
Berita batalnya pernikahan Mala dan Dicko Sampai ke telinga Bara. Bagaimanpun juga, Bara merasa bersalah pernah menyebabkan perceraian mereka, merasa hal itu seharusnya tidak terjadi.
Walaupun untuk membalas budi atau membalas pengorbanan Andra dan rasa tanggung jawab, tidak seharusnya Mala mengorbankan kebahagiaan dan masa depannya.
Bara akhirnya berniat menemui Mala di tempat kerjanya. Tak di sangka hari ini adalah hari terakhir Mala bekerja di cafe milik Bagas.
"Mala, jangan lupakan kami. Jika suatu saat kamu butuh pekerjaan ini lagi kamu bisa cari bos," kata Mei yang sudah melebihi wewenang bos.
"Tentu, aku tidak akan melupakan kalian semua. Oh ya Mei, apakah kamu dan bos berpacaran?" tanya Mala sambil tersenyum.
"Mala, apa sungguh kelihatan?" tanya Mei malu.
"Nggak juga. Tapi, dari lagak kamu yang seperti bos, nggak bisa di sembunyikan lagi kalau kalian bersama," kata Mala menggoda.
"Jadi malu. Oh ya Mala, nggak nyangka ya, Andra sangat mencintai kamu. Rela mengorbankan hidupnya untuk kamu. Terus bagaimana keadaannya sekarang?"
"Tidak terlalu baik. Masih harus banyak perawatan dan latihan. Kakinya, diperkirakan dia tidak bisa berjalan untuk waktu yang cukup lama."
"Turut sedih, karena kamu harus ikut bertanggungjawab atas sakitnya Andra. Tapi kebangetan banget orangtua Andra, sampai kamu harus melepaskan kebahagiaan kamu bersama Dicko."
"Mungkin sudah takdirku Mei. Harus bisa terima aja. Siapa tahu aku juga bisa menemukan kebahagiaan diantara kesedihan ini. Doakan aku kuat ya Mei?" pinta Mala.
"Tentu aku doakan kamu Mala. Semoga kamu kuat dan menemukan kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan. Semoga pengorbanan kamu ini ada hikmahnya."
Saat Mei dan Mala sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Bara dan Bagas mendekati mereka.
"Mei, ayok kedepan, banyak pelanggan yang minta segera dilayani," ajak Bagas sambil menarik tangan Mei.
Mei pun tidak marah karena dia mengerti arah tujuan Bagas membawanya pergi. Memberi kesempatan kepada Mala dan Bara untuk berbicara. Setelah Bagas dan Mei pergi, Bara mulai berbicara pada Mala tentang masalah Dicko dan Mala.
__ADS_1
"Mala..."
"Apakah kamu juga hendak menasehati aku?"
"Iya, jika kau mau mendengarkan aku."
"Bara, kamu tahu aku seperti apa. Kebaikan sekecil apapun akan aku balas. Apalagi ini berhubungan dengan nyawa," kata Mala sedih karena teringat kejadian hari kecelakaan itu terjadi.
"Bukan karena kamu jatuh cinta padanya kan?"
"Mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Dengan status aku, tidak mungkin aku membiarkan diriku memiliki masalah dengan keluarganya yang selalu menentang Andra."
"Kamu jangan sampai jatuh cinta padanya, melihat ibunya selalu mencari masalah denganmu, bukan hal yang baik," kata Bara mengkhawatirkan Mala.
"Terimakasih atas perhatianmu Bara. Aku hanya akan menjalankan kewajiban aku merawat Andra dan tidak lebih dari itu. Aku akan fokus dengan kesembuhannya sesuai janjiku pada ibunya Andra."
"Menurutmu, apakah kamu tidak curiga dengan kecelakaan yang terjadi hari itu? Aku curiga ada yang berniat jahat padamu."
"Ya udah. Tetaplah semangat dan ingat, aku akan selalu ada untuk kamu," kata Bara memberi semangat Mala.
"Bara, usia kamu sudah saatnya berumah tangga seperti harapan orangtuamu. Carilah wanita yang bisa membuatmu bahagia lalu menikahlah," kata Mala penuh harap.
"Mala, apa yang kamu katakan. Kamu tahu siapa yang aku cintai, jadi berhenti memintaku untuk mencintai wanita lain," ucap Bara kesal.
"Maafkan aku Bara, aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Hidup berkeluarga dan memiliki anak. Jika kamu bahagia, pasti aku juga turut bahagia."
"Mala, aku ini laki-laki. Menikah diusia berapapun bukan masalah besar. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, pikirkanlah masalahmu sendiri yang tiada habisnya itu."
Mala tersenyum mendengar perkataan Bara. Hidup Mala memang tidak bisa berjalan seperti yang dia mau. Banyak yang berkelok-kelok dan jalanan yang terjal yang harus dia lalui untuk bisa mencapai kata bahagia.
__ADS_1
***
Wina yang mengetahui kecelakaan yang menimpa Andra, berusaha datang setiap hari untuk menjenguk Andra dan mendekati orangtua Andra untuk bisa mendapatkan simpati dari mereka. Namun saat dia mendengar Andra kehilangan sebagian ingatannya dan bahkan sekarang hidup seperti orang lain, dia sangat kesal.
Dia tidak pernah menyangka, Andra bisa seolah berubah menjadi orang lain dan hidup dalam dunia khayalannya sendiri. Ternyata didalam hati Andra hanya ada Mala walaupun kali ini berbeda karena dia menganggap Mala sebagai mantan istrinya.
Wina juga marah karena usahanya menjauhkan Andra dari Mala gagal total. Mereka sekarang malah memiliki kesempatan untuk lebih dekat satu sama lain. Namun dia juga tak ingin berhenti berusaha.
Ketika bu Bella sendirian menjaga Andra di rumah sakit, Wina berusaha mempengaruhi bu Bella mengubah keinginan mereka untuk meminta Mala merawat Andra hingga sembuh.
"Tante, Wina bisa merawat Andra dengan baik jika Tante mengizinkannya," kata Wina menawarkan diri.
"Wina, Tante sudah meminta Mala untuk merawat Andra. Tante tidak ingin merepotkan kamu. Kamu masih harus kuliah, kamu tidak akan bisa membagi waktu jika merawat Andra," jawab bu Bella sambil tersenyum.
"Saya tidak akan merasa direpotkan, saya dan Andra sudah lama berteman dan tante juga tahu saya sangat mencintai Andra," kata Wina tidak ingin ditolak.
"Tante tahu kamu sangat mencintai Andra dan berharap bisa merawatnya. Tante ucapkan terimakasih, tapi saat ini Andra hanya ingin Mala yang merawatnya karena merasa Mala adalah calon istrinya."
"Kenapa kita tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada Andra, supaya Andra sadar kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa," usul Wina.
"Tante tidak mau mengambil resiko karena ini menyangkut kesehatan Andra. Andra harus memiliki motivasi untuk melakukan terapi demi kesembuhan kakinya. Jika tidak, dia bisa cacat selamanya. Dan hanya Mala yang bisa membuat Andra yakin untuk melakukan terapi itu. Jika bukan karena itu, Tante tidak akan mengizinkan janda itu dekat-dekat dengan Andra," kata bu Bella dengan nada pasrah.
"Maksud Tante, Tante tidak akan pernah merestui hubungan mereka bukan?" tanya Wina cemas.
"Dari awal, Tante juga tidak setuju hubungan mereka. Jadi mana mungkin tante akan membiarkan mereka bersama. Tante akan tetap berusaha untuk memisahkan mereka setelah Andra sembuh," jawab bu Bella penuh keyakinan.
"Syukurlah tante jika seperti itu, tante pasti akan malu jika memiliki menantu seorang janda. Apalagi dia sudah memiliki seorang anak. Amit-amit deh Tante," ucap Wina senang.
"Tapi saat ini yang ada dalam pikiran Tante hanya fokus pada kesembuhan Andra. Tante akan melakukan apa saja asal Andra bisa seperti normal seperti sedia kala. Meski Tante harus membiarkannya dekat dengan Mala."
__ADS_1
Bu Bella sedih setiap kali teringat Andra yang terbaring dengan kedua kaki yang tidak bisa berjalan. Harapan satu-satunya hanya pada Mala. Dan dia akan meyakinkan Mala untuk serius merawat Andra. Sekalipun harus mengancam Mala untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Semua demi kesembuhan Andra.