
Agam bergegas masuk ke ruangan bosnya, namun tidak ada tanda-tanda Dicko ada di ruangannya. Agam menghela nafas, berharap apa yang dipikirkannya itu tidak benar.
Dia pasti sedang bersama istrinya di ruang sebelah.
Agam berbalik arah menuju ruang khusus tempat Mala bekerja. Ruangan yang memang dibuat untuk Mala selama bekerja di sini.
"Pak Agam, mau menemui pegawai baru ya? Dia memang cantik, jangan-jangan pak Agam naksir ya?" tanya Wati sambil tertawa.
"Siapa bilang aku naksir pegawai baru? Bisa-bisa aku dicincang hingga halus," jawab Agam takut.
"Siapa yang berani mencincang pak Agam?" tanya Wati penasaran.
"Sudah jangan gosip lagi. Balik sana kemeja kerja kamu," perintah Agam.
Wati pura-pura pergi. Dia sembunyi di Balik dinding di sebelah ruang Maya. Agam mengetuk pintu untuk memastikan Dicko ada didalam sana.
"Siapa?" suara Mala terdengar gugup.
"Agam."
"Masuklah," terdengar suara Dicko menyuruhnya masuk.
Agam menghela nafas panjang. Ternyata memang dia ada disini.
Agam membuka pintu dan sebuah pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat saat ini, karena dia masih bujang. Pak Dicko benar-benar keterlaluan telah sengaja memprovokasi dirinya.
Agam menghela nafas panjang sambil menutup matanya, walau dia masih bisa melihat kejadian itu dari balik jari-jemarinya yang renggang. Wajah Dicko dan Mala sangat dekat hingga hidung mereka saling beradu.
Wati yang sedang sembunyi sengaja mengintip ruang baru yang diperuntukkan untuk pegawai yang katanya istimewa. Semua orang pasti penasaran, seistimewa apakah perlakuan sang bos. Saat Wati melihat kejadian itu, Wati terkaget-kaget. Matanya hampir melompat keluar jika tidak segera di pegang.
Wati berlari terengah-engah, bukan karena larinya kencang tapi dia sudah tidak sabar lagi ingin segera menyebarkan gosip. Tak butuh hitungan menit, gosip sudah menyebar ke seluruh perusahaan.
Sementara, dengan agak canggung Agam, mendekati pasangan suami istri itu.
"Bos, jaga wibawa bos."
__ADS_1
"Jomblo mau mengajari aku? Kamu belum tahu bagaimana rasanya menikah dengan wanita yang kamu cintai. Apalagi mau punya anak dari hasil ...," ucap Dicko malu.
"Bos jangan lebay, mbak Mala biasa saja. Betul kan mbak?" tanya Agam sambil melihat ke arah Mala.
"Agam, bulan ini kamu tidak dapat bonus," kata Dicko kesal.
"Apa-apaan bos ini. Emang Agam salah apa?" tanya Agam bingung.
"Salah apa?" Dicko mendekati Agam sambil menutup mata Agam dengan salah satu tangannya. "Mata kamu yang salah. Jangan lihat lagi."
"Pak bos, aku punya mata bukannya untuk melihat," kata Agam membela diri.
"Ngeyel ya. Jomblo satu ini," Dicko tampak kesal dibantah oleh Agam.
Sementara Agam sengaja membantah semua ucapan bosnya karena ada Mala. Jika tidak, sudah habis dia hari ini.
"Mas, sudahlah. Kenapa musti marah. Biarkan saja si jomblo penasaran cara hidup setelah pernikahan," ucap Mala menengahi perselisihan dua sahabat itu.
"Kenapa aku merasa kalian mengerjai aku ya? Kalian sengaja berkomplot membuat aku agar ingin segera menikah," ucap Agam mengelus dada.
Dicko dan Mala tertawa melihat Agam. Sosok Agam yang humoris saat bersama mereka. Tetapi jika di hadapan bawahannya dingin seperti es. Begitu juga Dicko. Dia bisa bersikap manja, lembut hanya dengan Mala dan keluarganya.
"Mas, ada apa? Kenapa kemari. Jika butuh makan siang, Agam bisa membelikannya untuk kamu," tanya Mala ketika Dicko sudah ada dihadapannya.
"Aku mau makan siang bareng kamu. Aku akan suruh Agam bawa makanan ke sini," kata Dicko sambil tersenyum.
"Mas, aku mau makan di kantin. Sepertinya aku ngidam makanan kantin dan sekalian tempatnya yang rame," ucap Mala memohon.
"Aku temani kamu makan di kantin," kata Dicko.
"Tidak, nanti orang akan curiga," jawab Mala.
"Ajak Agam juga."
"Mas, aku ingin makan dengan pegawai lain."
__ADS_1
"Aku bisa gabung dengan kalian. Sudah, kita tidak perlu berdebat lagi. Kita makan di kantin bersama pegawai lain. Deal," ucap Dicko sambil memandang sendu wajah istrinya.
Akhirnya Mala setuju mereka makan bersama di kantin. Tetapi Mala meminta pada suaminya untuk datang nanti setelah Mala mendapatkan tempat duduk. Merekapun setuju dan saling tersenyum.
Mala pergi menuju ke kantin dengan hati gembira. Sepanjang jalan semua mata tertuju padanya. Tetapi Mala tampak cuek saja dan terus melangkah menuju kantin.
Mala mengambil menu makan siang lalu mencari tempat duduk diantara pegawai lain.
"Boleh gabung?" ucap Mala ramah.
"Boleh-boleh. Silahkan saja," ucap salah satu pegawai wanita ramah.
"Terimakasih," ucap Mala lalu duduk dengan tenang sambil makan.
Tidak berapa lama, datanglah rombongan Dicko, Agam dan beberapa pegawai laki-laki yang sengaja Dicko bawa. Dicko melihat sekeliling dan mendapati Mala dengan asyiknya makan. Dia berjalan mendekati tempat duduk Mala dan memerintahkan pegawai laki-lakinya untuk menata meja dan kursi untuk Dicko dan yang lainya agar bisa semeja dengan Mala.
Semua mata menatap curiga ditambah gosip yang tadi pagi telah beredar sangat luas di sekitar kantor. Mala pura-pura tidak melihat kedatangan Dicko hingga membuat Dicko agak kesal.
Dicko menyuruh Agam mencarikan tempat di samping Mala. Tentu saja Agam harus mengusir seorang pegawai yang kebetulan duduk di samping Mala. Lebih lembutnya meminta pegawai itu pindah tempat.
Dengan kelakuan Dicko seperti itu, tentu saja semakin menguatkan gosip diantara Dicko dan Mala. Namun Dicko tidak peduli dengan gosip ataupun pandangan bawahannya tentang dirinya.
Dicko dengan santai duduk di samping Mala yang masih saja cuek dengan kehadiran suaminya. Dicko semakin kesal, apalagi Mala sudah selesai makan dan hendak berniat pergi.
"Maaf semuanya, aku sudah selesai makan. Aku permisi lanjut kerja dulu," kata Mala pelan.
Sebelum melangkah pergi, Mala memberi anggukan kepala pada Dicko sebagai rasa hormat. Setelah Mala pergi, Dicko juga langsung pergi mengejar Mala. Saat Mala memasuki lift yang akan segera tertutup, Dicko dengan cepat menahan pintu lift dengan kaki dan tangannya.
Dicko masuk kedalam lift dan segera mendekati Mala yang tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Apa ada yang lucu, sayang?" tanya Dicko.
"Tidak," jawab Mala singkat.
Dicko semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Mala. Dan dengan satu gerakan saja, Dicko dengan cepat mencium bibir merah istrinya yang sudah membuatnya kesal hampir seharian ini. Mala tidak bisa mengelak dan hanya pasrah saja atas perlakuan suaminya.
__ADS_1
Saat pintu lift terbuka, Dicko belum melepaskan Mala. Sementara diluar ada beberapa orang pegawai yang mengantre untuk naik lift itu. Karena kebetulan lift yang digunakan Mala bukan lift khusus bos.
Mereka terbelalak melihat bos mereka tengah mencium seorang wanita. Namun mereka tidak melihat wajah wanita itu dengan jelas.