
Andra mengajak Mala ke sebuah bangku di tempat tunggu pasien. Andra dengan sopan mempersilahkan Mala duduk terlebih dulu setelah itu dia duduk di dekat Mala.
Mala merasa canggung saat melihat sikap Andra yang tidak seperti biasanya. Andra biasanya tidak pernah seserius ini jika bicara padanya. Mungkin ada hal yang memang membuatnya berubah.
"Mala, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Tapi aku ingin kamu janji padaku untuk tidak marah dan membenciku," kata Andra setengah memohon.
"Baik, aku janji aku tidak akan marah ataupun membencimu," ucap Mala meyakinkan Andra.
"Sebenarnya, kecelakaan yang kamu alami adalah ulah ibuku. Dia membayar seseorang untuk mencelakaimu," kata Andra gagap.
"Apa? Ibumu?" tanya Mala kaget.
"Benar, baik kecelakaan yang pertama maupun yang kedua," jawab Andra sedih.
"Padahal saat kecelakaan yang pertama, aku sempat menuduh Wina," ucap Mala merasa bersalah pada Wina.
"Kamu juga tidak salah. Wina juga ikut andil dalam kecelakaan itu karena dialah yang menghasut ibu untuk melakukannya. Bahkan dia yang memperkenalkan orang bayaran pada ibuku, " ucap Andra menjelaskan pada Mala yang sebenarnya.
Mala diam tak bersuara. Mala ingin marah pada ibunya Andra, namun ketika ingat bahwa yang terluka dan terbaring di rumah sakit adalah Andra anaknya sendiri. Mala menekan perasaan marahnya.
Tetapi kali ini yang terbaring di rumah sakit adalah Dicko suaminya. Mala menatap Andra yang tertunduk karena merasa bersalah.
"Bukankah semua itu bukan salahmu? Mengapa kamu merasa bersalah?" tanya Mala.
"Tapi dia ibuku. Lagipula penyebab utamanya adalah aku. Tapi, aku juga tidak pernah menyesal mencintaimu. Kamulah wanita yang bisa membuatku merasakan cinta yang tulus. Mala, maaf. Aku tidak bisa melupakanmu, aku masih mencintaimu," ucap Andra yang dikuti sebuah pukulan keras di wajahnya.
Plakkk.
Mala terkejut dan hampir berteriak, namun mulutnya terkunci saat tahu yang memukul Andra adalah Bara. Sementara Andra sangat kaget dan terlihat marah, apalagi dia merasa tidak bersalah. Dia berdiri sambil memegangi wajahnya yang merah.
"Kau, kenapa kamu memukulku?!" tanya Andra kesal.
"Itu adalah jawaban dari ucapanmu. Benar-benar tidak tahu malu," ucap Bara agak keras.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?!" tanya Andra tidak kalah kerasnya.
__ADS_1
"Kamu berani menyatakan cinta pada wanita yang sudah menikah dan sedang hamil lagi. Dasar gila dan tidak tahu malu."
"Kamu sendiri juga tidak berbeda jauh dariku. Kamu hadir diantara mereka dan sok menjadi pahlawan kesiangan," kata Andra.
"Dasar kurang ajar."
Bara kembali maju dan memukul Andra. Dan perkelahian pun tidak bisa dihindari. Mala bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa berteriak dan meminta bantuan siapa saja yang ada di dekatnya. Orang-orang berlarian melerai perkelahian mereka dan akhirnya pak satpam datang dan membawa mereka ke ruang keamanan untuk diinterogasi.
Mala masih tertegun dan syok melihat perkelahian dua pria yang dulu sangat dekat dengannya. Bara dan Andra. Mereka berdua bersedia dibawa petugas tetapi mereka tidak mengizinkan membawa Mala. Walupun hanya sebagai saksi.
Apa sebenarnya yang mereka pikirkan sehingga harus berkelahi ?
Mala duduk bersandar sambil menghela nafas dalam. Dia berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak merasa bersalah.
Mereka bertengkar bukan karena diriku kan? ucapnya dalam hati.
Setelah merasa tenang, Mala masuk keruang rawat inap suaminya. Langkah Mala yang tampak lemah membuat Dicko cemas dengan kondisi Mala, apalagi sekarang dia sedang hamil.
"Mala, bagaimana kondisi kamu? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Dicko dengan nada parau.
"Aku tidak apa-apa mas. Hanya sedikit kaget saja," jawab Mala pelan.
"Bagaimana mas Dicko tahu kalau Andra dan Bara berkelahi?" tanya Mala kaget.
"Tadi ada suster yang kemari untuk memeriksaku, dan dia mengatakan tenteng perkelahian mereka. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka sehingga mereka berkelahi?"tanya Dicko balik.
Mala terdiam sesaat mencoba bersikap tenang untuk bercerita pada suaminya tentang kejadian hari ini.
"Mas, Andra meminta maaf padaku. Andra bilang padaku jika ibunya Andra yang menyuruh orang untuk mencelakaimu. Dulu, malah Andra yang harus masuk rumah sakit, sekarang kamu yang masuk rumah sakit."
"Apa, jadi semua ini ulah ibunya Andra? Bu Bella? Apakah karena itu Bara berkelahi dengan Andra?" tanya Dicko kaget.
"Bukan."
" Lalu apa?!"
__ADS_1
"Andra bilang, dia masih mencintai aku dan tidak bisa melupakan aku."
"Apa, dasar kurang ajar. Aku dukung Bara memukuli Andra. Kali ini Bara benar. Jika aku tidak begini, aku juga pasti akan menghajarnya Sampai dia memohon ampun dan berjanji melupakan kamu," ucap Dicko marah.
"Mas..."
"Maafkan aku Mala, aku terlalu emosi. Mala apakah kamu tersentuh dengan cinta Andra yang begitu besar kepadamu?!" tanya Dicko.
"Aku tidak perduli seberapa besar dia atau orang lain mencintai aku. Aku hanya ingin suamiku mencintai aku dan percaya padaku," jawab Mala.
"Mala, maafkan aku. Terkadang aku merasa cemburu karena dia begitu mencintai kamu. Aku takut kamu akan membandingkan cintaku dan cintanya," kata Dicko sedih.
"Tidak mas. Bagaimanapun juga cinta suamiku diatas cinta lelaki manapun. Suamiku adalah pemilik cintaku," kata Mala membuat Dicko bahagia.
"Mala, beri aku ciuman karena aku tidak bisa memelukmu. Tanganku masih terasa sakit."
Mala tersenyum dan membantu suaminya meninggikan tempat tidurnya agar bisa seperti sedang bersandar.
Mala duduk di samping suaminya yang tersenyum sambil menunggu Mala menciumnya.
"Ayolah, tunggu apalagi," ucap Dicko tidak sabar.
Mala tersenyum lalu mencium pipi suaminya dengan lembut. Tapi Dicko menggelengkan kepalanya pertanda tidak puas. Bukan itu yang dia minta.
Melihat reaksi suaminya yang kurang puas, Mala perlahan mencium bibir suaminya. Saat hendak melepaskan ciumannya, tiba-tiba seseorang datang dan memanggil Mala.
"Mala..."
#######
Bersambung
Semoga masih betah mengikuti cerita ini. Kepoin juga cerita otor lainya
jangan lupa like koment dan bunga.
__ADS_1
Salam otor
Eni pua