Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
pertemuan 3 pria


__ADS_3

Andra memberanikan diri datang menemui Mala dan Dicko di rumah sakit. Andra tidak peduli jika nanti mereka akan memarahi atau mengutuk dirinya dan juga ibunya.


Sementara itu Mala sedang menyuapi menahan nyeri yang kadang datang.


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu diketuk. Kenapa tidak langsung masuk saja, pikir Mala.


" Masuk," teriak Mala sambil menatap pintu yang terbuka perlahan.


Tampak Bara datang dengan membawa bungkusan yang berisi buah apel. Bara tampak tersenyum dan mendekati Mala.


"Maaf, aku mengganggu kesenangan kalian," kata Bara sambil meletakkan buah yang dibawanya diatas meja.


"Kesenangan apa? Kami tadi hanya bercanda saja," jawab Mala sambil melihat suaminya yang tampak tidak senang dengan kehadiran Bara.


"Kalian tampak sangat bahagia. Aku juga ikut bahagia meski kalian tidak mengundangku saat pernikahan kalian," kata Bara sambil melihat kearah Mala.


"Ayah Bara, Gala kangen," ucap Gala sambil menarik lengan Bara.


"Oh Gala. Ayah Bara juga kangen," kata Bara sambil memeluk Gala.


Peristiwa itu semakin membuat Dicko kesal. Melihat reaksi Dicko, Mala menyadari jika sang suami merasa cemburu dengan kehadiran Bara. Mala meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat-erat untuk meredam kecemburuan Dicko.


"Bara, maaf ya. Kemarin kami tidak mengundangmu. Tidak ada pesta hanya makan-makan saja kok," kata Mala.


"Iya, Mala. Aku ngerti kok. Jangan merasa bersalah."


"Kami tidak merasa bersalah. Lagipula kehadiranmu juga tidak begitu penting," ucap Dicko kesal.


"Dicko, Dari nada bicaramu, kamu masih saja cemburu padaku. Bukankah begitu, Mala?" tanya Bara.


"Cemburu, mana mungkin aku cemburu denganmu," ucap Dicko.


"Mas..." ucap Mala sambil memberi isyarat supaya suaminya diam saja.

__ADS_1


Isyarat Mala semakin menambah kekesalannya. Harusnya Bara yang disuruh diam,bukan aku, pikir Dicko.


Belum reda kekesalan Dicko karena kehadiran Bara, tampak Andra sudah berdiri didepan pintu hendak masuk menemui Mala.


Tok tok tok.


Semua mata menoleh kearah pintu terutama Dicko yang mulai menyadari kehadiran Andra.


"Masuk," teriak Mala.


Andra masuk dengan membawa sebungkus buah sebagai buah tangan. Bara menatap kedatangan Andra dengan penuh amarah. Apalagi Dicko, matanya tampak merah menahan amarah yang terpendam ditambah rasa cemburu.


"Maaf jika kedatangan aku kesini tidak kalian harapkan," kata Andra sambil tersenyum untuk menghilangkan rasa tertekannya.


Tidak ada yang membalas perkataan Andra. Mala yang menyadari suasana tegang itu akhirnya membuka suara.


"Tidak, jangan berpikir begitu. Apa yang kamu bawa, sini biar aku bantu taruh di meja," kata Mala berusaha mencairkan suasana.


Bara dan Dicko saling berpandangan dan mereka tidak setuju jika Mala masih bersikap baik pada Andra.


"Oh kamu hamil Mala. Selamat," kata Andra sambil mengulurkan tangannya hendak menyelamati Mala.


"Terimakasih," ucap Dicko segera meraih tangan Andra sebelum Mala sempat menjabat tangan Andra.


Suasana benar-benar sangat panas. Bara tersenyum melihat tingkah Dicko. Dicko ternyata cemburuan sekali. Tetapi kecemburuan Dicko memang beralasan. Dua orang lelaki yang sama-sama mencintai istrinya saat ini sedang berkumpul dan berusaha menarik simpati Mala.


Andra menarik tangannya dari genggaman Dicko. Dia lalu menaruh bungkusan yang dia bawa diatas meja. Lalu dia kembali mendekati Mala dan Dicko. Sementara Gala tertidur di pangkuan Bara membuat Dicko menghela nafas kesal.


"Dicko, bolehkah aku pinjam istrimu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Andra agak gugup.


"Kenapa tidak disini saja?!"


"Karena ini sangat penting,"


"Hal penting seperti apa sehingga aku sebagai suaminya tidak boleh mendengarnya?" tanya Dicko penasaran.

__ADS_1


"Maaf, hanya Mala yang bisa mendengar hal penting ini," jawab Andra.


"Terserah Mala saja. Bagaimana Mala, kamu setuju dengannya?" tanya Dicko berharap Mala menolak permintaan Andra.


Akan tetapi Mala malah setuju hingga membuat hati Dicko bertambah kesal.


"Mungkin ada hal penting yang harus aku ketahui," ucap Mala.


Meski kesal, Dicko membiarkan Mala pergi mengikuti Andra. Bara berusaha menenangkan Dicko yang semakin cemburu buta.


"Dicko sudahlah, jangan terlalu cemburu. Mala bukan wanita seperti itu," ucap Bara.


"Aku percaya pada Mala. Tapi aku tidak percaya pada Andra, bikin kesal aja," kata Dicko." Kamu tidurkan saja Gala di sini. Kamu pasti sudah kelelahan memangkunya."


"Nggak juga, aku kangen Gala. Jadi biarlah dia tidur seperti ini sebentar lagi."


"Lalu kapan kamu pulang?"


"Terserah aku dong, aku senang melihat kamu cemburu," ucap Bara.


Bara tertawa dan membuat Dicko semakin kesal.


#######


Bersambung ya....


Sambil menunggu up selanjutnya baca juga novel otor yang lain siapa tahu suka


* Berbagi cinta : Maduku seorang Janda


* Derita karena perjodohan


* Cinta Zena


mkasih... jangan lupa like dan koment...

__ADS_1


__ADS_2