Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Kepingan Terakhir


__ADS_3

"Aku ikut Mas!" tegas Sita. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang terombang ambing di tengah badai yang kian mendera. Terlebih untuk kelangsungan rumah tangganya.


"Sayang ... " Haris men des ah pelan. "Apa kamu yakin?" tanyanya kemudian.


Sita mengangguk sangat yakin. Tetapi dari guratan pada wajah Haris, laki-laki itu tampak keraguan. Terselip rasa gundah yang menyerang seketika.


"Baiklah, ayok!" ajak Haris.


"Ayah, Bunda, kami berangkat dulu ya," pamit Sita pada kedua orang tuanya. Mereka tersenyum lalu mengangguk.


...--------------



...


Haris memang pandai dalam melacak seseorang lewat aplikasi yang ia buat sendiri dengan kecerdasan otaknya. Setelah keluar dari rumah itu, Haris menemukan keberadaan Sulthan di sebuah negara yang jauh dari Jundi dan Rose berada.


Beberapa jam terbang dan akhirnya tiba di depan anak tangga yang menuju ke sebuah tempat yang diyakini keberadaan Sulthan di sana. Sekilas tempat itu tidak terlalu menyeramkan dengan adanya lampion yang menggantung bagai langit-langit di atas sepanjang anak tangga tersebut.


"Mas kamu yakin kak Sulthan ada di sini?" tanya Sita. Sebenarnya perempuan itu takut, tapi karena ada Haris rasa takut pun perlahan sirna.


"Menurutku sih benar, itu ... salah satu tempat favorite kak Sulthan, khusus pembuat tato."


Bersusah payah Sita menelan salivanya. Memang tidak dapat dipungkiri, tato-tato pun bertebaran di tangan Sulthan yang dapat Sita lihat. Dan tanpa perempuan itu tahu, tubuhnya memiliki banyak tato yang memiliki arti tersendiri.


"Ayok kita masuk!" ajak Haris lalu menggenggam tangan istrinya lagi. Sebab tadi sempat terlepas karena harus memastikan kembali ke dalam aplikasi.

__ADS_1


Mereka kemudian mulai menaiki anak tangga satu per satu hingga tepat di depan sebuah pintu masuk. Haris menarik napasnya dalam-dalam kemudian menerobos masuk ke sana.


Setelah pintu berhasil di buka, tempat itu sangat sepi, tidak ada satu orang pun. Barang-barang yang ada di dalam bahkan sangat berantakan, seperti habis diporak porandakan.


"Mas kamu yakin?" tanya Sita dengan rasa takut yang mulai menguasai dirinya. Kedua tangannya pun mencekal kuat lengan suaminya itu.


"Kamu tenang aja, kita harus berani demi tujuan kita," jawab Haris mencoba menenangkan hati Sita.


Brak.


Pintu tertutup sangat kencang. Mereka menoleh bersamaan. Seketika Sita pun berlindung dibelakang tubuh suaminya. Napas yang memburu, detak jantung menggebu. Ingin rasanya keluar dari tempat yang menurut Sita sangat menyeramkan ini.


"Akhirnya kalian datang juga ... " Sulthan tertawa lalu mendelik tajam. "Aku tahu kalian pasti ke sini karena ingin menanyakan sesuatu bukan?" tanyanya kemudian.


Haris langsung pasang badan. Dadanya dibusungkan, kepalanya terangkat lalu kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Apa yang telah Kakak perbuat pada kedua orang tua Sita?" tanyanya yang tidak kalah tajam menatap kakaknya itu.


"Tapi Kakak akan membuat Sita kehilangan kedua orang tuanya!" Haris tiba-tiba meninggikan suaranya.


"Benar, sungguh cerdas. Maka dari itu, Kakak menyuruhmu menikahinya supaya ... " Sulthan menjeda kata-katanya. Lalu melihat Sita yang berdiri ketakutan. "Supaya Kakak tidak merasa bersalah karena membunuh mertua Kakak sendiri. Karena sekarang, Kakak terbebas dari perjodohan itu dan mereka orang lain bagi Kakak."


"Kak!" bentak Haris lagi. Laki-laki itu begitu sangat ingin melindungi istrinya.


"Atau kamu ingin menukar nyawa mereka dengan dirimu Haris?" tawar Sulthan yang wajahnya kini berubah menjadi iblis.


"Jangan!" Sita berteriak. Entah mendapat keberanian dari mana, kini perempuan itu memberontak. "Jangan biarkan mereka pergi! Aku gak suka dengan kehilangan. Rasa sepi yang selama ini menyelimuti hidupku saja sudah membunuh rasa percaya diriku dan kamu ... " Sita mulai terisak dengan tangisnya. Melepaskan tangannya dari lengan suaminya lalu berjalan menghampiri Sulthan. "Jangan pernah menyentuh mereka, kalau kamu dendam. Bunuh saja aku!" teriaknya tepat di depan wajah Sulthan. Laki-laki itu pun memejamkan matanya.


Haris segera menarik Sita dan menjauh dari kakaknya itu.

__ADS_1


"Sayang, sudah. Tenang ... tenang." Haris memeluknya dan memberinya belaian kasih sayang.


"Apa kesalahan kedua orang tuaku tidak dapat kesempatan kedua darinya Mas? Aku tidak ingin kehilangan mereka. Walau mereka sering meninggalkanku, tapi aku sangat menyayangi mereka, Mas." Sita tergugu dan menyandarkan dagunya di bahu Haris.


"Tidak bisa! nyawa harus dibayar dengan nyawa!" sentak Sulthan dengan amarah yang masih menyelimutinya. Bahkan tangisan Sita pun tidak mampu meredamnya. Kecuali Rima bisa kembali dalam hidupnya, itulah keinginan terbesarnya.


"Mas ... " Sita mengeratkan pelukannya pada suaminya, ia bingung harus dengan cara apa lagi harus memohon pada kakak iparnya itu.


"Apa tidak ada jalan lain Kak?" tawar Haris pada kakaknya.


Sulthan tidak menjawab apapun, ia justru mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Menghubungi seseorang di panggilan terakhirnya.


"Bagaimana?" Sulthan bertanya pada orang yang ada di dalam panggilan itu.


Jedor!! Jedor!!


"Target sudah tidak bernyawa lagi Tuan."


Lalu sambungan telepon itu diputus oleh Sulthan. Rupanya Sulthan rencana pengelabuan untuk membunuh kedua orang tua Sita dan memancing Haris dan Sita untuk menemuinya itu berhasil. Orang-orang yang berada di sekitar rumah yang ditempati Jundi dan Rose sudah bersiap ketika sepasang suami istri itu meninggalkan tempat itu.


"Sekarang lebih baik kamu berdoa, supaya orang tuamu bisa tenang di alam sana."


Sita terperangah lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak! tidak mungkin!" Sita berlari keluar dari sana. Hatinya begitu sakit. Sebegitu berarti kah perempuan itu hingga mampu melenyapkan dua nyawa yang masih dibutuhkan oleh anaknya.


"Aku benci sama Kakak! aku harap setelah ini jangan pernah menemui kami lagi!" ucap Haris dengan nada mengancam. Kemudian pergi dari tempat itu untuk menyusul Sita, istrinya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2