Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Sebuah Pertemuan


__ADS_3

Malam telah semakin larut, Sulthan tak kunjung pergi ke alam mimpi untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia enggan untuk pulang ke kediamannya dan memilih menetap di sini bersama Haris.


Sulthan pergi ke luar kamar, menuju balkon yang mengarah langsung ke pantai. Suara deburan ombak sangat jelas terdengar ketika Sulthan membuka rolling door-nya.


Ia berjalan, kemudian berhenti di ujung balkon itu. Saat tanpa sengaja ia menoleh, ternyata Haris juga sedang ada di sana sambil menikmati kepulan asap rokoknya.


Ia duduk di sebuah kursi santai sambil menengadahkan kepalanya menatap hamparan bintang di langit kelam. Sulthan pun menghampirinya.


"Kamu belum tidur juga?" Haris melonjak kaget saat mendengar suara berat yang tiada lain adalah kakaknya.


"Eh, Kak. Belum ... Kakak sendiri?" Kali ini Haris menatap ke depan sambil mematikan rokoknya ke dalam asbak.


"Belum ngantuk ... Kenapa kamu belum tidur?" Sulthan ikut duduk di kursi yang lain bersebelahan dengan Haris.


"Aku gak bisa tidur kak. Rasanya ... sulit sekali," jawab Haris dengan kedua tangan yang ia taruh di atas kepalanya sebagai bantalan.


"Sedang ada masalah?" Sulthan mencoba memancing Haris untuk bercerita.


"Entah." Haris mengangkat kedua bahunya. "Aku merasa belum siap untuk menikah," pungkasnya.


Sulthan menghela napas panjang. "Dulu, Kakak juga belum siap untuk menikahi Rima. Tapi, setelah kami menjalaninya ... bahkan Rima yang mampu membuat Kakak merasa, to be my self. Dia gak sama sekali mendesak Kakak menjadi orang yang dia mau. Justru ... " Sulthan menghentikan kata-katanya sejenak, "Kakak lah yang telah membuatnya berubah menjadi yang Kakak mau. Sehingga, Kakak hanya melihat pantulan diri sendiri dari dirinya."


Haris menarik napasnya dalam-dalam. Memang, semenjak Sulthan menikah dengan Rima. Haris sama sekali belum pernah bertemu lagi dengan kakak iparnya itu. Sulthan selalu bilang kalau Rima sedang sibuk dengan karirnya di sana.


Begitupun dengan Sulthan sendiri, pekerjaannya di Australia, sangat menyita waktunya. Tidak heran jika kakak-beradik itu sangat sulit punya waktu bertemu. Apalagi jarak tempat tinggal diantara keduanya bagaikan Selatan dan Utara.


"Oh iya, sekarang kak Rima apa kabar?" tanya Haris yang mengalihkan pembicaraannya.


"Dia baik ... ya, seperti biasanya." Kini bergantian, Sulthan yang menatap hamparan bintang yang ada di langit kelam itu. Tampak raut wajah yang sulit sekali diartikan oleh Haris.


"Kak Rima, belum ada tanda-tanda hamil?" tanya Haris kembali yang juga ingin tahu perihal kakak iparnya.


"Belum, dia masih menikmati kegiatannya. Kalau Kakak pribadi, hanya bisa menunggu dia siap untuk mengandung." Sulthan kemudian berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana. Haris mengikuti gerak Sulthan yang berhenti di ujung balkon itu.


"Apa Kakak akan lama di sini?" tanya Haris yang juga ikut berdiri dan menghampiri Sulthan.

__ADS_1


"Gak, hanya sampai lamaran terus kembali ke Australi. Kakak gak bisa ninggalin Rima lama-lama di sana." Sulthan tertawa pelan, pikirannya tiba-tiba rindu akan istrinya yang kini jauh di sana. Kemudian Sulthan pun melihat jam dinding di ruang makan telah menunjukkan pukul 00.00 .


"Haris, udah larut nih. Masuk yuk! gak baik terlalu lama di luar. Apalagi angin darat seperti ini bisa merusak kesehatan," ajak Sulthan sambil berjalan masuk ke dalam. Haris pun mengangguk lalu mengekor dibelakangnya.


Mereka pun akhirnya pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Walau mata keduanya sulit terpejam, tapi harus mereka paksakan.


****


Suara kicauan burung telah bersahutan di luar jendela. Perempuan itu terbangun dari tidurnya, kemudian duduk dan memulihkan segenap kesadarannya. Ia pun kemudian turun dari tepat tidur, lalu pergi ke kamar mandi.


Lima belas menit berlalu, perempuan itu keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk kecil di kepala dan juga bathrobe kimono yang terpasang di tubuhnya. Perempuan itu, tak lain adalah Sita.


Sesaat setelah memakai pakaiannya, terdengar suara ketukan pintu. Sita berdiri lalu berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya.


"Eh, Bunda ... ada apa?" tanya Sita dengan senyum sumringahnya.


"Bahagia sekali anak Bunda. Kamu baru selesai mandi?" Rose langsung masuk begitu saja tanpa izin dari pemiliki kamar. Sementara Sita hanya menghela napas panjang sambil menutup pintunya kembali.


"Hari ini kamu dandan yang cantik ya!" Ucapan Rose membuat Sita seketika terbelalak. "Bukannya hari ini kamu mau ketemu sama adiknya Sulthan?" tanyanya memastikan.


"Ya, iya sih. Tapi kan, Sita gak bisa dandan yang Bunda maksud," tolaknya dengan halus.


"Sebenarnya yang mau nikah itu Sita atau Bunda sih? kok Bunda yakin banget kalau Sita cocok sama dia? Bunda kayak peramal aja deh! Gak baik tau!" Sita menggerutu, kesabarannya sedang benar-benar diuji kali ini.


"Kalau Sita ngerasa gak cocok gimana?" Sita berjalan ke dalam walk in closet untuk memakai pakaiannya. Rose pun duduk di sofa.


"Masa iya kamu gak tertarik? Mungkin aja adiknya Sulthan itu lebih ganteng darinya." Rose masih percaya diri dengan pendapatnya.


"Itu kan baru mungkin, Bun. Kita juga belum tau aslinya kayak apa orangnya, baik atau enggak. Bunda nih, ngebet banget!" Sita keluar dari sana dengan pakaian yang telah lengkap ia kenakan.


"Aduuuh, kenapa pakai baju yang itu sih anak Bunda tersayang? kan baju yang bagus banyak di lemari." Bunda protes karena Sita hanya memakai celana training hitam dan kaos lengan panjang yang tampak kebesaran. Sita pun memutar malas matanya.


"Bunda, ini masih pagi. Toh Sita juga akan perginya agak siangan, mungkin. Kan nanti bisa ganti lagi." Ternyata pikiran Sita berbeda dengan Rose yang ingin melihatnya berubah dan lebih suka dengan tampilannya semalam.


"Ya udah, terserah kamu aja deh!" Rose kemudian berdiri lalu pergi keluar dari kamar Sita.

__ADS_1


******


Pukul delapan pagi, Sita melihat dari jendela kamarnya ada sebuah mobil yang baru saja masuk ke halaman villa. Ia yakin kalau mobil itu adalah mobil yang sama ia tumpangi semalam bersama Sulthan.


Ia segera mengganti pakaiannya kemudian turun ke bawah. Saat ia hampir sampai di ruang tamu, ternyata Rose sudah lebih dulu menyambut kedatangan mereka. Sita berdiri di balik dinding.


"Sebentar ya, saya akan panggilkan Sita." Rose kemudian pergi dari hadapan mereka.


Kesan pertama saat melihat laki-laki yang bersama Sulthan, entah kenapa hati Sita seketika berdebar. Namun, ia belum bisa memastikan apakah itu rasa cinta atau sekadar suka.


"Bunda!" panggil Sita dengan suara sedikit berbisik. Rose menoleh lalu memutar malas matanya.


"Ayok! iku Bunda." Rose mengulurkan tangannya dan Sita pun menyambut. Mereka pun pergi ke ruang tamu.


Haris dan Sulthan menatap Sita bersamaan. Sulthan tersenyum melihat Sita. Namun berbeda dengan Haris yang tampak biasa saja melihat perempuan itu.


Sulthan berdiri, begitupun dengan Haris. "Sita, kenalin ini Haris, adikku."


"Hai, Sita." Haris menunjukkan senyumannya yang paling manis. Tatapan yang teduh pun tak luput Haris tunjukkan kepada Sita.


"Kalian ngobrol aja ya, saya mau ke dalam dulu." Rose pamit kemudian pergi dari hadapan mereka.


"Terima kasih, Bu," ucap Sulthan dan Haris bersamaan.


Sesaat kemudian, baru saja ketiganya hendak berbincang, ponsel Sulthan berdering.


"Sorry, kalian lanjut aja ya ngobrolnya." Sulthan lalu keluar ruang tamu dan menerima panggilan di teras villa.


Haris dan Sita masih sama-sama terdiam. Lalu, Haris yang semakin lama tidak bisa terus diam, akhirnya membuka pembicaraan.


"Sita ... apa sebelumnya kamu udah kenal sama keluargaku?" tanya Haris dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Sita.


"Enggak juga, yang kenal kan kedua orang tua kita," jawab Sita sekenanya.


"Oh, lantas ... kenapa kamu yakin dengan perjodohan ini?" tanya Haris kembali dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Karena aku ... "


...🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹...


__ADS_2