Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Kepingan Pertama


__ADS_3

"Jadi, pak Jundi dan ibu Rose telah menjual rumah ini. Bahkan semua asetnya pun telah disita oleh bank. Maka dari itu, Nona bisa dipersilahkan untuk keluar dari rumah ini dengan segera." Jaka menjelaskan dengan tegas sesuai isi map itu.


"Ya, tapi ada apa sebenarnya pak? Kenapa bisa tiba-tiba seperti ini? Kedua orang tua saya pun gak ada di sini!" Sita mulai tersulut emosi. Kendati ia tidak melihat adanya alasan di dalam isi map itu. Semuanya sangat tabu baginya.


Jaka menggaruk keningnya yang tidak gatal sambil menghembuskan napas panjang dari mulutnya.


Bagaimana ya aku bisa menjelaskan semuanya?


"Lantas, bagaimana dengan seluruh gaji para pelayan rumah ini? apa udah dibayarkan?" Sita merasa sangat syok dengan musibah yang saat ini menerpanya.


"Tentu belum. Untuk pembayaran gaji para pelayan rumah, semua sudah di serahkan kepada Nona." Ucapan Jaka membuat wajah Sita seketika menjadi pias. Darahnya pun serasa hilang entah kemana.


"Bagaimana dengan keadaan orang tua saya sekarang, Pak!" Sita berteriak karena sukar menahan emosi yang tak tertahankan lagi.


"Maaf Nona kalau hal itu saya tidak tahu." Jaka berdiri sambil membenarkan jasnya. "Saya harap, Anda segera meninggalkan rumah ini!" Ia kemudian pergi meninggalkan Sita di ruang tamu itu sendiri.


"Hei! Anda gak bisa pergi gitu aja tanpa menjelaskan kepada saya apa yang telah terjadi sebenarnya!" Sita berteriak sambil mengekor Jaka dari belakang. Namun di saat Jaka tiba-tiba menghentikan langkahnya, Sita terlonjak kaget.


"Saya hanya ingin mengingatkan, segera pergi dari rumah ini. Atau Nona akan merasakan sendiri akibatnya!" hardik Jaka dengan tatapan tajam yang ia lontarkan kepada Sita.


Gigi Sita mengerat, kedua tangannya pun mengepal. Tak disangka ...


BRAAKK!!!


Map itu di lemparkan tepat di wajah Jaka. Sita pun kemudian pergi ke kamarnya membawa perasaan kesal yang sangat membuat amarahnya bergejolak.


Sementara Jaka masih mematung di ambang pintu, ia menarik sebelah sudut bibirnya lalu pergi dari sana meninggalkan map yang berserakan di lantai. Para bodyguard itu juga mengikuti Tuan-nya ke mobil yang sebelumnya mereka tumpangi.


*****


Setelah masuk ke dalam kamar, Sita berusaha menghubungi Haris. Karena baginya, hanya Haris satu-satunya yang bisa membantunya.

__ADS_1


"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."


"Aaaaakkkkrrrggghhhh!" Sita berteriak dengan lepas. Kepalanya terasa berdenyut. Perasaannya pun kalut. Ia terus berpikir keras sambil mondar-mandir di depan tempat tidurnya.


Setelah hampir lima menit berpikir, Sita akhirnya mendapat pencerahan. Kemudian ia mencari buku tabungan di dalam laci kecil yang ada di samping tempat tidurnya itu.


Setelah dapat, Sita pun langsung memasukkannya ke dalam sling bag yang masih mengait di pundaknya sejak tadi, tak lupa secarik kertas yang juga ia temukan di sana bertuliskan alamat apartment yang pernah Haris beritahukan kepadanya. Tanpa berpikir lama lagi, Sita langsung keluar dari kamar dengan raut wajahnya yang masih diluputi amarah.


Para pelayan di rumah itu menatap kepergian Sita dengan saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka pun bertanya-tanya lewat tatapan itu sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Ada apa sebenarnya ya?" tanya pelayan satu.


"Enggak tau, kayaknya ada masalah deh gara-gara orang tadi," ucap pelayan dua.


"Kok perasaanku tiba-tiba gak enak gini sih ya," ujar pelayan tiga.


Sampai Sita semakin jauh dari pandangan mereka, tatapan mata pun tak lepas dari punggung yang telah menghilang ke balik pintu utama itu.


*****


Aku harus segera mencari jawaban atas semua yang terjadi saat ini. Kenapa Mas Haris tiba-tiba susah banget sih dihubunginya! Kemana sih kamu Mas?


Taksi online itu pun berhenti di depan lobby apartment itu. Sita tercekat kagum melihat kemewahan yang ada di depannya.


Waw! Sekaya apa sih Mas Haris? Dia bisa sampai membeli apartment semewah ini dan mobil ferrari. Lantas, kenapa dia sangat misterius sekali?


Setelah memberikan sejumlah uang kepada sopir taksi itu, Sita pun turun sambil menutup pintunya kembali. Tanpa ragu, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, tak lupa dengan secarik kertas yang ia keluarkan dari dalam sling bag-nya itu.


Sita masuk ke dalam lift sesuai kode depan yang tertera di kertas itu. Perasaan yang tak menentu beserta detak jantung yang mampu terdengar oleh dirinya sendiri, ditambah lagi rasa kesal yang membuatnya menahan kuat-kuat air mata yang tadi sempat menggenang di ekor matanya.


Beberapa menit kemudian, Sita akhirnya sampai di unit apartment milik Haris. Ia segera keluar dari lift dan berjalan ke unit yang di tuju.

__ADS_1


Sita mulai memasukkan kode akses sesuai yang tertulis di secarik kertas itu. Setelah memasukkan nomor terakhir pada kode tersebut, pintu pun berhasil terbuka.


Matanya terpejam sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu meraih handle pintu dan membukanya. Lampu yang ada di dalam otomatis menyala setelah pintu dibuka lebar oleh Sita.



Sita masuk ke dalam dan membiarkan pintu tertutup dengan sendirinya. Walau tidak terlalu luas, tapi design yang ada di dalam apartment ini sangat memanjakan mata.



"Banyak sekali botol wine, apa Mas Haris sering meminumnya? Atau hanya sebagai pajangan aja?" Sita bergumam saat berdiri tepat di depan rak botol wine yang tersusun rapi itu.



Ia pun berjalan menelusuri setiap ruangan yang ada di apartment itu. Hingga kakinya berhenti di depan pintu yang ia yakini itu adalah kamar, karena ia tidak melihat pintu lain selain yang ada di depannya. Tangan kanannya mulai terulur untuk meraih handle pintu dan menekannya ke bawah.



Mulut Sita sontak terbuka lebar, laki-laki yang selama ini ia anggap misterius itu, merupakan termasuk laki-laki yang sangat rapi. Akan tetapi, yang masuk ke dalam indera penciumannya itu sekilas terhirup bau ruangan dari furniture baru.


Belum ada sama sekali wangi parfurm yang sangat Sita kenali. Apa apartment ini belum Haris sentuh sama sekali? pikir Sita demikian.


Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan design elegan itu. Memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali.


Ia pun kemudian duduk di tepinya. Pandangannya mengedar ke sekeliling kamar itu. Sita bangkit dan mulai memeriksa semua isi yang ada di dalam lemari.


Matanya membulat tatkala melihat isi lemari itu telah penuh dengan berbagai pakaian perempuan mulai dari dalaman, lingerie, dress, stelan dan lain-lain. Bukan hanya itu, pakaian laki-laki pun sama.


Akan tetapi, ada satu pintu terakhir yang belum Sita buka. Entah kenapa, perasaannya ragu untuk membukanya. Namun, Sita berusaha melawan rasa ragu itu.


Setelah ia membukanya, ditelan saliva itu bersusah payah. Ada berbagai macam tali dan pecut di sana. Manik mata Sita menatap lekat alat-alat itu. Peluhnya mulai bercucuran di sekitar keningnya. Tangan kanan yang memegang handle pintu itu pun bergetar.

__ADS_1


Untuk apa Mas Haris menaruh barang-barang ini di sini? Siapa sebenarnya dia? Bukankah selama ini dia sangat baik padaku?


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2