Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Malam pertama


__ADS_3

Gala tertidur setelah lelah bermain dengan ayahnya. Dicko membawa Gala ke kamarnya agar tidurnya lebih nyaman. Kamar Gala sudah didesain sesuai selera Gala agar Gala betah.


Dicko melangkah ke kamarnya setelah bibik mematikan beberapa lampu karena sudah larut malam dan waktunya tidur. Saat membuka pintu, Mala tidak tampak oleh Dicko sehingga membuat Dicko agak panik.


"Mala, kamu dimana?" teriak Dicko agak pelan.


"Aku sedang cuci muka mas," jawab Mala.


Memang udara malam ini agak panas dan membuat gerah. Apalagi dia baru saja menidurkan Gala. Dicko pun berniat mandi setelah Mala selesai mencuci muka.


Tidak lama, Mala keluar dengan senyum manisnya.


"Mas mau mandi? Mandilah, aku cape mau tidur dulu, " kata Mala seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya.


Mala mau tidur? Bukannya malam ini mereka harus melakukan malam pertama mereka?


Dicko hanya menghela nafas dan segera mandi agar Mala tidak tertidur saat dia selesai mandi. Dicko hanya perlu lima menit untuk mandi dan itu mandi tercepat yang dia lakukan selama ini. Dicko segera mengenakan piyama yang biasa dia pakai saat tidur.


Dicko tertegun ketika melihat Mala sudah tertidur dia atas ranjang dengan tubuh moleknya. Dicko tidak ingin membangunkan Mala meski hatinya ingin sekali Mala terbangun.


Dicko berbaring pelan di samping Mala dan membantu Mala memakaikan selimut. Dicko tersenyum meski hatinya berontak. Bisa-bisanya dia tidur tanpa peduli pada dirinya yang sudah menunggu sejak kemaren.


Tapi apalah artinya jika di bandingkan dengan penantiannya selama ini. Jadi, Dicko harus lebih sabar jika ingin memenangkan hati Mala seutuhnya.


Mata Dicko sulit terpejam. Namun rasa kantuk mulai perlahan-lahan menyerangnya. Saat matanya mulai terpejam perlahan.


Mala yang sebenarnya hanya pura-pura tidur, merasa kecewa karena Dicko tidak berusaha membangunkannya. Kenapa jadi seperti Mala yang ngebet pingin segera malam pertama. Nah, Mala menjadi kesal sendiri dan akhirnya dia pasrah saja jika malam ini gagal lagi.


Mala memandangi suaminya yang sedang tertidur dengan takjub. Dulu, Mala tidak pernah memperhatikan terlalu jauh wajah suaminya. Ternyata dia memang memiliki wajah yang nyaris sempurna.


Apalagi hidungnya yang mancung tidak seperti dirinya. Tangannya mulai menyentuh hidung suaminya dari kening hingga kepuncak hidungnya yang tinggi.


Mala tidak menyadari jika sentuhannya sudah membangunkan suaminya. Mata Dicko terbuka perlahan dan membuat Mala kaget.


"Apa aku membangunkanmu?!" tanya Mala gugup.

__ADS_1


"Kamu harus bertanggungjawab," jawab Dicko sambil menatap wajah cantik alami istrinya.


Mala mengerti apa maksud suaminya dan dia hanya tersenyum malu. Dicko meraih salah satu tangan Mala dan di letakkan di atas dadanya berharap Mala tahu betapa jantung ini sudah bergolak.


Mala hanya tersenyum sebagai lampu hijau bagi Dicko untuk lanjut. Tanpa basa basi, Dicko mulai beraksi dengan pemanasan lembut. Ritmenya juga sudah dia atur sampai Mala merasakan kenyamanan dan puncak gairahnya tercapai. Barulah Dicko mempercepat ritmenya hingga Dicko merasakan kepuasan dan kenikmatan yang tiada tara.


Kepuasan batin dan kepuasan gairah yang Dicko rasakan, membuat Dicko melayang dan ketagihan untuk di ulangnya sekali lagi.


Menjelang pagi, Mala bangun untuk mandi setelah itu barulah dia membangunkan Dicko. Sehabis sholat subuh berjamaah, Mala mencoba memasak untuk sarapan pagi ini.


Sedangkan Dicko menemani Mala sambil sesekali mengomentari cara memasak Mala yang tidak sesuai. Akan tetapi Mala cuek saja.


Yang terpenting adalah hasilnya.


Padahal pagi ini hanya membuat nasi goreng ala Mala. Mala meminta Dicko untuk mencicipi hasil dari masakan Mala. Melihat dari cara membuatnya, Dicko agak ragu untuk mencicipi masakan Mala. Tetapi demi kedamaian tentu dia harus berjuang dan melakukan yang terbaik untuk keutuhan keluarga.


"Hmm, enak. Kok bisa ya. Padahal tadinya aku nggak yakin hasilnya bisa seenak ini," kata Dicko memuji.


Mendengar perkataan Dicko, Mala malah merasa jika Dicko sedang mengolok-olok dirinya. Mukanya tampak masam dan dia memasang wajah cemberutnya. Dicko heran bukannya dia tadi sudah berkata yang baik-baik dan tidak menyinggung istrinya sama sekali. Masakannya sudah dipuji. Apalagi yang salah?


"Nggak mau," jawab Mala ketus.


"Ya udah. Kalau nggak mau tersenyum, berarti ingin aku buat tersenyum kan?" kata Dicko seraya mendekati Mala.


"Mau apa mas?! Jangan mendekat!" teriak Mala takut.


Namun Dicko tidak memperdulikan Mala yang ketakutan. Dicko terus mendekatinya dan mendorongnya ke dinding. Dicko meletakkan satu tangannya ke dinding menahan tubuh Mala yang hendak melangkah pergi. Pandangan matanya yang tajam seolah menusuk jantung hati Mala yang berdetak kencang.


Satu tangan Dicko memegang dagu Mala hingga wajah Mala tepat berada dibawah muka Dicko. Secepat kilat, Dicko mencium bibir Mala yang merah merona tanpa memberi kesempatan Mala menolak. Mala tidak punya pilihan, selain ikut menikmati hangatnya bibir suaminya.


Mendapat balasan dari Mala semakin membuat Dicko bergairah dan kedua tangannya memegangi kepala Mala yang menuruti semua perlakuan suaminya itu.


"Ayah ibu..."


Suara Gala mengejutkan Dicko dan Mala. Mereka gugup dan takut Gala melihat apa yang mereka lakukan di dapur.

__ADS_1


"Gala sudah bangun ya? Ibu bantu mandi ya baru setelah itu kita sarapan bersama," kata Mala sambil memberi isyarat pada Dicko.


'Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini.'kata hati Mala.


'Hanya ingin membuat kamu kamu tersenyum dan tidak marah lagi. Aku sudah memujimu tapi kamu masih saja kesal.' jawab Dicko dalam hati.


#######


Bersambung


sambil menunggu up selanjutnya otor rekomendasikan satu novel apik karya teman otor bernama Enis Sudrajat berjudul Masa Lalu Sang Presdir 21 +



Masa Lalu Sang Presdir (21+)


Blurb :


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Ameera mengangguk mantap.

__ADS_1


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.


__ADS_2