Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Bersama Selamanya (End)


__ADS_3


Cahaya pagi menyilaukan pandangan Sita yang baru saja bangun dan duduk di atas tempat tidur. Seketika sorot matanya terhenti pada seorang laki-laki yang tengah duduk bersandar di sofa. Rasa pusing pada kepalanya, membuat penglihatan Sita masih sedikit kabur.


"Mas, apa itu kamu?" Sita memejamkan kedua matanya lalu dibuka kembali. Ia berusaha menormalkan lagi penglihatannya. "Ish! kenapa rasanya sakit sekali kepalaku?" keluh ya yang terus memegangi kepala yang masih dibalut oleh perban.


"Sayang, kamu jangan banyak gerak dulu. Luka dikepalamu belum pulih," ucap Haris sambil membantu istrinya berbaring kembali.


Sita terjatuh lalu terguling dari anak tangga ketika keluar dari tempat yang cukup menyeramkan baginya itu. Ia pun baru tersadar dari koma yang dialami selama tiga hari ini.


Haris pun baru mendapat kabar tentang kebenaran meninggalnya kedua orang tua Sita di Mulhouse itu. Jasad Jundi dan Rose pun di semayamkan di negara tempat Haris dan Sita berada saat ini.


Negara dimana tempat Haris mendapatkan penghasilan yang begitu fantastis setiap bulannya. Tak heran jika rumah yang Haris tinggali saat ini tidak kalah mewah dengan apartemennya yang berada di Jakarta.


Selama Sita belum sadarkan diri, Haris selalu menemaninya jika tidak sedang ada pekerjaan mendadak. Semua pekerjaannya telah dibantu oleh para pegawai di kedua perusahaannya itu.



Setelah Sita terpejam, Haris pergi ke ruang tamu. Jendela yang telah terbuka lebar itu membuat udara sejuk di rumah ini begitu sangat terasa. Haris pun mulai menyalakan puntung rokok yang harganya bisa ratusan ribu rupiah per batang. Belum lagi korek api yang harganya tak kalah mahal dengan satu puntung rokok tersebut.


Disela sedang asik menikmati hisapan demi hisapan dari puntung rokok yang menyala itu, ponselnya berdering.


"Ya, hallo?" sapa Haris yang kemudian mematikan rokok yang tersisa seruas jari.


"Bos, kita ada perjalanan ke kebun anggur yang ada di pulau sebelah. Mengingat sebentar lagi akan panen, jadi kita perlu memastikan hasil panen kita tidak sia-sia," jawab seorang laki-laki yang ada di seberang sana.


"Kapan kita akan berangkat?" tanya Haris memastikan.


"Satu jam lagi."

__ADS_1


"Oke! saya akan bersiap."


Haris memutuskan sambungan teleponnya lalu beranjak dari tempat duduk menuju kamar untuk bersiap. Lalu setelah itu, ia pun menemui istrinya di kamar khusus untuk perawatan.


"Sayang, aku tinggal dulu ya. Aku ada kerjaan di pulau sebrang. Kamu baik-baik di sini. Tenang saja ... kamu pasti aman," ucap Haris yang perlahan malah membangunkan Sita.


"Jangan lama-lama Mas." Sita tersenyum simpul.


"Iya tenang saja." Haris menenangkan lalu mengecup kening istrinya. "Bye Sayang," ucapnya lagi pamit dari hadapan istrinya.


...----------------...



Di kapal penyebrangan, Haris berdiri dengan kedua tangan yang bertumpu pada pembatas kapal tersebut. Laut biru, langit cerah, serta angin laut yang terus menyibakkan rambut serta mengoyakkan kaos oblong yang sedang dipakainya.


Andai aja kamu di sini, Sayang. Perjalananku gak akan terasa sepi. Justru, akan lebih seru. Bisa ada teman ngobrol untuk bercerita dan juga tertawa.


Perjalanan kali ini memang tidak memakan waktu banyak. Setelah pengecekan di kebun selesai. Haris segera kembali pulang untuk menemui istri tercintanya.


...----------------...


Satu bulan sudah Sita melewati masa-masa terberatnya. Haris yang selalu menemaninya membuat Sita semakin bersemangat untuk sembuh setiap harinya.


Dan malam ini akan menjadi malam yang terindah untuk Sita, karena Haris akan memberikannya sebuah kejutan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


"Sayang ... " Haris berjalan mendekat ke arah Sita yang masih memantaskan dirinya di depan cermin besar yang ada di kamar. Kedua tangan laki-laki itu lalu melingkar di pinggang sang istri. "You're so beautiful !" ucapnya kemudian.


Sita tertawa, "Thank you, Mas!" lalu tubuhnya diputar balikkan oleh Haris dengan kedua tangan yang masih melingkar di pinggang.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap Sayang?" tanya Haris. Kedua pasang matanya tampak sangat berseri.


"Sudah Mas!" Sita mengangguk sangat yakin. Haris pun mengajak Sita keluar dari kamar menuju suatu tempat.


Sepanjang perjalanan, ada sedikit keresahan di dalam hati Sita. Sementara Haris yang sedang fokus menyetir mobil pun tampak sangat tenang dan tidak ada beban.


"Mas, kita mau kemana sih? kok arahnya ke pelabuhan." Sita mengerutkan keningnya dan memberanikan diri untuk bertanya.


"Nanti kamu juga akan tahu. Santai Sayang. Aku gak akan buang kamu ke laut kok," seloroh Haris membuat Sita terkekeh geli.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Haris tiba di sebuah pelabuhan. Keduanya turun lalu menuju sebuah jembatan dengan hiasan lampu yang terang dan indah.


Sita terkejut sekaligus bahagia. Ini sangat romantis baginya. Haris pun membawa Sita ke dalam sebuah kapal pesiar dengan design yang berkelas tinggi.


Tiba-tiba alunan musik berbunyi mengiringi langkah mereka ketika masuk ke dalam kapal tersebut.


"Ayok Sayang, menarilah bersamaku!" ajak Haris. Sementara Sita yang awalnya terkejut, akhirnya menikmati setiap hentakan lagu yang berputar.



Tidak pernah aku sangka sebelumnya. Awalnya hadirmu selalu membuatku menjadi orang asing dengan sosok suami yang selalu menghilang bagai hantu. Tapi setelah aku tahu yang sesungguhnya, kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan, kamu justru menyadarkan ku kalau kamu memang nyata dan selalu ada. (Sita Arkania Ranggalih)


Yakinlah, aku akan menjadikanmu satu-satunya cinta dalam hidupku. Tetaplah tersenyum, biar senyummu itu yang mampu membangkitkan ku dari keterpurukan. Dan kini hingga selamanya, aku akan terus mencintaimu, belajar lebih memahami dirimu. Karena kamu tidak akan pernah terganti. (Haris Lingga Barista)



"Apa kamu bahagia Sayang?" tanya Haris.


"Tentu Mas!" jawab Sita sangat yakin.

__ADS_1


Sebuah penantian yang diiringi rasa sabar untuk mengungkap keping demi keping tanda tanya besar. Mengantarkan keduanya berada di ujung senja, yang warnanya begitu indah ketika akan berganti malam. Begitu pula dengan kebahagiaan yang kini mereka rasakan adalah hasil jerih payah mengolah emosi saat berada di masa sulit. Semoga rumah tangga Haris dan Sita bahagia selalu.


...Selesai...


__ADS_2