Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Kedatangan ayah dan ibu


__ADS_3

"Mala."


Suara yang tidak asing bagi Mala. Itu suara ibunya, ibu Sri. Mala dan Dicko sama-sama kaget dan segera melepaskan ciuman masing-masing. Mala berdiri untuk menyambut ibu dan ayahnya yang baru tiba dari kampung.


"Ibu, ayah. Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau datang? Aku bisa menyuruh sopir untuk menjemput kalian," kata Mala sambil mencium tangan ayah dan ibunya.


"Ibu tidak mau merepotkan kalian. Apalagi kamu juga sedang hamil. Fokus saja mengurus suamimu," kata Bu Sri.


"Bagaimana kondisi suamimu?" tanya ayah Haris.


"Hanya retak saja, tapi juga butuh waktu untuk proses penyembuhannya," jawab Mala.


Ayah dan ibunya Mala mendekati Dicko yang terlihat agak gugup saat ketahuan berciuman. Tetapi Dicko berusaha menenangkan hatinya sendiri bahwa dia dan Mala sudah menikah dan berciuman adalah hal yang wajar.


"Bagaimana keadaanmu Dicko?" tanya ayah Haris.


"Baik ayah, hanya retak sedikit saja."


"Terimakasih sudah menyelamatkan Mala dan bayinya," kata Bu Sri.


"Ibu, Jangan berterimakasih. Ini adalah kewajiban Dicko sebagai suami dan ayah. Melindungi mereka sekuat tenagaku," jawab Dicko.


"Kamu benar Dicko. Ayah kagum atas sikap kamu. Laki-laki memang harus punya rasa tanggungjawab," kata ayah Haris.


"Ayah, ibu. Nanti kalian pulanglah ke rumah sama Gala dan bibik. Mala akan tetap disini menunggui mas Dicko," kata Mala sambil mengelus rambut Gala yang tertidur lelap.


"Mala, malam ini biar ayah yang jaga suamimu. Kamu pulang saja sama ibumu. Sekalian ayah ingin ngobrol sama menantu ayah," kata ayah Haris.


"Benar Mala, saat ini kamu sedang hamil. Kamu harus banyak istirahat demi anak yang ada dalam kandunganmu," tambah ibu Sri.


"Iya, Mala. Biar ayah saja yang temani aku malam ini. Semoga besok sudah bisa pulang," tambah Dicko juga.


Mala tampak cemberut karena merasa mereka bertiga kompak membuat Mala pulang ke rumah. Tiba-tiba Andra dan Bara muncul.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Masuk," teriak Mala.


Andra dan Bara tampak masih dalam keadaan emosi dan kesal. Namun saat Bara melihat ayah dan ibunya Mala, dia bergegas menghampiri keduanya sambil merubah suasana hatinya yang tadinya kesal menjadi lembut dan penuh sopan santun.


"Paman, bibi. Kapan kalian datang? Kenapa tidak menghubungi aku? Bara kan bisa menjemput kalian," kata Bara sambil mendekati ayah dan ibunya Mala.


Bara menyalami mereka dan mencium tangan mereka sebagai penghormatan karena Bara sudah menganggap mereka seperti orangtuanya sendiri.


"Baru saja sampai dan kami langsung ke sini karena di rumah tidak ada orang."


"Kelihatannya memang semua ada di sini. Termasuk bibik juga," kata Bara.


"Apa nyonya mencari saya?" tanya bibik yang baru saja masuk.


"Nggak kok bik? Emang bibik dari mana?" tanya Mala.


"Tadi waktu bibik mau menunggu di luar, ketemu sama pembantu sebelah yang sedang berobat. Jadinya dia curhat sama saya nyonya. Maaf," kata bibik merasa bersalah.


"Tahu juga nyonya Dicko soal ghibahin orang," ledek Dicko sambil tertawa.


"Emange kamu pernah ghibahin orang? Setahuku dia nggak punya temen untuk diajak ghibah," sahut Bara yang juga ikut tertawa.


Mala cemberut manja mendengar omongan suaminya dan Bara, terlebih karena mereka berdua menertawakan dirinya. Sementara Andra yang sejak tadi hanya diam dan berdiri saja merasa seperti orang luar yang tidak perlu ikut bergabung dengan keluarga Mala.


Andra mulai melangkah mundur perlahan tanpa sepengetahuan mereka.


"Kau siapa nak, kenapa dari tadi hanya diam dan berdiri disitu saja?" tanya ayah Haris sambil menunjuk kearah Andra yang segera menghentikan langkahnya.


Semua mata tertuju pada Andra yang segera melangkah ke arah ayah Haris. Andra meraih tangan ayah Haris dan dia memperkenalkan diri.


"Saya Andra paman, temannya Mala," kata Andra sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh, ini Andra yang pernah menyelamatkan Mala dulu? Wah, sudah lama paman ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih kepada nak Andra. Terimakasih sudah menolong Mala," kata ayah Haris.


"Tidak perlu berterimakasih paman. Itu semua kewajiban saya sebagai teman Mala."


"Teman?! Teman tapi cinta," kata Bara meledek Andra.


"Jaga omongan kamu, kamu juga sama sepertiku. Kamu tidak lebih baik dari aku," kata Andra kesal.


"Apa kalian akan melanjutkan perkelahian kalian disini? Silahkan jika kalian tidak punya malu dihadapan orangtua Mala," kata Dicko marah melihat kelakuan dua laki-laki yang masih mencintai istrinya itu.


Siapa yang tidak marah, jika tahu ada laki-laki yang berkelahi karena istrinya. Apa yang mereka perebutkan sementara wanita itu sudah bersuami. Untungnya Dicko sangat percaya dengan Mala. Jika tidak, Dicko dan Mala akan setiap hari bertengkar gara-gara dua bocah itu.


Sekarang saja terkadang Dicko suka cemburu sendiri melihat dua orang itu masih tetap saja mencintai Mala. Seperti tidak ada wanita lain saja.


"Maaf, Dicko. Bara yang mulai, aku hanya meladeninya saja" kata Andra membela diri.


"Hei, aku yang mulai? Apa tidak salah, kamu tuh yang keganjenan ingin merayu istri orang," kata Bara tidak mau kalah.


"Sudah-sudah, apa yang kalian perdebatkan? Ini ruang pasien," kata ayah Haris agak kesal dengan kelakuan mereka.


"Maaf paman," ucap Andra.


"Maaf paman," ucap Bara hampir bersamaan.


"Ayah, jangan marah. Nanti ayah bisa sakit hati. Jangan dimasukkan hati omongan mereka," kata Dicko.


"Kalian keluarlah, tak ada gunanya kalian berkelahi disini. Suamiku butuh istirahat," kata Mala menyadarkan mereka bahwa bagaimanapun usaha mereka, tetap Dicko yang utama bagi Mala.


######


Mampir juga ke karya otor yang baru


__ADS_1


Kisah perjodohan dan cinta anak SMA yang terhalang status dan kasta.


Pertemuan diusia dewasa dan sama-sama sudah memiliki impian dan karier masing-masing. Akankah cinta itu masih ada dan patut diperjuangkan?


__ADS_2