Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Rahasia yang ketahuan


__ADS_3

Rasa kangen Dicko pada Mala sudah ditahannya sekian lama. Biasanya jika dia merasa kangen, dia akan berada di kampus Mala untuk hanya sekedar melihat Mala dari jauh. Entah kenapa, Dicko merasa ingin melihat Mala walau hanya sesaat.


Dicko akhirnya pergi ke kampus Mala dengan harapan dia bisa bertemu Mala dan mendengar suaranya. Kali ini tidak hanya ingin melihat saja tetapi juga ingin mendengar suaranya. Agar tidak terlalu menarik perhatian, Dicko berpakaian sederhana selayaknya sebagai Gama.


Mala berjalan santai melewati beberapa mobil yang terparkir rapi. Dia juga memarkir sepedanya tanpa malu karena itu kesenangan baginya. Bahkan Andra sendiripun tidak bisa melarangnya. Langkahnya terhenti ketika matanya tertuju pada seseorang yang sangat dia kenal. Gama.


Mala perlahan mendekati sosok tersebut yang kemudian menyadari keberadaannya sudah Mala ketahui. Dicko tersenyum melihat Mala. Mata Mala mulai berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika dia akan bisa bertemu Gama kembali. Dan senyuman itulah yang selalu ada dalam ingatan Mala.


Dengan perasaan cemas, Dicko mendekati Mala dan menyapanya.


"Hai Mala, apa kabar. Lama tidak bertemu," sapa Dicko agak gugup.


"Baik..."


Mala tak bisa banyak berkata. Sisa cinta yang masih tertinggal, tiba-tiba mulai bersemi kembali. kehadiran Gama seperti air yang menyirami biji cinta yang hampir mati. Mala tidak bisa lagi membendung rasa rindunya pada Gama. Dia segera memeluk tubuh kekar dihadapannya tanpa malu. Mala menangis dan Dicko akhirnya menyadari bahwa Mala sangat merindukan sosok Gama. Pemuda sederhana yang penuh cinta. Bukan Dicko, pemilik perusahaan besar yang dimatanya pasti akan menomorduakan keluarga.


Kini Dicko mulai berpikir keras agar bisa membuat Mala yakin dan menyadari bahwa meski saat ini Gama telah berubah menjadi Dicko, hatinya masihlah Gama.


Tanpa mereka sadari, Andra sudah ada di dekat mereka dengan tatapan penuh kemarahan.


"Mala, apa yang kalian lakukan di tempat umum? Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang?" tanya Andra mengagetkan keduanya.


Mala melepaskan pelukannya dan dia mundur dua langkah. Sementara Dicko hanya tersenyum sinis melihat kemarahan Andra.


"Andra, ternyata kamu sudah sembuh. Kenapa kamu tidak melepaskan Mala kembali pada keluarganya?"

__ADS_1


"Dicko, keluarga siapa yang kamu maksud? Akulah keluarganya, aku calon suaminya," kata Andra penuh keyakinan.


"Calon suami? Apa benar begitu Mala?!" tanya Dicko sambil melihat Mala dengan tatapan kecewa.


"Andra, jangan sembarangan berbicara. Sebaiknya kamu pulang saja dan beristirahatlah. Ayo kita pulang," Ajak Mala dengan penuh paksaan.


Mala membawa pulang Andra sambil melihat sekali kearah Dicko yang ingin sekali mendengar penjelasan dari Mala.


Sampai di rumah, Mala kembali ke kampus meski terlambat. Dia berharap bisa bertemu Gama, namun Gama sudah tidak nampak lagi. Meski kecewa, Mala tetap harus semangat belajar agar segera lulus.


******


Andra meluapkan kemarahan dengan mencoret-coret kertas gambar miliknya. Bu Bella hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah Andra yang kekanak-kanakan.


"Andra, kamu ini kenapa marah-marah? Siapa yang membuat kamu marah?" tanya bu Bella lembut.


"Benarkah? Aku rasa kamu salah. Mala pernah bilang pada ibu jika dia tidak mencintai Dicko tapi mantan suaminya, Gama."


"Apa bedanya bu, mereka satu orang yang sama. Apalagi aku tahu mereka bercerai bukan karena mereka tidak saling cinta lagi, akan tetapi karena salah paham yang dilakukan sahabat Mala, Bara. Itu artinya mereka masih saling mencintai, ibu."


"Andra, lalu apa rencanamu selanjutnya? Apakah kamu masih akan berpura-pura hilang ingatan dan memaksa dia menikah denganmu?" tanya sang ibu cemas semuanya akan gagal.


"Apa benar yang ibumu katakan?!" ucap Mala menahan amarah.


Andra dan ibunya kaget mendengar pertanyaan Mala barusan. Merek tidak menyangka jika Mala mendengar percakapan mereka. Semua sudah berakhir.

__ADS_1


"Mala, tunggu penjelasanku. Aku ..."


"Aku ini punya hati, aku juga punya perasaan. Selama ini aku rela mengorbankan semua itu demi untuk membantumu kembali seperti semula. Aku meninggalkan keluargaku demi bisa membuat batinku tenang dari rasa bersalahku. Aku tidak menyangka jika kamu tega mempermainkan diriku, Andra," Ucap Mala sambil menahan sedih.


"Mala, aku bersalah padamu. Maafkan aku sekali ini Mala. Aku hanya ingin selalu bersamamu dan aku sangat takut jika kam UU meninggalkan aku," ucap Andra memohon.


"Iya, Mala. Kamu sungguh sangat beruntung ada seseorang yang mencintai kamu sedalam itu. Kamu terima saja Andra. Menikahlah dengannya," kata bu Bella.


Mala terdiam dan dia berusaha membangkitkan kembali jiwa Mala sang nelayan yang terkubur bersamaan dengan kecelakaan Andra waktu itu.


Kini Andra sudah sembuh dan tidak ada alasan lagi bagi Andra dan keluarganya untuk menahannya pergi.


"Andra, bu Bella. Sejak saat ini hutang budi Mala sudah lunas, dan hari ini Mala pamit pergi. Semoga kedepannya kalian tidak akan melakukan kesalahan yang sama."


"Mala jangan pergi," teriak Andra.


Namun tekad Mala sudah bulat dan ini keputusan yang terbaik untuk semua orang.


Akankah Andra semudah itu melepaskan Mala?!


##########


Bersambung ye...


Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan satu novel karya teman otor bernama Teh Ijo berjudul Hidden Baby , semoga suka...

__ADS_1



Akibat dari cinta satu malam, membuat Vie harus merelakan masa mudanya. Setelah dikeluarkan dari kampus, ternyata Vie juga diusir oleh ayahnya sendiri karena Vie telah mencoreng nama baik keluarga. Lima tahun berlalu, kehidupan pahit Vie kini telah terobati dengan hadirnya sosok Arga, bocah kecil tampan yang sedang aktif berbicara meskipun kini tak tahu dimana keberadaan ayahnya. Namun, siapa yang menyangka jika selama ini Vie bekerja di perusahaan milik keluarga kekasihnya. Hal itu baru Vie ketahui saat kekasihnya mulai mengambil alih perusahaan. Masih adakah rasa yang tertinggal untuk sepasang kekasih di masa lalu ini? Mari kita ikuti kisahnya 😊


__ADS_2