
Mala masih dengan hati cemas berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa cemasnya.
Kenapa dokter sangat lama sekali memeriksa kondisi suamiku, ucapnya dalam hati.
Mala menelepon bibik untuk menjemput Gala di sekolah dengan alasan saat ini urusan Mala belum selesai. Mala juga memberitahu Agam untuk menghandle masalah perusahaan untuk sementara waktu dan memberitahu Agam tentang kecelakaan yang menimpa Dicko.
Meski Agam sangat kaget dan ingin melihat kondisi bosnya, Mala melarang Agam datang dan tetap fokus pada urusan perusahaan. Dengan begitu, Mala bisa fokus mengurus suaminya tanpa takut pekerjaaan suaminya terbengkalai.
Akhirnya sang dokter keluar dari ruang gawat darurat. Mala segera mendekati dokter tersebut dan menanyakan kondisi suaminya saat ini.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya dok?" tanya Mala panik.
"Tenang nyonya, suami anda baik-saja. Dia hanya mengalami gegar otak ringan dan retak tulang di bagian kaki kanan dan tangan kanannya. Selain itu semua baik-baik saja," kata sang dokter.
"Syukurlah kalau begitu. Saya lega mendengarnya," kata Mala mulai tenang.
"Sebentar lagi, pasien akan segera dibawa ke ruang rawat inap. Apakah semua prosedur sudah rawat inap sudah dipenuhi?" tanya sang dokter lagi.
"Sudah dok," jawab Mala.
"Baik, saya pergi dulu. Masih banyak pasien yang memerlukan bantuan saya," kata sang dokter.
"Terimakasih dok," ucap Mala senang.
Mala menunggui Sampai suaminya dipindahkan keruang rawat inap kelas VIP. Namun sang suami masih belum juga sadar. Setelah beberapa lama, akhirnya Dicko membuka matanya.
"Mas, kamu sudah sadar," terdengar samar-samar suara Mala di telinga Dicko.
Dicko melihat ke sekelilingnya dan dia tampak kaget.
"Sayang, aku dimana? Apa aku masih hidup?" tanya Dicko bingung.
__ADS_1
"Tentu saja mas Dicko masih hidup. Sekarang mas ada di rumah sakit. Mas jangan bercanda dong, aku jadi pingin nangis," kata Mala sedih.
"Sayang, jangan menangis. Mas ingat, bagaimana kondisi calon bayi kita?" tanya Dicko.
"Aku dan calon bayi kita baik-baik saja. Mas Dicko tidak perlu khawatir."
"Tangan dan kakiku sakit semua, aku tidak tega harus membuatmu menjagaku. Apalagi sekarang kamu sedang hamil," kata Dicko sedih.
"Mas, terimakasih sudah menjagaku dan anakmu. Tentu aku tidak akan pernah mengeluh menjagamu. Dulu, aku menjaga Andra selama lebih dari setahun, walaupun dengan status sebagai pengasuh dan mendapatkan gaji. Sekarang aku harus lebih merawatmu sebagai seorang istri, dan ayah dari anak-anakku."
"Sayang, aku percaya kamu bisa menjaga diri dan kehormatan saat kamu berada didekat Andra walaupun saat itu aku sempat berpikir buruk tentang kalian," ucap Dicko pelan.
"Benarkah? Apa itu?!" tanya Mala.
"Tapi janji kamu jangan marah ya?"
"Hmm, aku janji."
"Aku pikir kalian akan terbawa suasana dan kalian khilaf. Secara Andra sangat-sangat mencintai kamu. Tapi saat aku melihat kamu bersikap profesional dalam merawatnya, aku sangat mengagumimu. Aku lebih ingin kembali rujuk dengan kamu. Bukan demi Gala atau keadaan, tapi karena aku memang telah jatuh cinta padamu."
"Kebohongan Andra adalah berkah untukku. Jika dia tidak berbohong, mana mungkin sekarang aku bisa bersama denganmu," ucap Dicko sambil bercanda.
"Jadi mas Dicko senang aku dibohongi? Tega sekali ayahmu nak?" kata Mala pura-pura sedih.
"Mala, kamu itu terlalu lugu dan polos. Setiap orang yang baik padamu kamu akan berkali-kali berusaha membalas kebaikan mereka. Jangan seperti itu lagi. Aku tidak melarangmu berbuat baik, tapi aku juga ingin kamu menjadi wanita yang kritis melihat situasi atas kebaikan orang. Jangan sampai dimanfaatkan dan ditipu lagi."
"Iya mas. Lain kali aku akan waspada dan hati-hati dalam bertindak."
"Oh ya Mala. Sepertinya orang yang menabrakku itu sengaja deh. Dan tujuan utamanya itu kamu," kata Dicko.
"Masa sih mas. Aku merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun."
__ADS_1
"Mungkin itu hanya perasaan aku saja," kata Dicko sambil menghela nafas."Kamu pulanglah, aku tidak apa-apa sendirian di sini. Suasana rumah sakit, tidak bagus untuk anak kita."
"Mas, aku ingin menjagamu. Kenapa kamu malah mengusirku," kata Mala kesal.
"Sayang, jangan marah. Baiklah kamu boleh tetap menemaniku, tapi sekarang kamu istirahatlah."
"Iya mas. O ya, aku sudah beritahu Agam untuk menghandle pekerjaan kamu untuk sementara. Mas tidak keberatan kan?!" tanya Mala.
"Kamu benar. Untuk apa aku keberatan. Lagipula tangan dan kakiku hanya retak sedikit saja. Sebentar juga pasti sembuh."
"Kenapa mas, kok sedih?"
"Padahal aku yang ingin merawat dan memanjakan kamu. kok malah kamu yang harus merawatku."
"Kalau begitu cepet sembuh. Biar aku bisa minta kamu masak lagi."
"Tentu, aku memang harus segera sembuh untuk kamu, Gala dan anak dalam kandunganmu.
Mala memeluk tubuh suaminya yang masih dalam keadaan lemah. Mala juga tidak lupa selalu berdoa agar sang suami cepat sembuh.
######
Bersambung...
Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan satu novel apik karya teman otor bernama Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti berjudul Mr . Arrogant
Novel ke 2 ku, tolong hargai ya.
Kisah seorang gadis yang terjebak dengan perjanjian bos-nya... Ia sudah janji kepada diri sendiri agar tidak jatuh kepada sang bos namun sayang ia mengingkari janji-nya sendiri dan jatuh kepada sang bos-nya.
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka? Apakah cinta Nesa terbalas?
Yuk langsung baca aja