Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Ada Yang Berbeda


__ADS_3

Pesawat yang telah ditumpangi oleh Haris dan Sita sudah take off sejak beberapa menit yang lalu. Keduanya tampak tenang, karena ini bukan pertama kali Haris maupun Sita naik pesawat.


Kelas yang mereka tempati masuk dalam kategori eksekutif, fasilitasnya pun tidak dapat diragukan lagi. Saat telah berada di atas dan hanya terlihat lautan awan dari kaca jendela pesawat, ini sudah dibilang fase yang sangat tenang. Mereka pun duduk saling berhadapan dengan space untuk meja di tengahnya.


"Mas."


"Iya, kenapa Sayang?"


Mata keduanya saling bertemu. Namun tubuhnya masih tetap bersandar di sandaran kursi yang empuk dan nyaman itu.


"Setelah kamu berhasil mempertemukan aku dan kedua orang tuaku. Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Sita sambil menautkan kedua tangannya sendiri yang ia letakkan di atas pahanya.


"Aku akan memindahkan kalian ke tempat yang menurutku aman dari jangkauan kak Sulthan."


"Sampai kapan?"


"Sampai dimana aku mendapat sebuah jawaban kalau kak Sulthan udah sembuh dan memaafkan kedua orang tuamu, terutama ayahmu."


Sita seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tertegun sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Apa setelah kami pindah, kamu akan kembali ke Australi?"


"Ya, karena masih ada pekerjaan yang mesti aku pantau di sana. Tapi kamu tenang aja, aku akan menemui kalian lagi."


Hanya helaan napas panjang yang dihembuskan oleh Sita. Perasaannya masih ragu untuk mempercayai hal itu. Ternyata rasa cinta itu, tidak membuatnya mampu percaya begitu saja kepada Haris.


"Baiklah." Sita duduk tenang kembali di kursinya. Tidak ada lagi kata pun yang keluar dari mulutnya.


******


Setelah menempuh kurang lebih delapan belas jam penerbangan, kini pesawat yang ditumpangi oleh Sita dan Haris telah mendarat di EuroAirport Basel Mulhouse Freiburg.


__ADS_1


Mereka pun turun dari badan pesawat menuju lobby untuk mengurus visa. Setelah beberapa menit, urusan itupun selesai.


Haris menuntun Sita berjalan ke sebuah taksi di depan lobby kedatangan. Keduanya pun masuk ke dalam mobil taksi tersebut.


Haris pun mengambil secarik kertas dari dalam map coklat yang sedari tadi di tangannya. Lalu menyebutkan sebuah alamat yang sesuai di kertas. Sopir pun melajukan mobilnya kemudian.


Sepanjang perjalanan, Sita hanya terdiam. Dalam hatinya penuh dengan doa. Berharap ada sebuah titik terang tentang teka-teki selama ini. Sita tidak berharap banyak, hanya sebuah kejujuran yang harus ia dapatkan.


Sekitar sepuluh menit perjalanan dari bandara ke alamat yang di sebutkan oleh Haris tadi, mobil pun berhenti di depan sebuah rumah berlantai tiga dan berwarna hijau. Tidak mewah dan tidak juga sederhana. Mungkin bisa dibilang sangat asri, karena banyak pepohonan yang mengelilingi rumah itu.


Sita membuka kaca jendelanya. Melihat ke bangunan yang ada di hadapannya itu.


"Apa Mas yakin ini rumahnya?" tanya Sita dengan pandangan yang tak beralih dari rumah tersebut.


"Ya, menurut informasi yang aku dapat begitu. Ayok turun!" Haris memberikan beberapa lembar dolar pecahan $50. Kemudian, ia pun mulai membuka pintu.


"Thank you, Sir!" ucap Haris sebelum turun dari mobil.


Mendengar Haris mulai turun dari mobil, Sita langsung menaikkan kaca mobilnya kembali, lalu ikut turun. Mobil taksi pun pergi dari hadapan mereka.


Haris mengulurkan tangannya kepada Sita supaya dapat di genggam, Sita yang menyadari hal itu dengan senang hati menyambutnya. Keduanya pun masuk ke dalam rumah itu melewati sebuah gerbang kecil.


Setelah pintu gerbang terbuka, kedua pasang kaki itu berjalan beberapa langkah lalu terhenti. Mata mereka mengedar ke sekeliling. Meneliti satu persatu benda dan pepohonan yang ada di rumah itu.


Sita mengangkat sedikit kedua sudut bibirnya. Halaman rumah itu tampak rapi dan juga bersih. Walau banyak pohon di sana, tapi tidak ada daun kering dan juga ranting yang terhampar di sana. Ia mungkin bisa sedikit bernapas lega, artinya kalau memang Sulthan yang merencanakan semua ini. Rumah yang ditinggali kedua orang tuanya masih dibilang cukup layak.


"Ayok masuk!" ajak Haris seraya menarik tangan Sita yang digenggamnya sejak tadi. Kemudian, setibanya di depan pintu. Bel pun dibunyikannya.


Sesaat setelahnya, pintu pun terbuka. Tampak seorang perempuan paruh baya yang muncul dari balik pintu itu. Namun, hati Sita terenyuh, matanya menatap nanar perempuan itu.


Wajah perempuan itu tampak pucat pasi. Tidak ada warna merah yang melekat di bibirnya. Tidak seperti yang Sita lihat sebelumnya. Tidak ada make up yang melekat apalagi wewangian. Hampa dan hambar, itulah yang sekilas Sita tangkap dari sorot mata perempuan itu.


"Bunda ... " panggil Sita dengan lirih. Dalam hitungan detik, ia menghambur ke perempuan itu. Dipeluknya sangat erat.

__ADS_1


Perempuan itu masih termangu. Lama kelamaan, ia ikut memeluk Sita. Air matanya terjatuh begitu saja tanpa permisi.


"Kenapa kalian bisa tahu kami di sini?" tanya perempuan itu dengan mata yang berkaca-kaca, sambil menatap Haris lalu melepaskan pelukannya. Sita maupun Haris masih enggan untuk menjawab. Karena keduanya tahu, kalau mereka butuh waktu yang tepat untuk berbicara, dan sekarang bukan waktunya.


"Apa kami boleh masuk ke dalam, Bunda?" tanya Haris yang meminta izin kepada Rose.


"Iya, iya silahkan." Rose mempersilahkan dan memberi jalan untuk kedua anaknya supaya bisa masuk ke dalam.


Sita pun kembali terperangah dengan kondisi yang ada di dalam rumah itu, begitupun dengan Haris.


"Apa rumah sebesar ini Bunda yang membersihkannya?" tanya Sita yang tidak percaya. Rumah itu tampak rapi dan juga bersih, seperti layaknya rumah yang terurus dengan baik.


"Iya Nak, siapa lagi kalau bukan Bunda. Ayok duduk!" seru Rose dengan senyumannya yang tampak tulus.


Ada rasa kebanggan tersendiri untuk Sita, karena selama ini ia tidak pernah melihat Rose bekerja keras di rumah. Semua urusan rumah pun telah di serahkan seluruhnya kepada para pelayan.


Kalau di lihat-lihat, bunda kurusan deh. Padahal baru beberapa hari tinggal di sini. Tapi kalau di pikir-pikir membersihkan rumah sebesar ini sendi termasuk halaman yang cukup luas setiap hari melelahkan juga. Tapi tunggu ... kemana ayah?


"Sebentar ya, Bunda ambilkan minum untuk kalian."


"Jangan Bunda, nanti biar aku sendiri aja yang ambil. Bunda duduk aja sini. Lagi pula kita belum haus kan, Mas?" Sita menoleh ke arah Haris sambil mengerling. Haris yang mendapat kedipan mata itu hanya tersenyum jenaka.


"Iya kamu benar, Sayang."


Rose pun akhirnya duduk bersama mereka. Tanpa Sita dan Haris tahu, perasaan kini sedang gelisah. Jemari tangannya pun tak henti-hentinya bergerak cepat di atas pahanya.


"Bunda kenapa? ada masalah?" tanya Sita yang menyadari pergerakan tangan Rose. Ia mengernyit dan sedikit memiringkan kepalanya.


Rose seketika tak bergeming. Lidahnya terasa kelu. Detak jantungnya pun seperti sedang maraton sembilan musim.


"Omong-omong ayah kemana, Bun?" tanya Sita kembali sambil menengok ke ruangan yang lain. Sebab, bentuk ruangan di lantai satu itu hanya dibatasi oleh penyekat saja.


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹 ...

__ADS_1


__ADS_2