
"Kamu mau kemana Sita?" tanya Sulthan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tampak gagah dan tampah dengan setelah jas berwarna navy serta kemeja berwarna light grey.
"Biasa ... ke toko buku ... Kak." Sita melirik ke perempuan yang berdiri di samping Sulthan. "Ini ... " Ia menatap kakak iparnya.
Sulthan yang mengetahui maksud dari tatapan Sita, langsung berkata, "Sekretarisku ... kenalin Sita ini Meylani dan Meylani ini Sita, istri adik saya."
"Oh, hai." Meylani mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Meylani, nice to meet you."
Sita pun meraih tangan Meylani. "Sita, nice to meet you too."
Sulthan memiringkan wajahnya, ia seperti melihat ada yang lain dari tampilan Sita kali ini.
Kelihatan tambah cantik. Gumamnya dalam hati.
Sita menundukkan wajahnya karena sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan Sulthan padanya. Kemudian pamit, "Kalau begitu, aku ke toko buku dulu ya. Permisi .... "
"Sita!" Sulthan memanggil perempuan yang sudah berada satu meter darinya.
"Iya, ada apa, Kak?" Sita menoleh kemudian membalikkan tubuhnya. Sulthan berjalan menghampirinya.
"Boleh pinjam ponselmu?" Sulthan mengulurkan tangannya.
Sita mengernyit dan memiringkan sedikit kepalanya lalu berkata, "Untuk?"
"Setelah dari toko buku, aku ingin mengajakmu makan siang." Sulthan memberikan kode dengan mata serta tangan yang terulur, supaya Sita mau meminjamkan ponsel kepadanya.
"Baiklah." Sita pun mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag-nya.
Sulthan mulai mengetikan nomornya lalu me-missedcall ke ponselnya. Tidak sampai lima menit, ponsel Sita pun di kembalikan oleh Sulthan.
"Udah kan?" tanya Sita memastikan. Sulthan pun mengangguk sebagai jawaban. "Bye, Kak," sambungnya sambil sekilas melambaikan tangan lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari Sulthan.
Sepanjang jalan, Sita hanya fokus untuk mengingat-ingat buku apa yang sekiranya akan dia beli. Tak lama, sampailah di toko buku yang ia tuju.
Langkah Sita terhenti pada rak buku khusus Bisnis & Management. Matanya mulai meneliti satu persatu buku yang ada di rak tersebut.
Kedua sudut bibirnya pun mengembang saat satu-per-satu ia menemukan buku yang dicari.
Akhirnya, dapat semua! paling gak hanya sedikit yang mencari di internet.
__ADS_1
Setelah selesai, Sita pun pergi ke kasir untuk membayarnya. Ia sedikit kesulitan membawa tiga buah buku yang cukup tebal itu.
DRETDRET ... DRETDRET.
Sita yang merasa ponselnya bergetar, ia memegang ketiga bukunya dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain, mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag.
📨Mas Haris
Gunakan kartu dariku ya untuk membayar semua buku yang kamu beli.
Sita mengernyit, matanya meneliti ke sekitarnya.
Kenapa mas Haris tau kalau aku lagi ke toko buku? Ah, ya! tadi kan aku bilang ke kakaknya. Pasti dia tau dari Sulthan.
Bukannya memasukkan ponsel ke tas, Sita justru malah melakukan panggilan kepada Haris. Sebab, sejak semalam nomornya sangat sulit untuk di hubungi.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif dan berada di luar jangkauan."
Aneh, padahal aku udah pakai kode negara. Atau jangan-jangan ... nomor ponselnya berbeda dengan nomor WhatsApp-nya?
Melihat kasir sudah kosong, Sita pun segera menghampiri meja kasir lalu membayar buku-buku itu.
Sebelum keluar dari toko buku, Sita duduk sejenak di kursi yang tidak jauh dari pintu keluar. Ia merapikan kartu ATM dan juga struk lalu dimasukkan ke dalam dompetnya.
Sesaat kemudian, ponselnya berdering. Tertera nama "SULTHAN" di layarnya. Sita pun menjawabnya.
"Halo."
"Sita, kamu dimana? apa udah selesai mencari bukunya?"
"Udah. Kak Sulthan dimana?"
"Aku di Sashimi Resto, gak jauh dari toko buku, Kok."
Sita berdiri lalu berjalan keluar dari toko buku itu dengan telepon yang masih tersambung dan ponsel yang ia tempelkan ke telinga kanannya. Sementara tangan kirinya memegang belanjaannya.
Tak butuh waktu lama, Sita pun melihat keberadaannya bersama perempuan yang sama. "Iya, Kak. Aku ke sana sekarang." Sambungan telepon pun diputus olehnya.
Dari kejauhan, Sulthan memperhatikannya yang berjalan ke arahnya, sedangkan Meylani hanya melihat ke lain arah. Sekilas ada raut kecemburuan di wajah sekretarisnya yang sangat seksi itu.
__ADS_1
Akan tetapi, Sita tidak perduli. Toh, Sulthan hanya kakak iparnya. Kecuali, jika Haris yang berada di posisi itu, bisa jadi Sita tiba-tiba menjadi singa cantik yang siap menerkam. Ups! kalau memang Sita sudah benar-benar cinta pada suaminya.
"Hai, Kak." Sita tersenyum kepada Sulthan dan Meylani.
"Duduk, Sita." Sulthan mempersilahkannya duduk di hadapannya. "Mau makan apa? pesan dulu aja, udah waktunya makan siang juga."
"Iya, Kak ... " Sita pun mengangkat tangannya untuk memanggil waiters. Tak lama, salah seorang waiter pun datang dengan membawa menu.
"Silahkan Kak," ucap waiter itu. Sita mengangguk sambil membuka menu dan mulai memilihnya.
Lima menit cukup untuk Sita memilih. "Kak, aku mau Salmon Sashimi, Okichizu medium sama ... Ocha ukuran Large, ya!" ucapnya.
"Baik, mohon ditunggu. Menunya boleh saya ambil kembali?"
"Tentu, silahkan!" Sita tersenyum sambil memberikan buku tamu, kemudian waiter itu pergi dari hadapan mereka.
"Ternyata makanmu banyak juga ya, gak heran adikku harus kerja keras untuk memberimu makan sebanyak itu," sindir Sulthan dengan leluconnya yang datar.
"Bisa aja ... omong-omong, Kakak ngapain di mall ini? ada meeting?" tanya Sita sambil menaruh kedua tangan di atas meja. Meylani melirik sekilas dengan tatapan sedikit tidak suka kepada Sita.
"Iya, sekalian mantau aja," ucap Sulthan dengan santai. Ia lupa kalau Sita tidak tahu kalau mall ini adalah miliknya. Seketika ia mendapat tatapan yang menuntut sebuah penjelasan dari kedua mata Sita.
"Mall ini ... " Sita terperangah sambil menunjuk seolah ke seluruh mall ini. "Milikmu?" sambungnya.
"Iya." Sulthan hanya menjawabnya dengan singkat. Ia kemudian menarik napasnya dalam-dalam. "Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Haris? kenapa kamu gak ikut Haris ke Australi?" tanyanya membuat Sita berpikir sejenak. Sementara itu, Meylani hanya memainkan tablet yang ada di tangannya.
"Baik kok ... karena kuliahku sebentar lagi akan lulus, jadi aku gak bisa dalam waktu beberapa bulan ke depan tinggal di sana," jelas Sita sambil menahan senyumannya.
"Oh, emangnya kuliah kamu udah semester terakhir?" tanya Sulthan lagi. Namun, Sita tidak langsung menjawabnya karena makanan pesanan Sulthan telah tiba.
"Aku sambil makan ya," ucap Sulthan dengan senyuman yang menunjukkan guratan di ekor matanya. Sita menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah waiter pergi, Sulthan dan juga Meylani mulai menyantap makanan mereka. Sita hanya tersenyum menyeringai saat melihat Meylani langsung makan makanannya tanpa berbasa-basi dengan Sita.
"Kak Sulthan bukannya beberapa hari yang lalu mau pulang ke Australi, kenapa sekarang masih di sini?" Sita yang kini bertanya kepada Sulthan.
"Aku ada kerjaan mendadak, makanya aku biarkan Haris pulang lebih dulu." Sulthan yang sempat menunda makannya, kini melanjutkannya kembali.
"Lantas, istri kakak tau?" Mendengar pertanyaan Sita, tiba-tiba Meylani menghentikan makannya dengan mata yang membola lalu melirik ke Sita.
__ADS_1
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...