
Sulthan telah melihat kedatangan Haris (adiknya) yang tinggal di Australia itu sejak di restoran tadi. Sayangnya, tadi Haris tidak melihat keberadaannya di sana.
Setelah mengantar Sita, Sulthan pun lekas pergi ke apartment miliknya. Saat ia tiba ... ternyata benar, Haris telah berada di sana.
Seperti biasa, Sulthan langsung masuk ke dalam setelah Haris membukakan pintunya. Haris merasa bingung karena biasanya Sulthan selalu bertanya keberadaannya terlebih dahulu ketika sedang berada di sini. Apartment ini hanya digunakan jika Haris berkunjung ke sini.
"Tapi, aku ... gak bisa lama-lama di sini, Kak." Haris pun ikut duduk di sofa bersama Sulthan.
"Hanya tiga hari di sini apa gak bisa? aku lagi butuh bantuanmu." Sulthan bersilang tangan di dadanya. Haris mendesah pelan.
"Bantuan apa Kak? kenapa Kakak gak bilang lewat telepon aja sih!" Haris menggerutu kesal. Karena ia harus rela meninggalkan pekerjaannya demi kakak laki-laki yang selalu membuat jengkel dirinya.
"Ya sabar, ini baru mau kakak jelasin ke kamu," ujar Sulthan yang masih bersikap tenang.
"Ya, cepatlah!" Haris mulai tidak sabar sambil mendengkus kesal.
__ADS_1
"Jadi, papi sama mami Salmah (ibunya Sulthan) ternyata nitipin amanah ke Kakak. Mereka bilang akan menjodohkan Kakak dengan anak temannya. Namanya Sita Arkania Ranggalih, usianya dua puluh dua tahun. Berhubung—"
"Berhubung Kakak udah nikah terus mau limpahin ke aku, gitu?" tanya Haris yang memotong ucapan Sulthan.
"CER-DAS!" Sulthan tersenyum pongah. Lalu berkata, "Bagaimana? apa kamu bersedia?"
Haris mengangkat sebelah alisnya dan menatap Sulthan penuh arti.
"Cantik gak, Kak?" Haris menegakkan posisi duduknya.
"Ya ... kalau menurutku sih, cantik. Tapi gak tau deh kalau menurutmu." Sulthan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur yang letaknya berdampingan dengan ruang tamu.
Sulthan hanya menggeleng. Rima (Istrinya Sulthan) memang tidak tahu-menahu soal perjodohan dari kedua orang tua Sulthan. Saat menikah dengannya pun, sebenarnya mendiang kedua mertuanya pun tidak memberi restu. Hanya karena rasa cintanya Sulthan terhadap Rima, kedua orang tuanya pun akhirnya memberi restu untuk mereka.
"Kenapa?" tanya Haris yang masih berusaha mencari tahu alasan di balik keputusan Sulthan.
__ADS_1
"Karena sebentar lagi, Kakak kan gak punya hutang janji dengan keluarga Ranggalih," ucap Sulthan dengan santai. Haris menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran sofa sambil mendesah pelan.
"Tapi, apa setelah menikah dia mau aku ajak ke Australi ya, Kak?" tanya Haris yang mulai ragu. Sebab, di sana dia tinggal sendiri. Ibunya Haris pun telah meninggal saat melahirkannya.
"Kamu bisa tanyakan sendiri kepadanya. Jika tidak, kalian long distance." Sulthan menenggak minuman yang tadi sempat ia ambil dari dalam lemari es.
Haris terdiam, otaknya sedang berpikir keras. Diusianya yang menginjak dua puluh tiga tahun ini, memang untuk menikah ... ia sama sekali belum kepikiran sebenarnya. Tetapi, mengingat Sulthan yang sudah sangat berharga dalam hidupnya, ia pun akhirnya angkat bicara.
"Baiklah Kak, aku terima demi Kakak. Tapi, bisakah aku mengenalnya lebih dulu?" pinta Haris dan diberi jawaban sebuah anggukkan kepala oleh Sulthan.
"Besok, Kakak akan mengantarmu bertemu dengannya. Oh iya, Sita orangnya tertutup. Jadi tunjukkan kelebihanmu dalam menaklukan wanita. Kakak sangat berharap, kalian cocok dan bisa segera menikah." Sulthan kemudian menaruh minumannya di atas meja lalu pergi ke arah toilet.
Sementara Haris, mulai membayangkan kehidupannya setelah ini.
Menikah dengan seseorang yang sama sekali gak aku kenal. Ck! haruskah sekarang waktunya? bahkan aku belum lama ini memegang perusahaan di Australi. Ya Tuhan, emosiku aja masih belum stabil.
__ADS_1
Haris mengusap kasar wajahnya, lalu bangkit dan pergi ke dalam kamar.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...