Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
bertemu bu Bella


__ADS_3

Dicko menjalankan aktifitasnya lagi seperti biasanya setelah kakinya mulai tidak pincang lagi. Mala akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah melihat suaminya bisa kembali bekerja. Mala menyiapkan sarapan pagi dibantu bibik. Mala juga menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.


Dicko memakai pakaian yang sudah disiapkan Mala. Tetapi sepertinya ada sesuatu yang kurang.


"Mala, kamu dimana?" teriak Dicko manja.


"Iya mas sebentar."


Mala berjalan pelan meninggalkan bibik yang sedang menyiapkan sarapan. Mala penasaran padahal tadi sudah Mala siapkan semuanya. Mala membuka pintu kamar dan mendapati suaminya masih belum memakai pakaian kerjanya.


"Mas, ada apa? Bukannya semua sudah aku siapkan?" tanya Mala.


"Iya sih. Aku cuma ingin kamu temani saja disini. Kamu sedang hamil, jangan terlalu banyak beraktifitas. Ada bibik. Biarkan dia yang menyiapkan sarapan. Kamu disini saja," kata Dicko pelan.


"Mas Dicko, aku juga ingin beraktifitas biasa mas. Jadi kamu jangan manja."


"Padahal aku ingin memanjakan kamu. Sekarang aku sudah sembuh dan siap menjadi pesuruhmu. Jika butuh sesuatu katakan saja padaku. Aku siap bekerja," ucap Dicko semangat.


"Iya, tapi pakai pakaian mas dulu. Nanti masuk angin lho," kata Mala sambil menyerahkan pakaian yang tadi disiapkannya untuk suaminya.


Dicko berganti pakaian didepan Mala tanpa malu. Sementara Mala hanya tersenyum melihat bentuk tubuh suaminya yang sengaja dipamerkan padanya oleh Dicko. Mala menemani suaminya dan memakaikan dasi untuknya.


Sebuah ciuman manis di pagi hari mendarat di kening Mala selagi Mala membenarkan dasi suaminya.


"Sudah selesai. Kita sekarang turun untuk sarapan," kata Mala sambil memandang suaminya.


"Apa Gala sudah bangun?" tanya Dicko.


"Sudah, dia lebih dewasa dari ayahnya. Dia sudah mandi dan berganti pakaian sendiri."


"Sekali-kali kan. Biasanya aku juga semua sendiri. Apa aku harus ngajak Gala bersaing?" kata Dicko pelan.


"Mana ada ayah bersaing dengan anaknya. Yang pasti istrinya yang bingung. Mending duduk aja sambil makan," kata Mala sambil tersenyum.


"Ya sudah. Aku ngalah aja. O... hampir lupa jika masih mau jadi asisten aku, tempatnya nanti aku siapkan."

__ADS_1


"Iya mas. Aku persiapkan diri dulu," kata Mala pelan.


Mereka turun bersama untuk sarapan. Gala sudah nampak siap dimeja makan. Hal itu membuat Mala kagum. Gala sekarang sudah lebih dewasa dan mampu menjalankan tugasnya sendiri.


Selesai sarapan, Gala pergi ke sekolah bareng sang ayah.Setelah berpamitan dengan Mala, Dicko dan Gala pergi dengan senyum yang mengembang di hati mereka.


Mala bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya untuk membantu bibik beberes.


Tiga jam kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Mala bergegas membukakan pintu. Mala terkejut karena yang datang adalah bu Bella.


" Ada apa Bu Bella datang ke rumahku?" tanya Mala tanpa mempersilakan Bu Bella masuk.


"Maaf jika kedatangan aku mengganggu kamu. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan," jawab bu Bella.


"Baiklah, silahkan masuk," kata Mala..


Mala masuk diikuti bu Bella. Mereka duduk berhadapan sambil sesekali bu Bella melihat ke arah Mala.


"ibumu pasti sudah memberitahukan tentang orangtua kandung kamu kan? Kenapa aku tidak melihat mereka?" tanya bu Bella.


"Ini ada foto-foto ibu kamu waktu masih muda. Pasti kamu penasaran, seperti apa wajah ibumu," kata bu Bella sambil menyodorkan sebuah album foto pada Mala.


Mala ragu dan bimbang apakah akan mengambil album foto dari tangan bu Bella atau tidak. Didalam hatinya terjadi pergolakan yang sangat hebat. Namun ketika Mala teringat bahwa dia sedang hamil, Mala mulai menarik nafas dalam dan melepaskan beban hatinya.


Aku harus bisa menerima kenyataan, meskipun itu tidak pernah aku harapkan. Mungkin akan ada kebahagiaan ketika aku bertemu ibu kandungku. Bukankah bukan ibu yang tidak menginginkan aku? Tetapi kakak dan nenekku yang membenciku.


Mala mengambil album foto dari tangan bu Bella. Mala mengamati sampul dan belum berani melihat wanita yang adalah ibu kandungnya.


"Bukalah, kenapa masih ragu?" tanya bu Bella.


"Aku tidak ragu bu Bella."


"Kenapa masih memanggil bu Bella? Panggil aku 'tante'. Aku ini kakak ibumu," kata bu Bella.


"Hhh..."

__ADS_1


"Atau kamu masih marah sama Tante karena perbuatan tante sama kamu, Mala?"


Mala terdiam mendengar pertanyaan bu Bella yang memang membuat Mala membenci bu Bella. Akan tetapi setiap orang berhak untuk dimaafkan dan memperbaiki kesalahannya, sehingga Mala mulai menerima semua kejadian itu sebagai takdir yang memang harus dia alami.


"Mungkin sebaiknya tante pulang saja. Supaya kamu bisa melihat-lihat dengan jelas wajah dan rupa ibu kandung kamu," ucap bu Bella sambil berdiri.


Mala tak bergeming dari tempat duduknya. Sementara bu Bella segera pergi dengan perasaan bersalah pada Mala yang tidak lain adalah keponakannya yang telah lama hilang.


Setelah kepergian bu Bella, Mala mencoba menebarkan hatinya dan menyiapkan mentalnya untuk melihat wajah dan ibu.


Perlahan dibukanya lembar demi lembar foto tua itu. Tangannya terhenti dan matanya tertuju pada foto seorang gadis muda. Cantik dan penuh pesona. Matanya sangat tajam dan menampakkan bahwa dia seorang yang tidak bisa di kekang.


Ibu, inikah wajah ibuku? Wanita yang sudah melahirkan aku ke dunia ini. Wanita yang seharusnya saat ini ada di sampingku. Apakah dia merindukan dan menginginkan aku?


Mala menarik nafas dalam-dalam. Dia mulai mengingat dengan jelas wajah ibu kandungnya walaupun dia tidak tahu kapan akan bertemu dengan ibunya. Karena setahu dia, ibunya sedang berada di luar negeri.


Mala menutup album foto itu lalu pergi ke kamar untuk menyimpannya agar tidak lupa atau hilang. Mala bergegas keluar untuk pergi membeli pakaian hamil bersama bibi. Mala sengaja tidak meminta Dicko menemaninya, karena dia pasti sangat sibuk setelah beberapa waktu tidak bekerja dan banyak pekerjaan yang tertunda.


"Nyonya, bagaimana jika tuan tahu nyonya naik taksi?" tanya bibi saat akan memasuki pintu mobil tadi.


"Tidak apa-apa bibi. Mas Dicko tidak akan marah kita naik taksi. Ayo bibi," jawab Mala.


Mala dan bibi naik taksi yang sudah mereka pesan. Bibi tidak lupa mengingatkan sang sopir untuk berhati-hati karena nyonya mudanya sedang hamil.


Tak berapa lama, sampailah mereka disebuah mall baru di kota ini. Mall yang cukup besar. Dengan berbagai macam barang kebutuhan lengkap. Mala dan bibi melangkah pelan melihat-lihat barang-barang yang di jual disana.


"Bibi, kita langsung saja ke arah pakaian. Takutnya nanti Mala kecapekan bibi," kata Mala.


"Iya nyonya, memang sebaiknya begitu."


Mala dan bibi langsung menuju ke arah tempat pakaian hamil. Disitu Mala memilih pakaian untuk ibu hamil yang cukup santai dan juga beberapa pakaian hamil untuknya bekerja besok.


saat itulah, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik datang mendekati mereka.


"Pilihan kalian bagus," kata wanita yang membuat Mala seolah berhenti bernafas.

__ADS_1


Lalu siapakah wanita itu?


__ADS_2