
Haris ikut duduk di sebelah Sita. Kedua lengannya bertumpu di atas paha dan juga kedua tangannya pun ditautkan.
"Jadi saat itu, kak Sulthan gak tau kalau kak Rima punya penyakit. Demikian pula tentang rencana perjodohan yang kedua orang tua kak Rima lakukan. Sebulan sebelum pernikahan itu terjadi, orang tua kak Rima sengaja memberitahukan kepadanya kalau kak Rima akan menikah dengan laki-laki lain."
"Kak Sulthan gak terima, ia berusaha kuat untuk menemui kak Rima yang tinggal di negara Timur Tengah itu, tapi aksesnya sengaja ditutup oleh kedua orang tua kak Rima. Alhasil, kak Sulthan sulit bertemu dengan perempuan yang sangat ia cintai itu."
"Sehari setelahnya, kak Sulthan mendapat kabar kalau kak Rima meninggal dunia. Dia syok dan sangat kalut, akhirnya dia datang lagi ke kediaman orang tua kak Rima dan benar ... perempuan itu telah tiada untuk selama-lamanya."
"Kemudian kak Sulthan pulang ke Indonesia dan dia memberi kabar gembira untuk kami yang menunggu kepulangannya. Dia bilang kalau dia telah menikah dengan kak Rima. Tetapi kami semua bingung, karena kak Rima gak ikut bersamanya pulang ke Indonesia. Itulah salah satu hal yang membuat kak Sulthan sulit mendapat restu dari ibunya dan ayah kami."
"Kak Sulthan memutuskan untuk tinggal di Australi. Selang seminggu dia akhirnya mendapat restu, tapi nahas ibunya dan ayah kami pergi untuk selama-lamanya. Sejak saat itu, dia mengajakku untuk tinggal di Australi dan membiarkan rumah yang bersebelahan dengan rumah kedua orang tuamu itu kosong."
Sita mulai menyandarkan punggungnya di sandaran sofa itu, ia mulai menikmati cerita yang diberikan Haris kepadanya. Demikian pula dengan Haris yang semakin menggebu untuk memberitahukan semuanya kepada Sita.
"Apa itu alasan kak Sulthan juga menolak perjodohan ini?" tanya Sita sambil melihat ke layar televisi itu.
"Ya, saat kak Sulthan memintaku itu ... sebenarnya aku udah tau. Aku hanya mengalihkan aja, cuma pengen tau apa kak Sulthan udah sembuh atau belum."
"Maksudnya udah sembuh atau belum?" Sita mengernyit sambil bersilang dada.
__ADS_1
"Dia memiliki gangguan psikotik dan menjurus ke penyakit skizofrenia. Dimana tingkat halusinasi alam bawah sadarnya selalu mengingat masa lalunya. Ia pun beranggapan kalau cinta untuk seorang perempuan itu hanya untuk kak Rima yang sangat semu di hidupnya. Jangankan bersentuhan, untuk melihatnya pun rasanya gak mungkin." Haris yang terbawa suasananya begitu mengekspresikan pembawaannya.
"Ta-tapi bagaimana kamu bisa tau, Mas?" Sita menegakkan tubuhnya dan menatap Haris sangat lekat.
"Setahun yang lalu, aku pernah ingin memberi kejutan kepada kak Sulthan tepat di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh delapan. Memang selama ini dia gak pernah kasih tau aku tentang alamat tempat tinggal pribadinya, dia cuma kasih tau alamat kantornya aja. Saat aku dateng ke kantornya, belum sempat turun dari mobil, aku lihat kak Sulthan keluar kantor dan mengendarai mobilnya sendiri."
"Aku ikutin ... perasaanku mulai gak enak. Dia pergi ke salah satu klinik besar di kota tempat tinggalnya, dan itu merupakan klinik kejiwaan. Aku tunggu di parkiran klinik itu, cukup lama dia di sana sekitar hampir empat jam. Hari juga udah mulai sore. Setelah aku lihat dia keluar dari klinik dan mengendari mobilnya pergi dari sana. Aku penasaran banget, aku masuklah ke dalam."
"Ternyata dia sangat menyembunyikannya dari orang lain, termasuk aku. Dengan sambil memohon, akhirnya dokter yang menanganinya pun mau kasih tau aku. Aku terkejut bukan main, sejak saat itu aku terus menggali informasi tentang dia. Sampai aku berhasil mengelabui salah satu orang suruhannya dan berhasil masuk ke dalam kediaman pribadinya." Tak disangka, Haris menitikkan air matanya tanpa permisi. Sita yang melihat itu merasa terenyuh.
"Apa yang kamu lihat di sana?" tanya Sita dengan suara yang sangat lembut dan bibir yang bergetar.
"Aku melihat banyak foto kak Rima yang terpasang di rumah itu. Apalagi di ruang kerjanya, sayangnya aku gak bisa masuk ke dalam kamarnya saat itu. Karena pintunya gak terhubung ke ruang kerjanya itu dan aku menemukan sebuah buku catatan di sana."
"Di sana tertulis kalau ayahmu adalah dalang dibalik hancurnya hubungan kak Sulthan dan kak Rima." Haris menghela napas panjang. Seketika mulut Sita terbuka lebar, lalu menggeleng lemah.
"Enggak, itu enggak mungkin, Mas." Sita meremang dengan tatapan kosongnya. Haris semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Ada satu hal yang harus kamu tau, kak Sulthan adalah dalang yang membuat kepergian kedua orang tuamu ke Swiss. Tapi ... aku masih mencari tau soal aset orang tuamu yang disita seketika oleh negara."
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tau kalau itu negara yang menyita? Apa orang tuaku terlibat korupsi?" cecar Sita kembali karena ia masih merasa kalau kedua orang tuanya tidak mungkin melakukan hal itu.
"Maybe yes, maybe no." Sebelah tangan Haris menyematkan rambut panjang Sita ke balik telinganya lalu mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Kenapa perasaanku semakin gak enak Mas? Aku sangat berharap kamu bisa menolongku." Sita berucap dengan lirih, sebab ia memang tidak tahu lagi harus meminta tolong ke siapa. Sisa uang yang ia miliki pun mungkin hanya cukup ia gunakan untuk beberapa bulan ke depan jika berjuang sendiri.
"Walau sejak awal aku belum siap menikah, tapi sekarang kamu udah jadi tanggung jawabku. Aku yakin kamu perempuan hebat dan kuat. Selama ada aku yang bersamamu, semua akan baik-baik aja." Haris membawa Sita ke dalam pelukannya. Keduanya saling meluapkan rasa yang bergejolak di dalam hati masing-masing.
"Udah malem, lebih baik kamu segera mandi dan berganti pakaian terus kita tidur. Besok pagi, kita akan berangkat ke Swiss. Semoga aja kak Sulthan belum memindahkan ayah dan bundamu dari tempat yang aku ketahui saat ini." Haris melepaskan pelukannya perlahan. Kedua tangan Sita masih melingkar di pinggangnya. Sisa air mata yang ada di mata Sita sangat terlihat dengan jelas di ruangan temaram ini.
"Apa kamu gak bohong, Mas?" tanya Sita yang memastikan sambil mencari secercah kebenaran dari manik mata suaminya. Haris pun mengangguk dengan senyumannya. Ia melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang suaminya.
"Mas, aku mau tanya deh!" Sita ingat akan benda-benda yang menurutnya bahaya di dalam salah satu lemari itu.
"Mau tanya apa lagi? Aku merasa di interogasi deh dari tadi!" celetuk Haris yang pura-pura marah terhadap Sita sambil berdiri dan membuka kemeja yang ia pakai.
Sita bersusah payah menelan salivanya saat melihat dada bidang suaminya yang kekar dan liat itu. Haris yang menyadari raut wajah istrinya, perlahan mulai mendekat ke arah Sita yang masih duduk di sofa dengan perasaannya yang mulai gelisah.
Akan tetapi, tanpa menunggu Haris lebih dekat lagi, Sita pun langsung berdiri.
__ADS_1
"Aku mandi aja, Mas!" Sita kemudian berlari ke kamar mandi. Haris pun tersenyum jenaka saat melihat Sita yang salah tingkah.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...