
Kebahagiaan Mala dan Dicko semakin lengkap ketika Mala dinyatakan hamil oleh dokter. Untuk merayakannya, mereka pergi makan di luar bersama Gala. Gala juga sangat senang karena akan memiliki seorang adik.
Mereka berada di KFC tempat kesukaan Gala. Setelah memesan makanan kesukaan Gala, mereka menikmati sambil berbincang santai.
"Gala senang dong mau punya adek?!" tanya ayah Dicko sambil makan.
"Gala pingin dedek cepet lahir biar bisa Gala ajak main," jawab Gala juga sambil makan.
"Kalian ini, kalau sedang makan jangan sambil ngobrol nanti tersedak lho," kata Mala pada kedua laki-laki tercintanya itu.
"Sayang, apa kamu tidak ingin sesuatu? Biasanya hamil muda pasti ngidam kan?" tanya Dicko.
"Nggak juga mas. Dulu waktu hamil Gala aku nggak ngidam apa-apa. Tahu deh, kalau saat itu aku ngidam entah siapa yang bisa aku mintai tolong."
"Ada paman siaga kan yang selalu menemani kamu. Aku jadi sedih tidak ada di sisimu saat itu," kata Dicko sedih.
"Mas, siapa paman siaga itu, Bara?! Kamu mau cemburu lagi?! Aih...capek mas kalau kamu cemburu terus," ucap Mala manja.
"Capek apa capek. Oh ya, bagaimana skripsi yang sudah kamu buat. Apakah ada kesulitan?" tanya Dicko cemas.
"Nggak sih mas, tinggal nunggu ACC aja. Terus sidang deh. Akhirnya bakal lulus juga," jawab Mala senang.
"Sudah selesai kuliah. Apa rencana kamu selanjutnya? Mau menjadi nyonya Dicko aja atau pingin kerja?" tanya Dicko serius.
"Entahlah, awalnya aku pingin kerja trus beli rumah dan membawa ayah dan ibu ke kota. Tapi setelah kita menikah, aku punya tanggungjawab lain. Menjadi nyonya Dicko."
"Atau kamu bisa kerja di kantorku. Menjadi asisten seperti dulu. Selain bisa bekerja kamu tetap menjadi nyonya Dicko."
"Boleh, kayaknya ide bagus itu mas."
"Ibu, nanti kita pergi ke taman ya. Gala mau main," pinta Gala sambil bersandar pada ayahnya.
"Kok tanya sama ibu?" tanya Mala.
"Kata ayah ibu bosnya dan ayah sopirnya jadi pak sopir nurut sama ibu bosnya," celoteh Gala.
"Ada-ada saja ayah kamu. Bilang sama ayah, ibu capek," kata Mala cemberut.
"Sayang, ayolah bentar aja," bujuk Dicko.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan lama-lama."
Mereka pergi bersenang-senang di taman. Rencananya hanya sebentar, namun akhirnya Gala kesenangan bermain di sana.
****
Sidang skripsi telah usai dan Mala sudah dinyatakan lulus. Mala pergi wisuda ditemani suaminya. Pada saat itu Andra ternyata juga hadir untuk menyaksikan acara wisuda Mala.
Ternyata memang sulit melupakan cinta, karena itu Dicko juga tidak bisa menyalahkan Andra apalagi Mala.
Selesai acara wisuda, Mala berfoto bersama suaminya dalam berbagai pose. pose yang paling dia suka adalah ketika sang suami memeluknya dari belakang sambil memegang perutnya yang agak buncit seolah mengajak calon anaknya ikut berfoto.
Setelah selesai berfoto, mereka berencana untuk pulang.
"Mas ambil mobil dulu kamu tunggu di sini saja. Jangan sampai kecapekan," kata Dicko sambil menyentuh perut Mala.
"Iya mas, aku tunggu disini," jawab Mala sambil mengelus perutnya.
Baru beberapa langkah Dicko berjalan, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi mendekati Mala. Menyadari bahaya yang mengintai sang istri dan bayinya, Dicko berlari secepat mungkin dan menghadang sepeda motor tersebut tepat di depan Mala.
Kejadian yang sangat cepat dan tidak terpikirkan oleh Mala akan terjadi menjadi pemandangan yang sangat menakutkan. Suaminya terlempar dan terbentur pinggiran jalan. Teriakannya membuat orang-orang di dekatnya berlari mendekat dan berusaha menolong Dicko.
"Katakan, kenapa kamu melakukan itu? Ada dendam apa kamu dengan dia?" tanya Andra marah.
"Ampun bang, saya hanya disuruh," jawab laki-laki itu kesakitan.
"Siapa yang menyuruhmu?! Cepat katakan?!"
"Nyonya Bella."
"Jangan bohong padaku. Katakan yang sebenarnya!"
"Benar bang. Saya tidak bohong."
Andra syok mendengar jawaban orang itu. Benarkah ibunya dalang dari semua ini. Ataukah semua hanya kebetulan memiliki nama yang sama.
"Hubungi dia dan katakan semua pekerjaan kamu sudah beres," perintah Andra.
Orang itu mengeluarkan ponsel yang tersimpan di sakunya. Kemudian segera menelepon orang yang menyuruhnya.
__ADS_1
"Hallo, bagaimana. Apa semua sudah beres?" tanya bu Bella.
"Sudah. Semua sudah beres. Wanita itu sudah saya bereskan," jawab orang itu.
Andra segera mengambil ponsel dari tangan orang itu dan mendengarkan suara penyuruhnya.
"Bagus, memang harus diberi pelajaran wanita licik itu. Dulu kamu gagal menabraknya malah anak saya yang kau tabrak. Sekarang aku senang jika dia memang sudah celaka," kata Bu Bella sambil tertawa kecil
"Apa ibu sudah puas sekarang?! Ibu harus memberi penjelasan padaku tentang semua ini," kata Andra membuat Bu Bella panik.
Andra memberikan ponsel itu pada pemiliknya. Dia membiarkan orang itu pergi, akan terapi dengan syarat dia tidak boleh memberitahu siapapun tentang semua kejadian ini.
Sementara Mala sudah berada di rumah sakit dan sedang menunggu dokter memeriksa kondisi suaminya. Semoga semua baik-baik saja.
######
Bersambung
Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan satu novel apik karya teman otor bernama AG Sweetie berjudul Call Me Yura
"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."
~ Vlora Yukika ~
"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"
~ Haedar Gibran ~
Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?
Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.
"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."
~ Tristan Pratama ~
Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?
__ADS_1