
Mala mulai menetapkan hati pada satu pilihan dengan berbagai pertimbangan. Saatnya memberitahu pada keluarganya. Walaupun dengan berat hati akan membuat mereka kecewa dengan keputusannya.
Pergilah Mala ke rumah Dicko dengan hati was-was dan khawatir. Mala meminta ibu dan Dicko untuk menerima keputusannya.
"Ibu, Gala, Dicko. Aku minta maaf karena aku tidak bisa memenuhi harapan kalian," kata Mala agak sungkan.
"Maksud kamu apa Mala, ibu tidak ngerti."
"Mala, jangan membuat kami khawatir. Aku mendengar kejadian yang kamu alami tapi syukurlah kamu tidak apa-apa," kata Dicko.
"Itu karena Andra menyelamatkan aku. Dan sekarang dia ada di rumah sakit dengan luka yang parah. Orangtuanya memintaku untuk merawat Andra hingga sembuh," kata Mala sedih.
"Apa?! Merawatnya pasti butuh banyak waktu dan tenaga. Itu pasti tidak hanya setahun dua tahun," kata Dicko cemas.
"Benar Mala. Apa kamu akan menghabiskan masa mudamu dengan menjadi pengasuh? Sebentar lagi kamu akan rujuk dengan nak Dicko, bukankah itu tidak baik untuk hubungan kalian berdua," tanya ibunya mengkhawatirkan masa depan Mala.
"Mala tahu ibu, karena itulah Mala membatalkan rujuk dengan Dicko. Mungkin pilihan Mala ini bisa saja salah, tapi Mala sudah siap dengan segala resikonya." Mala diam sesaat. "Dicko, maaf. Aku tidak bisa melanjutkan rencana rujuk kita. Semoga kamu bisa menemukan jodoh yang lebih baik dari aku."
"Mala, aku sebenarnya tidak setuju dengan keputusanmu. Kamu terlalu cepat mengambil keputusan. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu sehingga kamu lebih memilih merawat dia daripada menikah denganku?!" tanya Dicko kecewa.
"Jika tidak ada dia, apakah aku masih bisa berada di hadapanmu sekarang. Merawat dia adalah jalan satu-satunya untuk membalas pengorbanannya."
"Dengan kata lain, kamu rela mengorbankan hidupmu untuk dia?" tanya Dicko kesal.
"Terserah apa pendapatmu, dan terserah kamu berpikir apapun tentangku. Tentang Gala, biar aku yang akan menjelaskan padanya."
"Pilihan yang kau pilih, akan banyak hal yang harus kamu korbankan. Bukan hanya kebebasan kamu tapi juga kebahagiaan kamu. Ibu mohon, pikirkanlah sekali lagi sebelum membuat keputusan," nasehat sang ibu yang sangat mencemaskan keadaan Mala saat ini.
"Ibu, aku tahu ibu sangat mencintai aku dan khawatir dengan diriku saat ini. Tapi Mala sudah memikirkannya baik-baik, dan Mala tetap dengan keputusan Mala saat ini. Ibu, berilah Mala semangat agar Mala tetap bisa bertahan meski sulit," jawab Mala tegas.
"Baiklah, karena keputusan kamu sudah bulat. Ibu hanya bisa mendoakan supaya kamu diberi kebahagiaan apapun pilihanmu."
__ADS_1
"Mala, aku akan tetap menunggumu dan menanti kamu kembali ke sisiku. Saat itu kamu bisa menungguku hingga bertahun-tahun lamanya. Kali ini biarkan aku yang akan menantimu kembali," kata Dicko.
"Dicko, aku tidak bisa menjanjikan apapun untuk bisa kau tunggu. Karena jujur, aku juga tidak tahu sampai kapan aku akan merawatnya. Jika ada seseorang yang bisa membuatmu bahagia, jangan kau lewatkan," kata Mala sambil menghela nafas berat.
"Jangan berkata seolah kau tak akan pernah kembali padaku. Aku merelakan kamu saat ini karena rasa bersalahku padanya. Jika suatu saat nanti aku tidak bisa lagi bertahan, aku akan mengambilmu dari sisinya walau dengan kekerasan," ucap Dicko geram marah.
Dengan keputusan Mala yang sepihak membuatnya kehilangan kesempatan bersama wanita yang dicintainya. Dicko tak tahu harus menyalahkan siapa atas semua yang terjadi. Atau mungkin memang takdirnya yang harus dia terima.
***
Mala pergi mengunjungi Andra di rumah sakit. Andra sudah mulai sadar dan bisa berbicara. Semua menunggu dengan cemas kejutan apa yang akan diberikan Andra akibat luka-luka yang dialaminya. Akankah dia benar-benar akan kehilangan sebagian memorinya?
"Ibu, Mala dimana? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Andra ketika dia mulai sadar.
"Andra, ibu senang kamu masih mengenal ibu. Kau ingat dia?" tanya ibunya sembari menunjuk ke arah suaminya.
"Ayah. Kalian semua ada disini? Tapi kenapa aku tidak melihat Mala?"
Bu Bella terdiam lalu melihat kearah suaminya yang mengangguk pelan.
Bu Bella melangkah keluar dengan kesal. Di sana dia melihat Mala yang sedang duduk di kursi tunggu karena Bu Bella tidak pernah mengizinkan Mala mendekati Andra. Mereka masih menunggu kejelasan apakah Andra benar-benar membutuhkan Mala atau tidak. Karena jika tidak selamanya Bu Bella tidak akan pernah membiarkan Andra dekat dengan Mala.
"Mala, Masuklah!" teriak bu Bella.
Mala merasa senang karena sudah diizinkan melihat kondisi Andra.
"Terimakasih, bu Bella."
"Ingat, jangan bicara sembarangan."
"Baik Bu," jawab Mala lalu melangkah masuk keruang rawat inap Andra.
__ADS_1
Saat melihat Mala, Andra tersenyum meski menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Mala sangat sedih melihat kondisi Andra dan tak terasa air matanya menetes perlahan. Mala duduk di kursi di samping tempat tidur Andra.
"Mala, maaf. Kita harus menunda pernikahan kita untuk beberapa lama. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Andra yang membuat Mala, ayah dan ibunya kaget.
Kejutan yang diberikan Andra sungguh sangat tidak terduga. Pernikahan Andra dan Mala. Andra hidup dalam khayalannya sendiri, yang tercipta dalam pikiran dan hatinya. Menjadi mantan suami Mala dan akan melakukan pernikahan karena mereka rujuk.
"Andra, pernikahan siapa?" tanya sang ibu pelan.
"Tentu saja pernikahan Andra dan Mala. Kami akan rujuk kembali, kami akan hidup bahagia. Oh ya, dimana anak kita? Apakah dia pergi bermain?" tanya Andra semakin membuat orangtuanya sedih.
"Kalian tidak pernah menikah apalagi memiliki seorang anak. Andra..." kata bu Bella terhenti karena suaminya menghentikannya dengan menekan bahunya pelan.
"Ibu bicara apa?! Aku sudah memiliki anak dan istri. Meski kami bercerai tapi kami bisa rujuk kembali. Mala apakah orangtuaku menyulitkan kamu selama aku sakit?" tanya Andra sedih.
Bu Bella menatap Mala dan memberi isyarat untuk mengikuti jalan pikiran Andra.
"Tidak, mereka tidak pernah menyulitkan aku. Mereka sangat menyayangi kami," jawab Mala ragu.
"Syukurlah. Setelah aku sembuh, kamu pindahlah ke rumahku. Jadi kamu bisa bersama Gala dan ibumu. Setelah itu kita tetapkan tanggal pernikahan kita lagi secepatnya."
"Andra, keadaan kamu masih begini. Jangan berpikir terlalu berlebihan dan tidak perlu membahas pernikahan." kata bu Bella kesal.
"Kenapa, apakah karena aku cacat, Mala tidak ingin menikah dengan aku lagi?" tanya Andra cemas.
"Bukan begitu Andra. Sembuhkan lah dulu kakimu nanti baru kalian membicarakan pernikahan. Bukan begitu Mala?" kata bu Bella melihat Mala yang hanya diam.
"Iya, lebih baik fokus untuk penyembuhan diri kamu dulu baru memikirkan yang lain," jawab Mala.
"Tidak, aku tidak ingin mereka mengambil kamu dariku. Pria-pria itu mencintai kamu dan mereka terus saja menempel padamu seperti permen. Aku takut kamu tertarik pada mereka dan meninggalkan aku."
"Tidak ada orang yang mencintai aku. Jadi kamu tidak perlu khawatir," kata Mala berusaha meyakinkan Andra agar tidak terburu-buru menikahinya.
__ADS_1
"Tapi aku tetap saja marah jika mereka bicara padamu. Tatapan itu membuat aku cemburu," kata Andra kesal.
Sejak kecelakaan itu Andra berubah seolah dia menjadi calon suami Mala. Mala juga bingung karena harus melibatkan Gala dan ibunya.