Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Agam tahu rahasia Dicko


__ADS_3

Kekecewaan Dicko dengan sikap Mala, membuatnya tidak bisa fokus bekerja. Di kantor, Dicko lebih sering melamun dan termenung hingga membuat Agam ikut merasa sedih. Sebagai teman sekaligus sekretaris pribadinya, Agam ingin ikut membantu Dicko. Tapi dia tidak tahu bagaimana membantunya sedangkan Dicko tidak mau bercerita tentang masalahnya.


Namun Agam tidak kehilangan akal. Dia berusaha mencari akal agar Dicko mau bercerita. Saat makan siang, Agam memesankan beberapa makanan kesukaan Dicko.


"Bos, makanlah dulu. Nanti kerjaannya bisa di lanjut lagi," ajak Agam meski tak mendapat respon dari Dicko.


Agam mendekati Dicko yang sibuk dengan pekerjaan keduanya yaitu melamun.


"Bos, apa kita ajak Mala kerja lagi disini bos. Sepertinya Mala juga tidak akan menolak," tanya Agam mencoba membawa nama Mala yang dulu selalu membuat Dicko penuh perhatian padanya.


Ucapan Agam ternyata ada gunanya. Dicko menatap tajam Agam yang sedang berdiri dihadapannya.


"Apa kau bilang? Mala tidak akan pernah bersedia lagi kerja di sini," jawab Dicko kesal.


"Tapi bos, suami Mala itu bodoh ya bos. Masak dia menceraikan wanita seperti Mala. Tapi itu lebih baik, jadi aku bisa terang-terangan mengejarnya," kata Agam penuh percaya diri.


Wajah Dicko tampak marah mendengar perkataan Agam. Agam agak keder melihatnya.


"Jika kau tidak tahu apa-apa, jangan pernah mengatakan suami Mala bodoh!" teriak Dicko marah.


"Kenapa kamu marah saat aku mengatakan suami Mala bodoh. Apa hubunganmu dengan dia?! Jangan marah-marah tanpa alasan yang jelas," kata Agam sedikit keras.


Dicko menahan emosinya yang mulai meninggi. Dia sudah tidak tahan dengan masalah yang sedang dihadapinya.


"Suami Mala adalah aku."


Sebuah pernyataan yang membuat Agam kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Apa, suami Mala? Kamu?!" tanya Agam sambil melotot.


"Benar."


Jawaban yang singkat dan padat tapi sangat tepat untuk membuat Agam pikirannya kacau. Dia yang ingin menjebak Dicko, tapi kini dia sendiri terjebak dalam kebingungan.


"Apakah Mala, wanita yang kamu nikahi saat amnesia dulu? Kalau Mala memiliki anak, berarti itu adalah anak kamu?!" tanya Agam lebih detail.


"Semua yang kau tanyakan itu benar. Tapi aku tidak mengerti, kenapa dia ingin memisahkan aku dengan anakku?" keluh Dicko.


"Dicko, jika kamu ingin bersama anakmu, kamu bisa mengajukan tuntutan ke pengadilan untuk bisa memiliki hak asuh anakmu," saran Agam.


"Tidak, aku tidak ingin ada masalah dengan Mala. Dia sekarang juga lagi ada masalah dan aku tidak bisa membantunya. Aku tidak akan menambah masalahnya," jawab Dicko sambil menghela nafas panjang.


"Lalu dimana anak itu sekarang?" tanya Agam semakin penasaran.


"Pantesan, beberapa hari ini kami melarang aku pergi ke rumahmu. Karena ada anakmu di rumahmu. Apakah Mala, maksudku istrimu tinggal di tempatmu juga?" tanya Agam tersenyum sambil mengedipkan matanya.


"Sekarang dia mantan. Jadi dia tidak mau tinggal di rumahku. Aku juga tidak pernah memaksa dia tinggal karena dia pasti punya pemikiran tersendiri," jawab Dicko.


"Kalau tentang anakmu, menurutku kamu harus mengantar mereka. Itu akan lebih membuat anak kamu jadi lebih simpati padamu. Tapi kalau kamu ingin membiarkan dia, terserah kamu saja," nasehat Agam sok dewasa.


Dicko berpikir keras mencerna omongan Agam. "Mungkin benar apa yang kamu katakan. Untunglah mungkin masih belum terlambat. Aku pulang dulu."


"Makanan ini bagaimana?!"


"Kamu makan aja. Aku takut terlambat."

__ADS_1


Dicko bergegas pergi meninggalkan Agam yang tersenyum gembira melihat Dicko penuh semangat kembali. Tapi kejutan dari Dicko tentang hubungan Dicko dan Mala sungguh tak pernah ada dalam bayangan Agam.


Agam tertegun dan akhirnya menelan ludahnya sendiri karena teringat kejadian yang lalu. Saat itu Agam mengatakan bahwa dia sudah jatuh cinta dengan Mala, berarti saat itu Mala masih istri sahnya Dicko. Pantas saja Dicko merasa tidak senang bahkan terlihat marah padanya.


Dan bahkan dia sering menjelek-jelekan suami Mala didepan Dicko. Agam menepuk-nepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala.


Sementara, Dicko bergegas pulang dan menyetir mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Dicko ingin segera sampai di rumah.


Semoga belum terlambat.


Ketika sampai di rumah, dia langsung mencari Gala sambil berteriak-teriak.


"Gala...Gala...Gala..."


Tak ada jawaban. Dicko mulai panik dan cemas kalau dia terlambat. Dicko memanggilnya sekali lagi.


"Gala..."


Dicko terduduk lemas disudut sofa diruang tamunya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tak terasa butiran air matanya menetes. "Cengeng sekali," gumamnya.


bersambung....jangan lupa like ya biar author tambah semangat untuk up lagi...


Sambil menunggu up selanjutnya, saya rekomendasikan novel genre mafia yang pasti seru karya dari teman saya Indah Wu judulnya Aku Mafia Bukan Bidadari. Happy reading...Velia Selkova pergi ke negara lain untuk memulai kehidupan baru setelah dikhianati suaminya. Tak pernah disangka setelah tiba di negara tersebut dia mendapat musibah yang membuatnya menjadi seorang ketua mafia.


Terjun ke dunia gelap selama beberapa tahun membuatnya menemukan fakta yang mengejutkan tentang masa lalunya. Velia memutuskan kembali ke negaranya untuk mengungkap kebenarannya.


Deon Alexander yang terkenal sangat perfectsionis dan gila kerja memiliki saingan di yang tidak bisa dikalahkannya dengan mudah karena memiliki klan mafia yang cukup kuat. Pertemuannya dengan Velia Selkova membuat Deon Alexander ingin membuat kesepakatan.

__ADS_1



__ADS_2