
"Sebenarnya, aku .... " Belum sempat Haris melanjutkan perkataannya, deringan serta getaran ponsel yang ada di saku celananya itu, membuat Haris menarik napasnya dalam-dalam.
"Maaf, aku harus menjawab panggilan telepon." Haris mengeluarkan ponsel itu dan melihat nama yang tertera di sana, kemudian setelah mendapat anggukkan kepala dari Sita, ia pun keluar dari mobil.
Kenapa harus keluar mobil? Apa aku gak boleh dengar apa yang dia bicarakan sama orang yang meneleponnya itu?
Sita bertanya-tanya dalam hatinya. Ia pun akhirnya memilih membuka layar ponsel dan mencari sesuatu yang membuatnya asik di sana.
Saat Sita membuka sebuah konten di pencarian instagram, ternyata di sana sedang ramai aplikasi berbasis media sosial bernama Omegatz. Sita pun akhirnya penasaran, lalu pergi ke playstore untuk mengunduh aplikasi itu.
Sesekali matanya melihat ke arah Haris yang masih menerima telepon. Tidak butuh waktu lama, unduhan pun telah selesai. Sita membuka aplikasi itu dan login di sana.
Ternyata aplikasi ini berupa chatting. Pantas aja ramai, bisa sampai chat dengan para artis Tanah Air juga, toh.
Haris pun tiba-tiba masuk ke dalam mobil, Sita yang terlonjak kaget segera menutup layar ponselnya kemudian menaruhnya kembali ke dalam dashboard mobil.
"Udah selesai Mas teleponnya?" tanya Sita sambil tersenyum yang menunjukkan barisan gigi putih dan bersihnya itu.
"Udah ... hm, Sita maaf ... aku harus kembali ke Australi sekarang. Ada urusan mendadak yang mengharuskan aku datang ke sana sekarang." Haris enggan menatap manik mata Sita itu.
Seketika senyuman Sita yang tadi merekah pun surut. Kini ia hanya terdiam dan mendelik ke suaminya.
Kenapa aku merasa kalau Mas Haris lagi nyembunyiin sesuatu ya dariku? apa aku harus mencari taunya sendiri?
Haris masih menunggu Sita untuk berucap. Posisi tubuhnya pun belum ia ubah sejak masuk ke dalam mobil.
"Its, okay. I'm fine, Mas. Take cake ya nanti di sana!" Sita tersenyum lalu meraih tangan Haris dan mengusapnya.
"Are you seriousely?" tanya Haris yang merasa tidak percaya. Sita tidak menahannya agar tetap di sini. Haris pun mengernyit.
"Ya, kenapa? lagi pula percuma aku menahanmu. Toh nanti juga kau akan pergi sendiri dari sini, saat aku tidur atau saat aku mandi." Sita menyindir Haris dengan halus sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan tatapan yang lurus ke depan.
Haris mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Lidahnya tercekat.
Maafin aku Sita, aku belum bisa mengatakannya sekarang.
"Baiklah, sekarang kita pulang?" tanya Haris sambil membenarkan posisinya menghadap ke depan dengan kedua tangan memegang setir mobil. Sita hanya menjawab dengan gumaman pelan.
Sejak mobil melaju, tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka. Sebenarnya banyak yang ingin Sita tanyakan pada Haris, karena baru kali ini mereka jalan berdua. Tetapi rasanya enggan ia lakukan. Sita pun memilih diam.
__ADS_1
******
Setibanya di rumah, mereka langsung pergi ke kamar Sita. Rumah pun masih dalam keadaan sepi.
Haris segera mengambil sebuah paper bag yang sebelumnya diantarkan oleh orang suruhannya. Sementara Sita berdiri menghadap ke jendela besar yang ada di kamarnya.
Tatapannya seolah menembus jauh ke luar jendela sambil bersilang dada. Kesal, marah dan takut menjadi satu dalam hatinya.
Apa aku salah mencintai suamiku sendiri? Aku telah menyerahkan kehormatan ku dengan suka rela kepadanya. Sekarang, apa rasa kecewa yang harus aku telan untuk kehidupanku ke depannya?
"Sa- ... " Haris melonggarkan tenggorokannya lalu berkata kembali, "Sita, aku pergi sekarang ya ... oh iya, kalau kamu mau pindah ke apartment, lebih baik tunggu aku kembali." Ia berdiri tepat di belakang Sita. Sebenarnya ada rasa ingin memeluk istrinya dengan hangat, tapi sengaja ia tahan. Sebab, ia punya alasan tersendiri untuk itu.
Sita membalikkan tubuhnya, lalu tersenyum kepada Haris. Senyuman itu bahkan bukan terlihat bahagia, melainkan sangat getir. Ada getaran di bibirnya.
"Hati-hati dijalan ya, Mas. Jangan lupa kabari aku setelah kamu sampai nanti." Sita berjalan mendekati Haris, lalu memberinya pelukan singkat dan mencium pipi kanannya cukup lama. Hatinya terenyuh. Air mata pun telah membendung di kedua ekor matanya. Namun, sekuat mungkin ia tahan.
Haris tersenyum tipis, tangan kiri yang sejak tadi memegang paper bag pun sengaja dijatuhkan. Rupanya Haris tidak bisa menahan rasa yang bergejolak sejak tadi. Ia langsung memeluk Sita dengan cukup erat.
"Baik-baik ya di sini, tunggu aku kembali." Haris berbisik di telinga Sita yang kemudian mengangguk sebagai jawaban.
Haris pun perlahan melepaskan pelukannya, lalu mengambil paper bag kemudian pergi dari kamar itu. Ketika Sita hendak melangkah karena berniat untuk mengantarkan Haris sampai ke teras rumah. Seketika ...
"Kamu berlebihan! aku gak mungkin capek kalau cuma antar sampai ke teras aja." Sita menyahut lalu tertawa renyah.
"Ya ... aku hanya gak mau kalau kamu kecapekan setelah ini." Tatapan Haris sangat sulit diartikan oleh Sita.
"Ya udah deh kalau gitu, take care!" Sita mengalah dan menurut apa yang diinginkan Haris. Senyum pun mengembang dari kedua sudut bibirnya.
Haris kemudian keluar dari kamar, meninggalkan Sita yang masih mematung di sana. Akan tetapi, Sita tidak begitu saja menurut.
Beberapa menit setelah Haris keluar dari kamarnya, Sita dengan hati-hati berjalan keluar kamar. Ia bahkan tidak memakai alas kaki.
Ketika Sita keluar melalui pintu dapur, tanpa sengaja ia melihat Haris naik ke dalam mobil Sedan berwarna hitam yang sangat ia kenal.
Bukankah itu mobil ayah, kenapa Mas Haris masuk ke sana? Ayah bilang, bukannya masih di luar negeri? Lantas, kenapa mobilnya ada pada Mas Haris. Ah, tapi yang punya mobil Sedan itu kan, bukan cuma ayah. Sebentar ...
Sita masih memperhatikan mobil itu, tiba-tiba dirinya terperangah saat melihat plat nomor mobil itu.
Gak! itu gak salah lagi. Itu beneran mobil ayah. Plat nomornya ... aku masih ingat banget! Tapi kenapa bisa ada di Mas Haris? Ada apa sih sebenarnya?
__ADS_1
Sita kemudian pergi ke kamarnya sambil berlari. Beberapa pelayan yang baru saja keluar dari dapur kotor, melihat aneh tingkah Sita yang tergesa-gesa itu.
Sementara Sita yang baru saja sampai di kamarnya, segera mengambil slig bag yang berisi dompet dan juga ponselnya. Baru juga dia memegang handle pintu, suara ketukan pun terdengar olehnya.
Sita membuka pintu, ternyata salah seorang pelayan yang berdiri di depannya.
"Ada apa Bi?" tanya Sita dengan raut wajah datarnya.
"Anu Non, di depan ... ada orang yang mencari Non Sita," jawab pelayan itu sambil menundukkan wajahnya dan suaranya pun terdengar bergetar.
"Orang? siapa?" Sita mendesaknya untuk memastikan.
"Mereka bilangnya dari kantor notaris, Non. Dia gak sendiri, tapi sama dua orang yang bertubuh kekar dan wajahnya menyeramkan, Non." Pelayan itu sangat takut menatap wajah Sita. Seperti feeling-nya, seketika tatapan tajam itu mengarah ke arahnya.
"Biar saya yang akan menemui mereka!" Sita menutup pintu kamarnya dengan sling bag yang sudah ia kaitkan di bahu. Lalu meninggalkan pelayan itu.
Langkahnya yang tegas dan tanpa ragu itu pun, beriringan dengan rasa penasaran akan orang tersebut. Sesampainya di ruang tamu, Sita menghentikan langkahnya satu meter dari orang yang berdiri memunggunginya itu.
"Anda cari siapa?" tanya Sita dengan sikap yang biasa saja. Nada bicaranya pun terdengar datar.
Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, kemudian melepas kacamata hitamnya. Sita mengernyit melihat orang itu. Sebab, yang ia tahu kalau orang yang kini di hadapannya itu adalah pengacara ayahnya.
"Pak Jaka? Ada apa?" Sita bersilang dada sambil berjalan mendekati laki-laki itu.
"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Jaka sambil tersenyum menyeringai kemudian.
"Tentu, masuklah!" Sita memberikan jalan kepada Jaka dan kedua bodyguard-nya.
Mereka pun duduk bersama di ruang tamu itu. Jaka mulai membuka tasnya, lalu memberikan satu buah map tebal dengan cover berwarna biru kepada Sita.
"Apa ini?" Sita mengambil map itu dari tangan Jaka.
"Buka dan bacalah!" perintah Jaka sambil menyangga kedua tangan yang bertautan itu di atas pahanya.
Sita membuka dan langsung membaca isi map itu dengan teliti. Beberapa menit kemudian, ia bersusah payah menelan salivanya. Detak jantungnya pun terhenti sejenak, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Jaka kemudian.
"Bisa tolong jelaskan Pak! Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Sita dengan penuh penekanan. Jaka menegakkan tubuhnya sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Jadi ... "
__ADS_1
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...