Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Mencoba Bertanggung Jawab


__ADS_3

BRAAAKKK!!!!


Sita langsung menutup pintu lemari itu dengan cukup keras. Kemudian ia keluar dari kamar sambil berlari dengan cukup kencang sampai keluar dari pintu utama unit apartment itu.


Kedua tangannya ia taruh di lutut dengan tubuh yang membungkuk serta napas yang masih tersengal-sengal. Ia berusaha menormalkan kembali napasnya sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Sita berjalan sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag. Setelah itu, ia memesan taksi online melalui aplikasi yang ada di sana.


Setelah ia masuk ke dalam lift, pemesanan taksi online pun berhasil. Sita menaruh kembali ponselnya ke dalam sling bag miliknya.


Beberapa menit kemudian, Sita telah sampai di lobby. Tanpa ia tahu, ada seseorang yang tengah berdiri di balik dinding.


Orang itu mengangkat sebelah sudut bibirnya dengan pandangan mengarah tajam ke punggung Sita yang semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menghubungi seseorang.


****


Baru saja Sita masuk ke dalam taksi, ponselnya berdering. Ia segera mengeluarkan ponsel dan melihat nama yang tertera di layarnya.


"Pos satpam rumah? ada apa ya?" Sita kemudian menjawab panggilan telepon itu.


"Hallo."


"Non Sita dimana? gawat Non gawat!"


"Saya di jalan. Ada apa Pak?"


"Semua pelayan rumah di suruh keluar oleh beberapa orang bertubuh besar Non. Saya juga agak takut. Tadi saya sempat mau melawan, tapi malah saya jadi kena hantaman mereka."


Sita memijat keningnya yang benar-benar merasa pening. Ia menarik napasnya dalam-dalam sambil terpejam.


"Bilang sama mereka, segera kemasi barang-barang dan berkumpul di pos satpam. Saya mau ke bank dulu untuk urus gaji dan pesangon semuanya!" Sita kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


"Pak kita ke Bank ya!" perintah Sita ke sopir taksi itu.


"Baik Non."


Sita mengeluarkan dompetnya lalu membukanya, tampak barisan kartu debit dan juga kartu kredit yang terjajar rapi di tempatnya. Rencananya ia akan mengecek kartu-kartu itu di Bank untuk memastikan apakah bisa dipakai atau tidak, kemudian memasukkan kembali dompetnya ke dalam sling bag-nya itu.


Tak terasa, sampailah Sita di tempat yang ia tuju. Beberapa lembar pecahan uang seratus ribuan pun ia keluarkan dan ia berikan kepada sopir taksi tersebut, kemudian turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang satpam yang berada di samping sebuah mesin touchsreen dekat pintu masuk.


"Siang, saya mau cek kartu, Pak. Apa bisa dibantu untuk bagian customer service?" Sita bersikap setenang mungkin dengan pandangan yang sesekali meneliti ke seluruh ruangan itu.


Satpam itu langsung menyentuh layar touchscreen yang ada di sampingnya, dalam hitungan detik, secarik kertas berbentuk persegi pun keluar dari sana.


"Silahkan Nona, antriannya masih ada dua orang lagi, jadi Nona bisa menunggu di kursi yang telah kami sediakan."


"Terima kasih, Pak." Sita mengambil kertas kemudian pergi dari hadapan satpam itu.


******


Setelah hampir setengah jam Sita menunggu, kini tiba gilirannya. Ia duduk di kursi depan meja customer service itu.


"Selamat siang, bersama saya Aiman Herdian. Ada yang bisa dibantu?"


Sita mengeluarkan dompetnya, lalu kartu pemberian Haris dari dalam sana.


"Saya mau minta tolong kepada Anda untuk mengecek kartu ini, apakah bisa digunakan atau tidak. Kalaupun bisa, saya ingin menghubungkannya ke dalam mobile banking."


"Baik, mohon ditunggu."


Hampir sepuluh menit, Aiman (customer service) menaruh kartu itu kembali ke atas meja.


"Mohon maaf Nona, semua kartu ini sudah tidak bisa digunakan lagi."


Sita terperangah dengan penuturan Aiman barusan.


"Yang benar Anda? apa sama sekali tidak bisa?" tanya Sita memastikan, karena dirinya tidak dengan mudah percaya.


"Benar Nona."


Aduh sisa kartu khusus tabunganku ini. Sepertinya jumlahnya pun tidak cukup untuk membayar mereka semua.


Pikirannya saat ini memang sedang benar-benar bercabang, ada skripsi yang harus segera ia selesaikan, gaji dan pesangon pelayan rumah, serta tempat tinggalnya. Karena baginya sangat tidak mungkin ia tinggal di apartment Haris setelah kejadian yang ia alami beberapa saat yang lalu.


"Tolong cek kartu ini." Sita menyodorkan satu kartu miliknya. Aiman pun tanpa menunggu lama, langsung mengambil kartu itu dan mulai mengeceknya.


Dengan kelincahan tangan Aiman, dalam lima menit, ia telah selesai mengecek kartu itu.

__ADS_1


"Nona, kartu ini masih bisa digunakan dengan jumlah saldo satu milyar lima ratus tujuh puluh lima juta sembilan ratus lima puluh enam ribu delapan ratus tujuh puluh tujuh rupiah."


Sita sedikit merasa lega. Walau dalam jumlahnya, uang itu masih ada lebih dari sisa pembayaran gaji pegawai dan pesangon. Sebab, selama ini ia tidak pernah mengecek tabungan itu dan hanya menggunakan kartu lain yang biasa ia gunakan sehari-hari.


Ia masih berpikir sambil mereset ulang ponsel pemberian Haris yang super canggih itu. Tangannya yang lincah, membuatnya bergerak cepat untuk membuat akun baru di sana.


Dalam lima belas menit, Sita telah merubah seluruh setelan yang ada di dalam ponsel. Ia benar-benar merasa kesal dengan Haris yang pergi begitu saja tanpa jejak, di saat kondisinya seperti ini.


"Bisa minta tolong untuk menghubungkan ke mobile banking?" tanya Sita dengan hati-hati.


Aiman tersenyum lalu berkata, "Tentu bisa, mohon di tunggu ya." Tangannya mulai bergerak cepat kembali. Sambil menunggu proses selesai, Aiman berkata lagi. "Apa Nona bawa buku tabungannya?"


"Bawa, sebentar." Sita mengeluarkan buku tabungan pribadinya lalu memberikannya kepada Aiman.


"Saya akan print out tiga bulan terakhir." Aiman berdiri dan berjalan menuju teller yang sepi. Sementara Sita menunggu di kursinya.


Pandangannya meneliti ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba matanya berhenti pada seorang laki-laki yang duduk di depan meja customer service sebelahnya.


Kayak pernah lihat itu orang, tapi dimana ya?


Sita mengalihkan pandangannya kembali ke Aiman yang baru saja duduk di depannya.


"Ini bukunya, dan proses mobile banking telah selesai. Nona sudah bisa login di aplikasi." Aiman tersenyum seraya memberikan buku tabungan Sita.


"Terima kasih banyak."


"Nanti ... Jika Nona ingin print out kembali, bisa langsung saja ke teller ya."


"Oke, sekali lagi terima kasih."


Aiman juga memberikan kartu terakhir yang sempat diberikan Sita padanya. Urusan bank pun telah selesai. Kini, Sita pergi dari sana dan kembali ke rumahnya.


*****


Sita pulang menggunakan taksi online kembali. Sepanjang jalan, tatapan nanarnya terus mengarah ke luar jendela.


Otaknya masih bekerja keras sampai detik ini. Pertanyaan 'ada apa?' itu terus berputar di sana.


Ayah, bunda sebenarnya kalian dimana sih? bukannya kalian ada dinas ke luar negeri? kenapa bisa sampai seperti ini? Mas Haris lagi, aku kira dia benar-benar baik. Ternyata ... apa aku salah jodoh ya?

__ADS_1


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2