
Keputusan Haris untuk membawa Sita menemui Jundi dan Rose sudah bulat. Walau ia tahu hal apa yang akan terjadi setelah ini, jika Sulthan telah mengetahuinya. Baginya saat ini kebahagiaan Sita lah yang terpenting.
Sementara itu, di sebuah ruangan terdapat seorang laki-laki yang sedang melakukan panggilan telepon. Raut wajahnya diluputi oleh amarah yang bercampur dengan kecemasan. Pandangan matanya pun menatap jauh ke luar jendela.
"Ikuti mereka! jangan lupa untuk terus mengabari saya!" perintahnya kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Oh, sial! Haris, Haris, Haris. Pasti dia diam-diam telah mengetahui semuanya." Nada yang penuh penekanan itu menimbulkan urat-urat nadi yang terlihat jelas di lehernya.
Laki-laki itu tiada lain adalah Sulthan. Ia mengetuk-ngetukkan ujung ponsel ke keningnya karena merasa pening di kepalanya. Tiba-tiba, pintu ruangan itu ada yang mengetuk. Ia menoleh seraya berkata, "Masuk!"
Saat pintu ruangannya terbuka, Sulthan berjalan ke arah meja kerjanya, memasukkan ponselnya ke dalam jas dan duduk di kursi kebesaran. Tampak seorang perempuan tersenyum di ambang pintu lalu berjalan ke arahnya.
"Permisi Pak, ini ada beberapa berkas yang mesti Anda tanda tangani." Perempuan itu menghentikan langkahnya kemudian, tepat di samping meja lalu menaruh setumpuk bekas yang ada ditangannya ke atas meja disertai dengan wajah yang penuh senyuman.
"Kenapa kamu suka sekali senyum?" sindir Sulthan dengan nada dingin tanpa menoleh ke arah perempuan yang masih berdiri di sebelahnya. Ia pun mengambil satu berkas dari atas tumpukan tersebut dan mulai membukanya.
Emangnya Bapak yang irit banget sama senyum!
Umpat perempuan itu dalam hatinya. "Enggak apa-apa kok Pak, seneng aja!" jawabnya singkat.
"Oh. Habis menang lotre?" sindir Sulthan kembali dengan nada yang sedikit menyeleneh.
"Enggak juga." Seketika senyuman itu surut.
"Oh." Ia mulai membubuhi tanda tangan di berkas itu. "Mey! setelah ini saya akan terbang ke Australi. Tolong segera siapkan pesawat untuk saya!" perintah Sulthan membuat Meylani terperangah.
"Kenapa buru-buru Pak? Ada masalah di sana?" tanya Meylani spontan. Tatapan tajam pun mengarah ke dirinya.
"Kenapa kamu banyak tanya? Istri saya juga bukan!" ketus Sulthan lalu menatap kembali ke berkas lain yang akan ia bubuhi tanda tangan. Meylani masih termangu dengan ucapannya barusan.
"Maaf Pak ... Saya akan segera laksanakan perintah Anda. Kalau begitu saya permisi." Meylani membalikkan tubuhnya lalu berjalan menuju pintu keluar ruangan itu.
"Tunggu!" panggil Sulthan yang membuat Meylani pun menghentikan langkahnya yang hendak meraih handle pintu.
Meylani menoleh dengan senyum yang masih bisa ia tunjukkan. "Ada apa Pak?"
"Persiapkan dirimu! Kamu akan ikut dengan saya ke Australi ... untuk urusan kantor, serahkan saja semua tugasmu ke asisten juniormu!" perintahnya lagi. Meylani mengangguk patuh lalu bergegas keluar dari ruangan itu kemudian.
__ADS_1
*******
Beberapa menit lagi, Sita dan Haris akan tiba di bandara. Keduanya masih fokus memandang ke depan. Hingga mereka akhirnya tiba di halaman parkir bandara tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya keluar dari sana dan berjalan menuju pintu keberangkatan.
Kenapa Mas Haris setenang ini? aku bahkan belum sempat menanyakan tentang visa dan segala macamnya.
Lalu, seorang laki-laki memakai celana jeans, kaus berwarna putih polos, dilapisi jaket hitam berbahan kulit, topi dan juga kacamata hitam berjalan menghampiri Haris. Dia hanya memberikan sebuah map berwarna coklat tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Kemudian, dia lewat begitu saja.
Sita menoleh mengikuti kemana perginya laki-laki itu, lalu menatap Haris dengan tatapan heran. "Dia siapa?" tanyanya dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
Haris hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Melihat responnya yang terkesan acuh, Sita memutar malas bola matanya.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku harus check in," pinta Haris dan Sita pun mengangguk.
Setelah Haris pergi dari sana, Sita mengedarkan pandangannya ke kursi yang berbaris rapi di dekatnya. Ia meneliti satu persatu kursi tersebut, mencari tempat yang masih kosong.
Tak lama, ada dua buah kursi kosong di sana. Sita pun berjalan ke arah yang ia tuju. Sesaat setelah duduk, seorang laki-laki duduk di sebelahnya. Keduanya saling menoleh.
Laki-laki itu tersenyum kepada Sita, sedangkan yang di senyumi hanya menatap datar dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Laki-laki ini, sepertinya aku pernah lihat dia, tapi dimana ya?
Sita tertegun sejenak, mencoba untuk menerka-nerka. Tak lama ...
Oh iya, dia laki-laki yang pernah gak sengaja tertabrak di lift.
Sita bersilang dada dan menatap ke depan. Ia berharap Haris cepat menghampirinya. Tak di sangka sebuah tangan terulur ke arahnya. Sita mengernyit dan seketika menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu sembari menoleh.
"Kenalin, aku Dyas. Kalau kamu?"
Sebuah tangan pun menyambut laki-laki itu, tapi bukan tangan Sita, melainkan ...
"Haris. Suami perempuan ini."
Nada tegas Haris membuat laki-laki yang bernama Dyas itu mengangkat wajahnya mengikuti tangan yang diulurkan oleh Haris. Dyas pun berdiri dan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Hai bro, salam kenal."
Lalu, sebuah pengumuman yang menggema di ruangan yang luas itu membuat Dyas melepaskan tangannya.
"Sorry." Dya menunjuk ke atas, memberitahu kalau sekarang giliran penerbangannya. "Kalau begitu saya duluan," sambungnya sambil mengangkat sebelah tangannya dan pergi dari hadapan mereka kemudian.
Sita tercekat kagum melihat raut wajah Haris yang tampak jelas kalau suaminya itu sedang cemburu dan berusaha melindungi dirinya. Lalu, Sita salah tingkah saat melihat Haris menoleh ke arahnya setelah sebelumnya memastikan Dyas benar-benar pergi dari sana.
"Ayok!" ajak Haris sambil mengulurkan tangannya. Sita menyambut dengan senang hati uluran tangannya itu, kemudian berdiri.
"Mau kemana ?" tanya Sita dengan tatapan penuh harap, Haris akan menjawabnya.
"Aku lapar Sayang. Kita masih ada waktu lima belas menit belum keberangkatan," jawab Haris dan keduanya berjalan, pergi dari kursi itu. "Aku dengar di bandara ini ada dimsum yang enak banget!" sambungnya dengan manik mata yang tampak berbinar.
"Oh iya, wah ... aku suka banget dimsum. Udah lama banget gak makan itu. Aku jadi gak sabar!" seru Sita sambil menggelayut manja di lengan Haris.
Dari kejauhan, Dyas menatap kepergian Sita. Sorot matanya terlihat sendu. Seperti ada sesuatu yang belum selesai.
Aku harap, Tuhan akan mempertemukan kita kembali. Entah di waktu yang seperti apa, tapi aku yakin ... karena satu tujuanku dan niat baikku. Aku akan segera menuntaskannya, dariku untukmu, Sita.
Dyas kemudian bergegas masuk ke dalam kabin pesawat. Membawa harapannya yang masih terpatri, untuk seseorang yang kini sedang dia nanti.
*****
Haris dan Sita telah sampai di sebuah food court, tema toko makanan yang mereka tuju itu berupa kedai. Design khas negara Tiongkok sangat kental di sana.
Keduanya memesan beberapa porsi dimsum yang menggugah selera mereka. Tidak sampai menunggu lama, pelayan kedai itu menyuguhkannya.
"Selamat makan!" seru mereka bersamaan.
Beberapa menit kemudian, Haris dan Sita telah melahap habis dimsum yang ada di hadapannya itu. Haris pun membayarnya, lalu keduanya pergi dari sana.
"Dimsumnya enak, kapan-kapan ... kita ke sini lagi ya, Mas!" puji Sita pada kedai dimsum yang tadi tempat mereka makan.
"Iya Sayang," ucap Haris sambil menarik hidung Sita dengan gemas.
__ADS_1
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...