
Malam mulai beranjak larut. Semua orang yang ada di villa utama itu, baru saja kembali ke kamar mereka masing-masing, setelah makan malam bersama.
Tak terkecuali sepasang pengantin yang baru saja diresmikan beberapa jam yang lalu. Suara petir mulai terdengar bersahutan dari luar jendela. Kilat yang gelap-terang pun tak henti-hentinya membuat langit seolah sedang 'berdisko'.
Namun ... tiba-tiba listrik pun padam. Sita melonjak kaget saat dirinya sedang duduk di depan meja riasnya.
"Mas ... Mas ... Mas ... kamu dimana sih?" Sita yang tidak suka gelap, langsung berdiri lalu menjulurkan kedua tangannya ke depan, kemudian ia mulai berjalan sambil meraba-raba ke sekelilingnya.
Saat dirinya yakin, telah berada di tepi tempat tidur. Ia langsung naik ke atas kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menutupi kepalanya. Detak jantungnya pun tidak berirama, bahkan sampai terdengar oleh dirinya sendiri. Dia benar-benar takut.
Ya Tuhan ... tumben banget sih mati lampu, aku takut!
Sita terus meringkuk di balik selimut itu.
Mas Haris kemana lagi? aku panggil-panggil malah gak nyahut. Pengen nangis deh rasanya ....
Tiba-tiba pada bagian kakinya, tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang terasa dingin. Karena saking takutnya, Sita tidak berani membalikkan tubuhnya yang kini mulai bergetar hebat. Apa seluruh rumah ini mengalaminya? Tentu tidak. Hanya di kamarnya saja.
Semakin lama, Sita merasa aneh dengan tubuhnya, seperti ada yang menindihnya. "Kenapa kau sangat takut ketika gelap?" suara baritone itu.
Sita membuka pupil matanya lebar-lebar dan mempertajam pandangannya. Namun tetap saja dia tidak bisa mengenali wajah yang ada di atasnya itu.
"Mas Haris? darimana aja kamu!" sentak Sita yang berusaha bangkit, tapi sayangnya kedua tangan kekar Haris telah mengunci kedua tangannya lebih dulu.
"Mas ... mmmpppttthhh .... "
Tanpa babibu, bibir Haris dengan cepat melahap bibir ranum istrinya. Sita yang terkejut dengan serangan Haris pun, seketika terbelalak dengan mulutnya yang masih tertutup rapat. Oh Tuhan, ini adalah pengalaman pertama Sita.
Haris tetap berusaha menerobos bibir ranum itu, hingga ia memberi sebuah gigitan kecil pada bibir bawahnya. Alhasil mulut Sita pun terbuka. Haris tidak memberi kesempatan kepada Sita untuk bernapas.
__ADS_1
Dengan kekuatan penuh, Sita mendorong Haris dengan kuat-kuat. Haris pun terpental ke ujung tempat tidur seraya memekik. "Au!"
Sita langsung mencari saklar lampu di dekat tempat tidurnya. Namun, kedua tangannya langsung di tarik oleh Haris.
"Sita, please ... layani aku." Haris memohon, walau Sita tidak melihat jelas wajahnya. Tetapi, Sita bisa merasakan sebuah getaran hati saat melihat suara lembut Haris.
"Tapi kita sama-sama belum mencintai, kalau sampai aku hamil dan lahir seorang anak tanpa cinta yang tumbuh di hati kedua orang tuanya bagaimana? apa kamu gak ngerasa kasihan dengannya?" Sita berkata selembut mungkin. Haris pun terdiam dan tertegun seketika.
"Banyak sekali ketakutan yang aku rasakan saat ini, Haris. Mengertilah .... " Sita menjeda kata-katanya. Jari telunjuk Haris mendarat tepat di tengah bibir ranum itu.
"Suutttt ... jangan katakan hal yang belum tentu terjadi pada kita. Bukankah mulai saat ini kita harus mulai saling percaya. Mulai berusaha menumbuhkan rasa? Aku ataupun kamu berhak untuk bahagia dengan cara dan diri kita masing-masing." Ucapan Haris membuat Sita merasa terenyuh. Selama ini, belum ada yang mampu menyentuh hatinya seperti Haris, sekalipun orang tuanya sendiri.
"Apa aku bisa mempercayai hal itu?" tanya Sita yang matanya mulai berkaca-kaca. Beruntung, Haris tidak melihatnya. Sebuah rasa yang sulit dia ucapkan kali ini, hanya bisa ia resapi di dalam dirinya.
"Tentu kamu bisa." Haris meraih sebelah tangan Sita dan meletakkan di dadanya yang liat dan kekar itu. Sita seketika tercekat saat ia merasa tangannya menyentuh tubuh suaminya yang sudah tidak berpakaian itu.
Peringai yang sangat indah dari seorang Haris, dia berhasil membuat Sita terhipnotis dengan suara baritone-nya.
"Aaahhhh .... " Lenguhan itu lolos seketika saat Haris menelusup ke lehernya dan menyapu rambut sang empunya dengan hembusan napasnya. Seketika ia pun merasakan darah yang seolah mengalir deras di dalam nadinya. "Mas .... "
Haris tersenyum menyeringai. Dikecupnya bibir ranum itu, kemudian Haris menggigit kembali bibir bawahnya. Lalu, ia julurkan ke dalam mulut Sita.
Lidahnya mulai menari-nari dengan indah di dalam sana. Sita yang awalnya kaku, tapi semakin lama justru semakin menikmati dan mengimbangi permainan lembut yang Haris berikan.
Lenguhan pun lolos kembali dari mulut Sita saat Haris melepaskan pagutannya. Haris pun menelusup kembali ke leher Sita dan memberikan sebuah sensasi di sana. Tidak hanya itu, sesekali istrinya mengerang saat Haris memberikan tanda kepemilikan di sana.
Haris benar-benar sangat menikmati malam pengantin ini dengan aroma vanilla yang melekat di tubuh sang istri. Aroma yang sangat memabukkan, bahkan akan menjadi candu untuknya.
Tangan Haris pun tidak tinggal diam, ia mulai melucuti pakaian istrinya hingga tubuh sang istri benar-benar polos dan tidak membiarkan satu helai benang pun menempel di sana. Haris pun semakin liar tak terkendali.
__ADS_1
Sita merasa tersiksa dengan rasa aneh yang berdesir di dalam tubuhnya, terlebih saat Haris mulai bermain di atas kedua bomboloni miliknya. Akan tetapi, masih terbesit sebuah keraguan dalam hatinya.
"Mas ... aaahhh ... hentikan .... " Sita meracau, mulutnya memang menolak tapi tidak dengan tubuhnya yang sangat menikmati setiap sentuhan yang Haris berikan.
"Aku tidak akan menghentikannya, sebelum aku puas menikmati eranganmu yang terdengar sangat seksi." Suara parau Haris membuat Sita terbelalak seketika.
Sementara itu, seulas senyum menyungging di ujung bibir laki-laki itu. "Aku sangat menyukai aroma tubuhmu, istriku, apa kau juga menyukainya?"
Tanpa menunggu jawaban dari Sita, Haris seketika menggila dan melancarkan ritualnya. Walaupun berkali-kali Sita berusaha melepaskan diri, tetap saja kekuatannya tidak bisa melebihi laki-laki itu.
Sita pun menyerah dan berusaha mengimbangi Haris.
Oh Tuhan, inikah rasanya bercinta? Sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Monolog Sita dalam kegilaan Haris.
"I want you, Beib!" Perlahan tapi pasti, Haris mulai melesatkan pisang mengkel miliknya ke dalam goa yang sudah membanjiri rawa-rawa itu dalam sekali hentakkan.
"Astaga, sempit sekali! aku benar-benar menyukai ini, Beib!" Haris meracau dalam suara parau nya.
Sita memekik sangat keras. Beruntung kamar yang mereka tempati ini, terpasang pengedap suara. Sehingga tidak ada orang yang bisa mendengarnya, dan suara itu hanya menggema ke seisi ruangan.
Malam yang panjang pun dilalui Sita dan Haris. Walau keduanya masih belum tumbuh benih-benih cinta, tapi hasrat ingin memiliki itu sangat besar, terutama malam ini.
Haris melakukannya berkali-kali, hingga akhirnya Sita meminta ampun untuk menyudahi permainan mereka. Ia mulai tidak tega, dan kemudian mempercepat hentakkan nya. Sebuah lenguhan panjang pun keluar dari mulut keduanya.
Haris terdiam sejenak dan membiarkan benih itu tertanam dan tumbuh di dalam rahim istrinya.
"Terima kasih ... istriku," ucap Haris seraya mengecup kening Sita cukup lama, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Sita yang merasa kelelahan.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...
__ADS_1