak boneka," kata Gala merajuk.
"Iyakah, teman kamu bilang begitu? Tapi kali ini ibu bawa dedek yang udah bisa lari. Dodi, tunjukan pesonamu," kata Mala sambil tersenyum.
"Kakak, perkenalkan. Namaku Dodi. Aku mau jadi adik kakak. Kakak namanya siapa?" tanya Dodi sambil mengulurkan tangan.
Gala melihat kearah ibunya, dan Mala memberinya isyarat dengan mengangguk pelan. Gala pun menyambut tangan Dodi.
"Gala. Kamu udah sekolah?" tanya Gala mengakrabkan diri.
"Disekolah juga banyak permainan. Dan banyak teman teman juga," kata Gala pamer.
"Kalau begitu, nanti aku minta sama mama untuk bisa masuk sekolah. Sekolah sama kakak Gala ya?" kata Dodi manja.
"Iya boleh. Nanti kalau ada yang jahat sama kamu, bilang saja padaku," ucap Gala sombong.
Percakapan mereka terhenti ketika mbak Sri menerima telepon dari majikannya. Dan memintanya pulang.
"Maaf ya mbak, mas. Kami harus pulang karena orangtuanya sudah khawatir karena kami kelamaan perginya," kata mbak Tari.
"Baiklah, kami akan mengantar kalian dulu baru kami pulang," kata Mala.
Mereka bergegas masuk kedalam mobil untuk mengantar Dodi pulang. Tak berapa lama, sampailah disebuah rumah yang sangat besar. Mala mengamati rumah itu sambil tersenyum lalu melihat Dodi dan mbak Tari yang bergerak keluar dari mobil.
"Terimakasih sudah mengantar kami," ucap mbak Tari.
__ADS_1
Mbak Tari dan Dodi bergegas masuk kedalam rumah besar itu. Sementara Mala dan keluarga juga segera melanjutkan perjalanan pulang.
"Gala senangkan dapat adek dah besar gitu? Bisa diajak main juga," kata Mala menggoda Gala.
"Hmmm. Seneng sih. Tapi, Gala maunya dedek Gala yang kayak boneka kecil bisa tertawa juga bisa menangis," kata Gala yang ikuti tawa ayahnya dan pak Sapto.
"Kalau dedek Gala yang itu, masih lama. Dedek masih butuh makan dan minum didalam perut ibu Sampai bisa menangis, baru bisa lahir ke dunia," kata Mala menjelaskan walau mungkin tidak terlalu jelas buat anak sekecil Gala.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara Bara yang merasa bersalah pada Siska, berusaha mencari waktu yang tepat untuk membicarakan kejadian malam itu. Namun waktu yang dinanti tidak juga dia temui, karena Siska sengaja menjaga jarak dari Bara. Padahal rencana pernikahan tinggal satu bulan lagi.
Bara semakin bingung dengan sikap Siska. Semua memang harus dijelaskan sebelum keadaan canggung ini semakin membuat jarak antara mereka.
Ketika waktu makan siang, Siska beranjak pergi ke kamar mandi. Bara dengan sabar menunggu Siska keluar dari kamar mandi untuk menemuinya. Karena Bara sudah tidak ada cara lain lagi untuk bisa bertemu berdua dengan Siska.
Siska keluar dengan santai dan tidak menyadari jika Bara sudah mengawasinya sejak tadi. Bara bergerak cepat menarik tangan Siska dan menyandarkannya ke dinding. Mirip dengan adegan di drama Korea. Adegan paling romantis yang menjadi andalan pemeran utama pria untuk menaklukkan wanita pujaannya.
"Bara, apa-apaan ini. Jangan bikin masalah," kata Siska kesal.
"Siapa bilang aku bikin masalah, bukankah adegan seperti ini yang kalian para wanita suka?" kata Bara sambil tersenyum.
"Bara, jangan becanda. Katakan, apa sebenarnya yang kamu mau?" tanya Siska.
"Nah gitu dong. Kita makan siang bersama. Bagaimana?" tanya Bara.
"Baik, lagi pula ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," kata Siska sedih.
Bara penasaran apa yang ingin Siska katakan padanya, akan tetapi Bara menahannya. Bara mengajak Siska makan disebuah rumah makan yang sering mereka kunjungi bersama. Bara ingin meminta maaf pada Siska dan ingin memulai dari awal lagi.
Bara memperlakukan Siska bak seorang ratu. Mempersilahkan duduk dan memesankan makanan kesukaan Siska. Bara ingin membuat Siska senang.
Namun Siska tidak menampakkan bahwa dia sedang bahagia. Justru dia malah tampak sedih. Bara mulai menyadari jika ada yang salah dengan Siska.
"Siska, kamu kenapa? Apakah karena kejadian malam itu, kamu marah padaku? Tapi sungguh, malam itu aku sedang mabuk dan aku tidak ingat apapun. Jadi maafkanlah aku," kata Bara dengan nada menyesal.
Mendengar permintaan maaf dari Bara, malah membuat Siska bertambah kecewa. Bagaimana tidak, Bara sudah mengambil miliknya yang paling berharga dan dia hanya berkata 'maaf'. Bukan kata itu yang ingin Siska dengar dari Bara.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Bersambung ya...