
Mala pergi ke rumah sakit untuk merawat Andra di hari pertamanya. Dia datang membawa beberapa buah apel yang masih segar. Mala menguatkan hatinya untuk terus melangkah meski terasa berat.
Diruang rawat inap Andra, terlihat Wina dan Bu Bella sedang berbincang. Andra tampak tidak senang dengan kedatangan Wina. Dari dulu Andra memang tidak suka dengan Wina yang terus mengejarnya, padahal mereka tampak serasi dan sepadan dengan status sosial yang sama. Tetapi memang tidak ada yang bisa memaksakan cinta. Dan kita juga tidak tahu kepada siapa kita akan jatuh cinta.
Mala mengetuk pintu sebelum masuk agar terkesan sopan. Saat Wina melihat Mala, wajahnya yang semula manis dan ramah berubah kesal dan marah walau terlihat ditahannya. Bu Bella dan Andra tersenyum melihat Mala sudah datang.
Mala meletakkan buah apel yang dibawanya diatas meja. Setelah itu dia mendekati Andra yang terlihat agak kesal padanya.
"Bu Bella, Wina."
Mala berusaha menyapa kedua wanita yang sama-sama tidak menyukainya. Dan berusaha tidak mengingat apa yang pernah mereka lakukan terhadapnya.
"Mala, besok datanglah lebih pagi," kata Bu Bella agak kesal karena hari ini Mala datang terlalu siang.
"Maaf, pagi ini saya harus mengantar anak dan ibu pulang kampung terlebih dulu. Lain kali jika aku ada urusan akan memberitahu terlebih dulu."
"Pulang kampung?! Kenapa kamu membiarkan mereka pulang kampung? Sejak aku di rumah sakit, mereka tidak menjengukku sama sekali. Sekarang mereka malah pulang kampung?!" tanya Andra kesal.
Ketiga wanita itu tidak menyangka reaksi Andra akan berlebihan seperti itu. Bahkan Wina hampir mengatakan hal yang membuat Andra marah.
"Andra, untuk apa mereka menjengukmu? Mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu. Harusnya kamu sadar itu?!" kata Wina menyulut emosi Andra yang masih dalam hidup dalam dunia khayalnya.
"Kamu bilang apa, mereka tidak ada hubungannya dengan aku? Mala adalah calon istriku dan mereka adalah anak dan mertuaku. Kamu yang harusnya sadar dan jangan selalu mencari masalah dengan Mala! Argh..." kata Andra yang kemudian diikuti teriakannya karena kepalanya terasa sakit.
Semua menjadi panik terutama bu Bella.
"Ayo kamu keluar dulu Wina. Kapan-kapan kamu boleh menjenguknya lagi," kata bu Bella sambil menarik Wina keluar dari ruangan.
Mala segera mendekati Andra dan berusaha menenangkannya agar sakit kepalanya bisa berkurang. Andra memang tidak boleh marah ataupun berpikir terlalu berat.
__ADS_1
"Andra, tahan emosimu. Jangan marah. Wina tidak bermaksud begitu, dia hanya bingung saja. Minum obatnya dulu," kata Mala sambil memberikan obat pada Andra.
Mala mengambilkan air minum untuk Andra. Dan setelah minum obat, Andra mulai agak tenang dan nyaman.
"Mala, bolehkah aku bertemu anak dan ibumu?" tanya Andra setelah dia tenang.
"Saat ini belum bisa, mereka sudah pulang karena ada urusan. Tunggu sampai kamu sembuh, kamu bisa pergi menemui mereka di kampung."
"Bagaimana dengan kuliahmu? Apakah kamu masih bisa kuliah sambil merawatku?" tanya Andra khawatir.
"Bisa, Aku sudah membuat daftar mata kuliahku, aku akan bisa mengatur waktunya. Asal kamu setuju," kata Mala jujur.
"Tentu aku akan menyetujui apapun asal kamu bahagia. Itu adalah impianmu, jadi aku ingin kamu mewujudkannya." kata Andra pelan." Terimakasih Andra, atas pengertianmu," kata Mala sambil tersenyum.
Diluar, Bu Bella menasehati Wina dengan agak keras.
"Wina, saat ini Andra masih dalam masa pemulihan. Tante tidak mau kamu menjadi penghalang bagi Andra untuk sembuh, jadi mulai sekarang kamu tidak perlu menemui Andra lagi."
"Jika sudah waktunya, Tante sendiri yang akan memberitahumu kapan kamu bisa menemui Andra."
"Baik Tante," jawab Wina dengan agak kesal.
Tetapi harapan yang masih diberikan bu Bella padanya, masih bisa membuatnya berharap.
*****
Dicko mengantar Gala dan bu Sri Sampai dirumahnya dengan selamat. Masih dengan kenangan lama yang membuat Dicko kembali termenung. Hal itu membuat Gala khawatir dengan ayahnya.
"Ayah Dicko, kita pergi ke pantai yuk. Katanya mau menemani Gala main pasir?" tanya Gala pada ayahnya yang sempat kaget dengan sentuhan Gala di kulit lengannya.
__ADS_1
"Ayah Dicko pasti masih capek, biarkan ayah Dicko istirahat dulu," kata neneknya sambil membawa tas Gala.
"Tidak juga bu, aku akan menemani Gala bermain sesuai janji aku padanya kemarin."
"Hore..."
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lama-lama Gala. Ayah harus istirahat sebelum pulang kembali ke kota," kata sang nenek.
"Aku akan kembali besok saja bu, malam ini aku akan menginap untuk menemani Gala." kata Dicko membuat Gala bertambah senang.
Gala lalu meminta ayahnya jongkok dan Gala dengan cepat mencium pipi ayahnya.
"Tunggu, kenapa begitu cepat. Coba ulangi," kata Dicko sambil tersenyum.
Gala dengan pelan mencium kedua pipi ayahnya bergantian. Setelah itu Dicko pun membalas dengan mencium kedua pipi Gala dan mencium hidung Gala yang mancung seperti hidungnya.
Kasih sayang ayah dan anak itu pasti membuat orang iri. Bukti cinta yang nyata antara Mala dan Dicko adalah Gala. I Love you, my son.
##########
Bersambung ...
Sambil menunggu up selanjutnya, author rekomendasikan novel yang apik ...karya temanku IBN Muchsin berjudul Antara Jeritan dan Harapan.
Happy reading...
NB : novel ini masih dalam tahap revisi
__ADS_1
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya