Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Mantan Dicko


__ADS_3

Dicko baru saja kembali dari kampung nelayan mengantar Gala dan neneknya. Tentu saja badan masih terasa pegal sehingga dia pergi ke kantor agak siang. Pak Sapto juga sudah siap kapanpun di butuhkan Dicko.


Sesampai di kantor, Agam menghampirinya dengan raut muka panik dan cemas.


"Bos, ku bingung harus bagaimana menyampaikan ini bos," kata Agam gugup.


"Agam, tumben hari ini wajahmu terlihat kusut?" ledek Dicko.


"Hari ini, si gadis elang ada di sini?!" kata Agam cemas.


"Apa?! dia ada di sini? Bagaimana bisa, bukannya dia ada di luar negeri?!" tanya Dicko cemas.


Hena, biasa disebut si gadis elang karena matanya yang tajam. Hena adalah mantan pacar Dicko yang juga calon tunangannya sebelum Dicko menghilang dan hilang ingatan. Dicko sebenarnya memutuskan Hena karena Dicko mengetahui Hena berselingkuh dengan sahabatnya sendiri yang bernama Farel di luar negeri.


Namun Dicko tidak pernah mengatakan bahwa dia tahu perselingkuhan Hena dengan Farel. Dicko hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi bersama dengan Hena karena Dicko tidak mau cinta jarak jauh. Jika Hena masih ingin bekerja di luar negeri, maka keputusan terakhir adalah putus.


Saat itu, Hena lebih memilih pekerjaannya daripada Dicko. Maka putuslah hubungan percintaan mereka. Dicko tidak menyangka jika setelah itu, dirinya diculik dan lemparkan ketengah laut oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. Hingga dia hilang ingatan.


Setelah Dicko sembuh, dia berusaha untuk menyuruh orang untuk menyelidiki dalang dibalik penculikan dan pembunuhan dirinya. Namun sampai saat ini, belum ada titik temu, karena pelaku hilang bagai ditelan bumi. Sedangkan Dicko juga tidak ingin hanya menduga-duga hal yang belum tentu benar.


Beberapa waktu yang lalu, Hena memang menghubungi Dicko dan meminta maaf karena dulu lebih mementingkan pekerjaannya daripada hubungannya dengan Dicko. Tapi Dicko sudah menjawab bahwa dia sekarang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Lalu untuk apa dan kenapa sekarang Hena kembali.


Dicko tidak ingin hanya menebak saja. Sebaiknya mungkin dia memang harus menemui Hena agar lebih jelas.


Dicko berjalan menuju ke ruang kerjanya yang disana sudah menunggu Hena sang mantan. Dicko membuka pintu dan Hena dengan cepat berlari hendak memeluk Dicko, tapi Dicko segera mengambil ancang-ancang untuk memblok pelukan Hena dengan kedua tangannya.


"Tunggu, kita sekarang ada di dalam negeri, bukan di luar negeri yang setiap bertemu harus berpelukan. Ingat tempat," kata Dicko mengingatkan kebiasaan luar berbeda dengan kebiasaan di dalam negeri.


"Maaf Dicko. Aku hanya terlalu bersemangat bertemu denganmu setelah sekian lama."


"Silahkan duduk, dan katakan dengan cepat apa tujuanmu menemuiku? Aku sedang banyak pekerjaan hari ini," kata Dicko kesal.


"Dicko, kenapa kamu kasar sekali tidak seperti Dicko yang dulu. Dulu kamu sangat lembut padaku," kata Hena manja.


"Kita bukan lagi pasangan kekasih, kita sudah lama putus. Jangan selalu terikat masa lalu yang seharusnya dilupakan."


"Tapi aku tidak bisa melupakan semua itu Dicko. Sekian tahun ini aku selalu teringat padamu. Aku menyesal telah memilih jalan yang salah. Tidak kusangka cintaku padamu membawaku kembali."


"Tapi semua sudah berubah Hena, jadi tolong jangan membuat harapan palsu."


"Dicko, maafkan aku. Aku sudah dengar semua tentang istri dan anakmu. Kalian tidak rujuk kembali itu membuktikan bahwa kalian memang tidak berjodoh."


"Itu semua bukan urusan kamu, Hena. Jodoh atau bukan, kamu tidak berhak untuk ikut campur. Sudahlah, pulanglah. Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


"Dicko, kita bisa mulai dari awal lagi. Kita bisa mencobanya. Aku punya rahasia tentang kecelakaan yang kamu alami beberapa tahun lalu," kata Hena berusaha menjebak Dicko.


"Katakan, apa benar kamu tahu tentang kecelakaan itu?!" tanya Dicko penasaran.


"Aku akan mengatakannya kepadamu. Akan tetapi aku punya satu syarat," kata Hena sambil tersenyum.


"Katakan apa syaratmu?! tanya Dicko kesal.


"Aku ingin kamu memaafkan aku dan kita mulai dari awal lagi. Bagaimana?!" tanya Hena.


"Tidak. Jika kamu ingin seperti itu lebih baik aku tidak tahu tentang rahasia itu. Simpan saja semua itu sendiri."


"Dicko, setidaknya berilah kesempatan padaku untuk mendekatimu lagi. Aku tidak akan memintamu menerimaku lagi sebagai kekasihmu. Apakah itu cukup?" pinta Hena.


Dicko berpikir sejenak. 'Memberi dia kesempatan sama saja membawaku ke dalam masalah baru. Akan tetapi hanya sebuah kesempatan, toh nantinya dia akan menyerah sendiri jika dia sudah lelah.'


"Baik. Aku setuju. Hanya mengejar dan aku juga berhak menolak," ucap Dicko dingin.


Hena terdiam mendengar perkataan Dicko. Mau tidak mau Hena harus setuju karena Dicko tidak mudah di ancam meski dengan hal yang sangat ingin dia ketahui.


"Oke. Tapi aku tidak ingin mengatakannya di sini. Nanti malam, kita makan malam di tempat biasa kita berdua. Kutunggu jam tujuh." ucap Hena menunggu kesempatan.


"Baik. Jam tujuh, aku pasti datang."


Hena melangkah keluar dengan hati senang. Dicko hanya mampu menghela nafas. 'Dasar wanita penghianat'. Umpat Dicko dalam hati.


Meski Dicko sangat penasaran dengan dalang di balik penculikan dan upaya pembunuhan dirinya, Dicko juga tidak ingin Hena merasa bisa mengancam dan menindasnya. Seandainya dia tahu pun, dia juga tidak akan melaporkannya ke kantor polisi. Karena peristiwa itu membawanya bertemu Mala dan menemukan cinta sejatinya. Jadi penculikan dan upaya pembunuhan atas dirinya juga menjadi anugrah baginya.


"Bos, bagaimana?" tanya Agam mengagetkan Dicko karena dia tidak tahu kapan Agam masuk.


"Kau, mengagetkan aku saja. Dasar..."


Buukkk..


Sebuah pukulan ringan menerpa bahu Agam yang kokoh. Tetapi meski pukulan Dicko tidak kuat, cukup membuat Agam meringis menahan sakit.


"Bos, sakit bos."


"Salah kamu sendiri. Kenapa masuk tidak ketuk pintu dulu," Dicko membela diri.


"Kan buru-buru karena penasaran. Bagaimana, beres?"


"Tunggu setelah nanti malam. Aku akan makan malam dengannya."

__ADS_1


"Dicko, jangan sampai kamu tergoda lagi dengan si mata elang. Ingat kelakuannya padamu," nasehat Agam.


"Jangan khawatir. Sudah tidak ada lagi tempat untuk dia. Sudah penuh." jawab Dicko tenang.


"Bagus kalau begitu bos, aku iku tenang dan senang untukmu."


Hati Dicko sudah terisi penuh dengan Mala dan anaknya, Gama. Dua orang yang sangat penting baginya, meski saat ini ada begitu banyak rintangan untuknya menyatukan satu keluarga agar menjadi utuh kembali.


Setiap sehabis Sholat, Dicko tidak pernah lupa untuk berdoa meminta agar diberi kemudahan baginya untuk bersatu dengan keluarganya. Dan dibukakan hati Mala untuk menerima dirinya apa adanya. Gama adalah Dicko dan Dicko adalah Gama. Tapi bagi Mala tidak semudah itu dia mampu menerima.


###########


Bersambung..


Sambil menunggu up selanjutnya, aku rekomendasikan satu novel yang bagus untukmu karya dari teman saya Sahara judulnya Survive life Figuran Novel.


Blurb:


Kalian percaya nggak sih sama yang namanya isekai dan sistem?


Della juga awalnya nggak percaya... sampai akhirnya ia mengalaminya sendiri.


...


Entahlah, Della sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.


Tapi yang pasti... begitu dia membuka matanya kembali semuanya tampak berbeda, atau lebih tepatnya aneh!?


Della baru menyadari kalau dirinya masuk ke dalam novel bergenre romansa—fantasi barat setelah melihat dirinya dan keadaan sekitarnya.


Tidak.


Della tak menjadi tokoh antagonis ataupun protagonis.


Tapi ia memiliki akhir yang sama tragisnya dengan sang antagonis.


Hingga suatu hari suara kaku terdengar.


[Sistem telah siap!]


[Misi telah ditentukan, menerimanya atau menundanya?]


__ADS_1


__ADS_2