Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Ini Seperti Mimpi


__ADS_3

Di antara awan dan udara, badai teriak menghantam cinta. Bila aku sanggup menghentikan putaran waktu, akan kudekap engkau sampai mati.


*********


Sita melepaskan sling bag dari pundaknya, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Kemudian dinyalakannya layar ponsel tersebut.


📨Mas Haris


Jangan lupa langsung mandi dan beristirahat. Nanti malam aku akan video call kamu.


Helaan napas panjang pun berhembus begitu saja. Sita tidak langsung menjawabnya, melainkan menaruh ponselnya di sebelahnya.


Sita memijat keningnya yang cukup terasa pening. Bagaimanapun dia harus kuat seminggu ini harus menyelesaikan tugas dari dosen pembimbing itu.


Tanpa sengaja pandangannya melihat kotak pemberian haris kemarin, ia bangkit lalu berjalan menuju meja belajar dan duduk di kursi beroda itu.


Kotak itu di sentuh lagi oleh Sita, dan membaca surat yang ada di dalam amplop itu kembali. Sesaat kemudian, ia menaruh kembali secarik kertas itu di atas meja. Kedua tangan yang juga di taruh di sana, lalu tangan sebelah memangku kepalanya. Sementara tangan lain mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.


Otaknya mulai berpikir keras, mencoba memahami semuanya dari awal. Hingga dia sampai di titik ini.


Kapan ya kira-kira aku pindah ke apartment yang udah disiapin mas Haris itu? rasanya aku masih nyaman di kamarku sendiri ... hufftt ... tapi aku harus ikut suami ... dan sampai saat ini, aku merasa menikah sama bayangan. Dia tau apa yang aku lakuin, tapi wujudnya gak ada. Ya Tuhan, bisakah aku menawar pada takdir waktu yang telah Engkau berikan?


Ini memang bukan perkara hidup dan mati hati seseorang, tapi nyata atau tidaknya seorang pasangan di hidup kita. Mencintai itu memang mudah, apalagi jika enak saat dilihat. Tapi coba untuk membuka mata, melihat sisi lain orang yang kita cintai itu apa adanya. Bisakah cinta itu datang dengan mudah? jawabannya tentu tidak.


Sita menyandarkan punggungnya di sandaran kursi itu, lalu menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Sebuah kursi yang fleksibel dan sangat nyaman ia duduki saat ini.


Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan pergi ke kamar mandi.


*****


Malam pun telah datang, Sita baru saja selesai mendapatkan beberapa bahan untuk tema skripsinya. Saat ia melihat ke jam dinding, sudah waktunya makan malam.


Sita menghentikan kegiatannya sejenak, lalu keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Masih sama, sepi dan hanya dia yang akan makan di barisan kursi di meja panjang itu.


Para pelayan pun masih sibuk menata beberapa makanan di atas meja. Walau tidak banyak, tapi cukup untuk makan malam Sita kali ini.

__ADS_1


Setengah jam sudah Sita mengisi perutnya. Terasa penuh dan ...


Aaaaaaaueeegh! legaaa ....


Sita pun akhirnya kembali ke kamar. Ia ingat akan Haris yang akan melakukan video call dengannya. Mungkin sedikit sentuhan make up lebih enak jika dilihat nanti, pikirnya demikian.


Polesan make up tipis dengan bedak compact, lipstik nude serta mascara pun telah selesai ia tancapkan di wajahnya. Tampak lebih fresh dan lebih muda dari usianya.


Sita menyiapkan stand ponsel supaya lebih nyaman. Detak jantungnya pun mulai tidak keruan. Seperti ada darah yang berdesir cukup cepat. Kini ia telah siap.


Detik di jam dinding itu terus berputar pada porosnya, seperti bumi ini. Ia tidak akan pernah berhenti sebelum waktunya tiba. Tetapi telah satu jam lamanya Sita duduk menunggu Haris memanggilnya lewat sambungan video call itu. Nyatanya, basi!


Sita sudah kelewat sabar untuk hal ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


Menikah dengan orang yang emang sejak awal gak saling cinta, ujiannya sangat luar biasa. Eh! tapi ... apa aku jatuh cinta sama mas Haris? Kenapa harus aku yang lebih dulu? Kenapa juga bukan mas Haris?


Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian pergi ke kamar mandi. Baru kali ini dia merasa di kecewakan, hatinya seketika kacau seperti lagu balonku.


Entah sejak kapan, air matanya keluar dari mata indah itu. Fix, Sita sudah benar-benar mencintai Haris.


Minimnya mengolah rasa untuk dirinya sendiri, itulah salah satu kelemahan Sita. Kebiasaannya yang sering di rumah dan jarang berinteraksi dengan orang lain, membuat Sita merasa rasa di dunia ini hanya satu, CINTA yang dikemas dalam balutan kebahagiaan.


Setelah membersihkan riasan make up, ia pun memilih naik ke atas kasur lalu tertidur. Ia merasa penat jika terus memikirkan tentang Haris yang seolah-olah membuatnya seperti boneka yang mau dipermainkan olehnya.


******


Suara alarm dari ponselnya telah berbunyi, Sita membuka matanya lebar-lebar dengan sebelah tangannya yang berusaha meraih ponselnya itu. Setelah di dapat, ia pun menggeser ikon di layar itu supaya off.


Sita melihat ke layar ponselnya kembali, memastikan kalau Haris benar-benar menghubunginya. Tetapi hasilnya nihil, tidak ada notifikasi apapun. Lagi-lagi, ia harus menelan rasa kecewa itu.


Pagi ini, ia memutuskan untuk di rumah saja. Tidak ke kampus atau pun beli buku. Ia harus fokus menyelesaikan study-nya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.


Sehabis mandi dan masih balut bathrobe dan lilitan handuk di kepala, Sita kembali ke kamarnya untuk menyalakan laptop dan juga ponsel lamanya. Sambil menunggu keduanya siap, Sita pun kembali ke walk in closet untuk memakai pakaiannya.


Sesaat kemudian, Sita mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Dirinya mengernyit seraya menggantungkan bathrobe dan handuk kecil di hanger. Kemudian berjalan menghampiri pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Pagi Non." Ternyata salah seorang pelayan rumahnya yang mengetuk.


"Ada apa, Bi?" tanya Sita dengan wajahnya yang datar.


"Non mau sarapan di kamar atau di ruang makan?" Pelayan itu berbicara lemah lembut padanya.


"Minta tolong antarkan ke kamar aja ya, Bi. Lagi ada tugas soalnya."


"Baik, Non. Nanti saya ke sini lagi membawa sarapan, permisi." Pelayan itu kemudian pergi dari depan kamar Sita.


Ketika ia hendak menutup pintu,ada sebuah tangan yang menahannya cukup keras. Sita penasaran dan membuka pintunya kembali.


Napasnya seolah tertahan, lidahnya tercekat bahkan ... matanya terbuka cukup lebar. Ia merasa ini mimpi, dan ...


BRUK!!! Sita jatuh pingsan di tangan seorang laki-laki yang telah membuatnya galau semalam suntuk.


Siapa lagi kalau bukan Haris. Dirinya terbang dari Australi ke Indonesia semalam. Niatnya ingin memberikan surprise kepada istrinya itu, tapi ternyata malah seperti ini.


Haris langsung mengangkat tubuh sang istri, kemudian di rebahkan ke atas kasur. Ia mencari kotak P3K untuk memberikan aroma minyak kayu putih ke hidung Sita.


Tak lama ia mencari, akhirnya ketemu juga. Ia pun segera mengambil minyak kayu putih di sana. Haris masih berpakaian lengkap pagi ini. Sebab, sepulang dari kantor ia bahkan tidak sempat mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu.


"Sita ... bangunlah, aku minta maaf." Haris terus berucap hingga akhirnya istrinya pun tersadar.


"Kamu Mas Haris? beneran Mas Haris? Apa aku mimpi?" cecar Sita dengan berbagai pertanyaan. Tersirat sorot kerinduan dari kedua matanya yang telah berkaca-kaca. Haris hanya tersenyum lalu membawanya ke dalam pelukan.


"Aku minta maaf, udah ninggalin kamu sendirian ... makanya, kamu mau ya tinggal bersamaku di Australi?" ucap Haris dengan nada yang sangat lembut terdengar di telinga Sita.


"Mas, beberapa bulan lagi aku lulus kuliah. Aku janji, setelah lulus ... aku akan ikut denganmu ke Australi." Sita merasa sangat nyaman di pelukan Haris. Apalagi, wangi maskulin yang ada di tubuh suaminya membuat ia ingat akan malam ritual pengantin itu.


Wanginya sama. Aku masih inget banget!


Perlahan, Haris melepaskan pelukannya. Meraup kedua pipi Sita yang mengembul itu. Serta, ditatapnya kedua manik mata yang belum sempat ia selami dalam-dalam setelah pernikahan itu. Pandangan keduanya pun saling terkunci.


Aku merasakan getaran itu, Mas. Getaran yang selama ini sulit aku rasakan pada laki-laki manapun. Sepertinya, aku mulai mencintaimu. Batin Sita.

__ADS_1


Matamu, sangat indah. Bahkan, untuk beralih pun rasanya gak sanggup. Batin Haris.


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2