
Mala menatap tajam wanita yang ada di hadapannya. Wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dan elegan. Mata Mala mulai berkaca-kaca.
Ibu...gumam Mala dalam hati.
Wanita itu tersenyum dan mendekati Mala yang mulai gelisah.
"Hamil berapa bulan?" suaranya terdengar sangat lembut.
"Jalan 3 bulan," jawab Mala gugup.
"Kamu sangat beruntung akan memiliki seorang anak. Semoga bisa menjadi anak yang seperti kamu inginkan."
"Ini anak kedua," kata Mala lagi.
"Kedua?! Berarti kamu udah untung 2 kali," kata wanita itu sambil tersenyum.
"Bisa dibilang begitu. Ibu ke sini mau membeli pakaian juga?" tanya Mala.
"Tidak. Perkenalkan, namaku Shella. Aku pemilik mall ini," kata Shella sambil mengulurkan tangan pada Mala.
"Mala."
Mala tertegun mendengar nama Shella. Jadi memang benar dia adalah ibu kandungnya. Mala menyambut uluran tangan ibunya dengan perasaan campur aduk. Sedangkan Shella bersikap biasa karena dia memang belum tahu tentang Mala.
Shella hanya merasa, Mala seperti dirinya waktu muda. Penampilan dan wajahnya sangat mirip dengannya. Hal itu mengingatkannya pada anaknya yang hilang sejak masih bayi. Jika sudah besar pasti seusia Mala. Seandainya dia bisa bertemu dengan bibi Sri, pasti semua teka-teki yang terus menghantuinya selama ini akan terkuak.
Bu Shella menjelaskan berbagai macam pakaian untuk ibu hamil. Berbagai merk dengan kelebihan dan kekurangannya semua di jelaskan padanya. Bu Shella berharap, Mala akan bisa menemukan pakaian hamil yang nyaman untuk dia.
Mala sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dari bu Shella, dia malah sibuk mengamati gerak-gerik dan pembawaan bu Shella yang tampak sangat lihai dan pandai dalam berbicara.
Benarkah wanita di hadapanku ini ibu kandungku? Lalu aku harus bagaimana menghadapinya? Sedangkan dia pasti tidak tahu jika aku adalah putri kandungnya.
"Mala, aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan selera pembeli. Tetapi entah mengapa, aku ingin sekali memberikan suatu pilihan yang terbaik untuk kamu," ucap Bu Shella sambil tersenyum.
"Oh, tentu saya merasa sangat tersanjung dengan ulasan yang ibu berikan pada saya."
__ADS_1
"Kalau begitu silahkan pilih-pilih lagi mana yang kamu suka, aku akan memberikan diskon khusus untuk kamu."
"Terimakasih, bu Shella."
"Aku pergi dulu," kata Bu Shella lalu melangkah pergi meninggalkan Mala yang masih saja terus memperhatikan bu Shella.
Mala akhirnya melanjutkan memilih beberapa pakaian hamil lalu meminta bibi membayar di kasir tanpa meminta diskon dari bu Shella.
Sampai Mala pulang, dia tidak melihat bu Shella ada di mall. Mungkin dia sedang sibuk mengurus hal lain.
Semenjak bertemu ibu kandungnya, Mala tampak gelisah dan tidak fokus lagi dalam mengurus rumah. Sampai Dicko pulang kerja dan Mala hanya membuka pintu dan mencium tangan suaminya seperti biasanya tanpa ekspresi.
Dicko melihat perubahan Mala dan menjadi bingung. Tetapi dia tidak mau terlalu banyak bertanya karena dia baru saja pulang kerja dan harus membersihkan diri dulu sebelum mendekati istrinya yang sedang hamil itu.
Dicko mandi dan segera berganti pakaian untuk bertanya pada Mala tentang apa yang terjadi hari ini. Namun Dicko masih tetap menahan diri sampai waktu tidur tiba.
Setelah menidurkan Gala, Mala segera kembali ke kamar untuk beristirahat. Saat melihat suaminya masih belum tidur, Mala menjadi canggung karena tadi dia ketiduran saat menidurkan Gala.
"Mas Dicko belum tidur?" tanya Mala gugup.
"Aku sedang menunggumu?" jawab Dicko.
"Tidak perlu. Lagian tidak ada yang penting. Hanya ingin lebih dekat dengan calon anakku," jawab Dicko.
"Iya, aku segera temani mas Dicko. Tapi aku mau ambil minum dulu," kata Mala seraya melangkah ke arah pintu kembali.
"Tunggu sayang. Biar aku yang ambilkan untuk kamu. Kamu pasti udah capek seharian."
Dicko dengan cepat bangun dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar untuk mengambil air minum. Setelah sembuh dari sakitnya, Dicko memang sudah berniat untuk menjadi suami yang baik dan membuat Mala merasa bahwa dia akan selalu ada dan siap kapan saja saat Mala membutuhkannya.
Mala tersenyum melihat sikap Dicko yang ingin memanjakannya. Dia lalu bergegas naik keatas kasur dan bersandar disana. Matanya memang sudah tidak mengantuk lagi setelah tadi sempat tertidur di kamar Gala.
Tidak berapa lama, datanglah Dicko dengan membawa seteko air dan sebuah gelas kosong.
"Mala, aku bawa tidak hanya segelas. Tapi satu teko aku bawa untuk kamu. Jadi nanti kalau kamu ingin minum, tidak perlu jauh-jauh ke luar kamar," kata Dicko sambil memperlihatkan apa yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Iya, mas. Dan kamu juga bisa minum sekalian," jawab Mala sambil tersenyum.
Dicko meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja. Lalu dia menuangkan segelas air untuk sang istri yang sudah menunggunya. Dicko memberikan air pada Mala yang masih saj tersenyum melihat sikap Dicko.
"Terimakasih mas, sayang."
"Coba ulang lagi?"
"Mas, sayang," kata Mala.
"Nah itu baru benar, sayang. Meski kita sudah akan memiliki anak 2, tapi kita juga termasuk pasangan pengantin baru kan? Jadi tidak masalah memanggil dengan sebutan 'sayang'."
Dicko lalu ikut bersandar di ranjang di samping istrinya.
"Sayang, ada yang ingin mas katakan padamu," kata Dicko pelan.
"Katakan saja mas, kenapa mas Dicko terlihat sungkan?" tanya Mala.
"Begini sayang, aku melihat sejak pulang kantor tadi kamu terlihat aneh. Maksudku, sepertinya ada sesuatu yang terjadi padamu. Bolehkah aku tahu apa itu?" tanya Dicko berusaha tidak membuat Mala tersinggung.
"Iya mas. Tadi pagi, bu Bella datang. Memberiku sebuah album tentang ibu kandungku. Dia juga memintaku memanggilnya tante," kata Mala terhenti sejenak.
"Tapi dia tidak menyakitimu kan?" tanya Dicko khawatir.
"Tidak mas. Bahkan dia minta maaf atas perbuatannya padaku. Karena sekarang aku adalah keponakannya. Dan siangnya, saat aku dan bibi belanja di mall, aku bertemu ibu kandungku. Tapi dia tidak mengenaliku sama sekali."
"Lalu kamu bagaimana? Kamu tidak mengatakan apapun tentang kamu padanya?"
"Tidak mas. Aku masih belum siap memiliki keluarga lain selain ayah dan ibuku dikampung."
"Bolehkah aku melihat wajah ibu kandungmu? Siapa tahu aku bertemu dengannya tapi tidak mengenalinya."
Mala duduk dan mengambil album foto dari laci mejanya. Lalu diberikannya album itu kepada Dicko
Dicko membuka lembar demi lembar album foto ibu kandung Mala. Sebenarnya dia juga sedang mencari foto tentang ayah kandung Mala yang pastinya setelah bertemu ibu kandungnya, pasti juga akan bertemu ayah kandungnya.
__ADS_1
Mungkin memang foto ayah kandung Mala tidak akan ada di album tersebut karena keluarga mereka tidak setuju dengan hubungan mereka. Padahal sudah terlanjur hamil namun orangtua mereka masih saja memisahkan sepasang kekasih itu.
Semoga semua itu tidak akan mempengaruhi kondisi Mala yang sedang hamil. Itulah harapan Dicko saat ini.