Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Masa lalu Reno


__ADS_3

Flashback on


Setelah di tolak oleh keluarga Shella, Reno pergi dengan membawa sakit hati dan rasa kecewa yang dalam. Apalagi setelah tahu Shella hamil dan disembunyikan oleh orangtua Shella ke tempat yang tidak Reno ketahui.


Reno menjadi hilang arah dan putus asa. Reno memutuskan meninggalkan kota tempat tinggalnya dan mencari Shella keberbagai tempat di luar kota. Hingga akhirnya dia menjadi gelandangan di jalanan.


Suatu hari Reno mengalami kecelakaan tabrak lari. Keadaannya sangat parah dan dia mengalami banyak kehilangan darah sehingga membutuhkan transfusi darah. Saat itu Mona yang mendonorkan darahnya untuk Reno sehingga Reno bisa di selamatkan.


Akhirnya demi membalas budi, Reno bersedia menikahi Mona yang seorang janda beranak satu. Saat itu Lilis masih berusia satu tahun. Namun sebelum menikah, Reno menceritakan kisah hidupnya pada Mona. Hati Reno sudah menjadi milik orang lain. Mona bersedia menerima Reno dan menikah tanpa cinta demi perusahaan peninggalan suaminya yang terancam bangkrut karena kehilangan pemimpin.


Reno kini menjadi CEO di perusahaan peninggalan suami Mona. Dan perusahan itu berkembang dengan baik hingga kini bisa diturunkan pada anak menantunya, yaitu suami Lilis.


Meskipun Reno tidak pernah bisa mencintai Mona, tetapi dia menjalankan kewajibannya sebagai suami dan ayah yang nyaris sempurna. Bahkan Reno tidak pernah melirik wanita manapun demi janji pernikahan dengan Mona.


Setahun yang lalu, Mona meninggal karena sakit jantung.


Flashback off


Pak Reno mengerutkan dahinya dan menarik nafas dalam-dalam. Meski kali ini kembali untuk sang ibu, pak Reno juga tidak dapat membohongi hatinya jika dia berharap bisa bertemu dengan Shella sang mantan.


Pak Reno sangat ingin tahu bagaimana keadaan Shella, akan tetapi pak Reno tahu jika Shella ada di luar negeri dan tidak mungkin ada di sini. Dia menutup rapat-rapat harapannya agar tidak kecewa.


Esoknya, pergilah dia ke rumah ibunya. Dengan mengendarai mobil mewahnya. Ibunya sekarang tinggal bersama adik bungsunya yang bernama Tika.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam..." jawab Tika.


"Tika..."


"Mas Reno? Akhirnya kamu datang juga mas secara terbuka," kata Tika sambil memeluk sang kakak.


"Iya, Tik. Butuh waktu 25 tahun untuk mas bisa kembali sebagai Reno yang kalian kenal. Maafkan mas Reno," kata pak Reno penuh penyesalan.


"Yang penting mas Reno baik-baik saja, kami sudah sangat senang. Duduklah dulu, ibu sedang istirahat. Aku akan melihat dan memberitahunya terlebih dulu agar ibu tidak terkejut melihat kehadiranmu," kata Tika lalu dia berlalu pergi menuju kamar ibunya.


Tika berhenti di depan pintu. Sesosok wanita yang sudah lanjut usia tengah tidur dengan posisi memojok di sudut ranjangnya. Tika berjalan perlahan mendekatinya untuk melihat lebih jelas jikalau sang ibu sudah bangun.

__ADS_1


Ibunya perlahan membuka matanya saat Tika sudah sampai di dekat tempat tidur ibunya.


"Tika...," ucap ibunya pelan.


"Ibu, ibu sudah bangun? Apa kedatangan Tika membangunkan ibu?" tanya Tika.


"Tidak, Tika. Ibu terbangun karena ibu sedang bermimpi tentang kakak kamu, Reno. Bagaimana kabar dia sekarang? Apakah dia sehat-sehat saja?" tanya sang ibu.


Tika membantu ibunya bangun dan duduk di tepi ranjang. Tangannya yang sudah sangat keriput berusaha meraih gelas berisi air minum yang ada di sampingnya.


"Ibu, sebenarnya mas Reno juga tidak melupakan kita sepenuhnya. Dia masih menyayangi ibu," kata Tika berusaha membuat sang ibu tidak sedih.


"Apa maksudmu Tik?"


"Ibu, sebenarnya mas Reno ingin sekali bertemu ibu. Terakhir kali dia menghubungi Tika dan ibu, dia bilang dia akan pulang kembali pada ibu. Ibu masih ingat?" tanya Tika sambil menatap wajah ibunya yang tampak sedih.


"Ibu ingat. Tetapi Samapi hari ini dia juga belum pulang. Ibu tidak ingin apa-apa darinya kecuali kedatangannya kesini."


"Iya Bu. Mas Reno mengirimkan uang untuk ibu dan Tika setiap bulannya, tetapi memang tidak bisa mengobati rasa kangen kita padanya."


"Tentu saja Tika. Itu yang sangat ibu harapkan," kata ibunya Tika.


"Ibu, mas Reno ada diluar sekarang. Tika antar ibu menemuinya," kata Tika membuat sang ibu senang.


"Benarkah? Cepat bawa ibu menemuinya."


Tika membantu ibunya berjalan perlahan-lahan menuju ke ruang tamu. Ibu wati tertegun melihat putra sulungnya berdiri membelakanginya. Rasa rindu yang menjeratnya kini akan terobati dengan kedatangan putranya.


"Reno..."


Reno terkejut mendengar suara ibunya memanggil namanya. Dia membalikan badannya dan menatap wanita yang sudah mulai menua. Ibunya tampak sangat sedih melihat putranya yang sudah hampir 25 tahun tidak dilihatnya dan hanya suaranya saja yang selama ini didengarnya itupun hanya lewat telepon.


Reno berjalan mendekati sang ibu dan bersujud memohon ampun karena telah meninggalkan keluarga selama hampir 25 tahun lamanya. Reno menangis demikian juga dengan ibu dan adiknya.


"Berdirilah nak, tempatmu bukan di kaki ibu, tetapi di hati ibu," kata sang ibu sambil menarik tubuh Reno pelan.


"Ibu maafkan Reno," kata Reno sambil memeluk ibunya.

__ADS_1


Suasana rumah Tika menjadi penuh keharuan. Reno dan sang ibu saling melepaskan rindu. mereka mengobrol di ruang tamu sambil sesekali Reno melihat kearah ibunya yang sudah sangat berubah sejak terakhir kali dia melihat ibunya sebelum kematian sang ayah.


"Ibu, duduklah. Jangan berdiri terlalu lama, nanti ibu kecapekan," kata pak Reno sambil memapah ibunya duduk di sofa.


Pak Reno duduk didekat ibunya sambil menatap wajah keriput ibunya yang usianya sudah hampir 63 tahun. Suasana menjadi hening sesaat karena mereka sama-sama terbawa perasaan masing-masing.


Tika sengaja membiarkan ibu dan anak melepas rindu. Dia memasak untuk mereka nanti makan siang. Ini akan menjadi pertama kalinya Reno makan bersama keluarganya kembali.


"Reno, kenapa kamu pulang sendirian. Mana anak dan cucu ibu?" tanya sang ibu pelan.


"Mereka hari ini tidak bisa ikut ke sini. Dodi sedang kurang sehat," jawab Reno.


"Apa? Cucu ibu sedang sakit?" tanya ibu sambil batuk beberapa kali.


"Apakah ibu sakit? Kenapa ibu batuk-batuk terus?" tanya pak Reno khawatir.


"Ibu sudah tua. Terkadang ibu batuk dan tidak enak badan," jawab sang ibu.


"Reno antar periksa ke rumah sakit. Kebetulan, anakku Lilis seorang dokter penyakit dalam dalam. Bagaimana ibu?" tanya pak Reno cemas.


"Tidak perlu, nak. Ibu baik-baik saja."


"Kedatangan Reno kemari, ingin menjemput ibu. Reno ingin membahagiakan, dan meminta u untuk tinggal bersama kami.," kata pak Reno memohon.


Sang ibu hanya terdiam dan melihat ke arah putranya yang terus memandanginya dengan tatapan sedih.


"Apakah Tika akan mengizinkan ibu pergi ikut denganmu?" tanya sang ibu lagi.


"Tentu bu. Kemarin aku sudah membicarakan semuanya dengan Tika."


"Benarkah?"


"Asal ibu setuju, besok Reno akan jemput ibu," kata Reno.


"Baiklah. Tapi bukannya ibu ingin selamanya ikut denganmu. Ibu hanya ingin mengenal lebih dekat cucu dan cicit ibu," jawab ibunya sambil tersenyum.


Pak Reno merasa sangat senang mendengar jawaban ibunya. Apakah sang ibu juga akan merindukan Mala dan Gala setelah tahu anak Reno dan Shella masih hidup?

__ADS_1


__ADS_2