
"Karena aku sebenarnya menolak perihal perjodohan ini. Aku belum siap menikah. Kamu sendiri, kenapa mau jadi pengganti Sulthan?" Sita mendelik tajam dan dalam. Entah kenapa, rasa ingin tahunya kepada Haris begitu sangat besar ketimbang kepada Sulthan.
"Aku hanya ingin membalas budi aja ke kak Sulthan. Sebab, dia yang telah banyak membantuku sejak kecil. Hanya dia satu-satunya saudaraku," papar Haris dengan rasa bersalahnya. Memang tidak seharusnya Haris jujur kepada Sita. Tetapi, mengatakan yang sebenarnya di awal akan lebih baik, ketimbang Sita harus tahu jikalau memang mereka jadi menikah.
"Oh." Sita tercekat, rasa percaya dirinya lenyap seketika.
Jadi, dia hanya ingin membalas budi aja. Bukan karena menerima dengan ikhlas. Sepertinya aku gak boleh terlalu pakai hati.
"So, aku mau kasih pertanyaan ke kamu, Sita." Haris mulai berbicara serius dan Sita mulai menanggapinya.
"Silahkan, tanya aja." Sita tak kalah memasang wajah serius.
"Kalau emang kamu setuju nikah sama aku, apa kamu mau ikut denganku ke Australia? Karena pekerjaan dan rumahku di sana, berbeda dengan kak Sulthan yang sudah memiliki anak cabang di sini." Pertanyaan itu sengaja Haris ucapkan sekarang, karena ia ingin tahu sejauh mana Sita bisa menerimanya.
Sulthan yang baru saja selesai menutup sambungan teleponnya, berniat masuk ke dalam. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Haris dan Sita sedang berbincang serius.
Seulas senyum pun terbit dan membuat lesung pipinya terlihat. Sulthan kemudian memilih pergi dari sana.
Setelah cukup lama terdiam, Sita akhirnya angkat bicara. "Maaf Haris. Aku gak bisa ikut kamu ke Australia. Kuliahku sebentar lagi lulus dan aku udah ada niat untuk bekerja di sini." Ada sedikit rasa bersalah, tapi memang itulah tekad Sita dari awal. Hanya karena perjodohan ini, membuat target yang telah ia rencanakan menjadi terombang-ambing.
Haris mendesah pelan. Sejujurnya ini adalah hal yang sulit, bukan hanya baginya tapi juga bagi Sita. Walau harus diakui, Haris bukan tipe laki-laki yang tampak baik seperti di depan kakaknya.
Hidupnya bebas, namun terarah. Sampai saat ini pun, ia tidak suka terikat oleh apapun. Apalagi pernikahan, itu merupakan sesuatu yang jauh dari targetnya saat ini.
"Baiklah, aku gak akan maksa kamu perihal itu ... " Haris merasa sedikit kecewa. "Aku serahkan semuanya kepadamu, jujur ... aku bukanlah laki-laki yang baik seperti yang terlihat. Saranku, kalau kamu emang gak yakin, lebih baik jangan. Biarkan hati kamu siap dengan sendirinya."
"Iya .... " Ucapannya beriringan dengan hembusan napas yang Sita keluarkan. "Apa kamu sendiri siap?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Iya, mau bagaimana lagi. Bukankah ini juga amanah dari mendiang kedua orang tuaku? Siap gak siap aku harus menerimanya," ucap Haris yang terdengar pasrah di telinga Sita. Sedikit demi sedikit, keyakinan itu hadir di hati keduanya.
"Bagaimana, apa kalian udah yakin?" Sulthan tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Iya ... " ucap Haris yang menahan senyumannya. Sementara Sita tersenyum getir.
"Baiklah, tadi di depan Kakak udah bicara sama Pak Jundi. Kami sepakat kalau pernikahan kalian akan dilaksanakan besok pagi," ucap Sulthan dengan santainya.
Haris dan Sita terperangah, mereka pun saling bertukar pandang.
"Kak, bukankah besok itu hanya lamaran?" tanya Haris yang tidak percaya dengan ucapan kakaknya. Disisi lain, Sita hanya meremang.
"Kenapa harus secepat ini? kenapa kalian memutuskannya sendiri tanpa memberitahu kami?" cecar Sita dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku yakin kamu dan Haris pasti udah setuju. Niat baik bukannya tidak boleh untuk ditunda-tunda?" Sulthan lagi-lagi hanya bersikap tenang walau kedua orang yang ada dihadapannya kini telah meradang.
"Kak, ini bukan niat baik, melainkan sebuah paksaan! aku benar-benar gak habis pikir sama jalan pikiran Kakak." Amarah Haris mulai naik kepermukaan. Jundi dan Rose pun menghampiri mereka di ruang tamu.
Sementara itu, semua yang ada di rumah tamu masih panas.
"Nak Haris, kalau kamu tidak ingin pernikahan ini terjadi. Kamu bisa mengatakannya kepada kami," ucap Rose yang mencoba menenangkan Haris.
Haris menutup matanya rapat-rapat. Ucapan Sulthan yang bilang kalau ini sebuah amanah terngiang-ngiang di telinganya. Haris pun membuka matanya kemudian.
"Pak, Bu ... saya siap menikah dengan Sita." Ucapan Haris membuat semuanya terkejut, terkecuali Sulthan yang tersenyum saat mendengarnya.
"Bagus! Kakak harap, pernikahan kalian bisa bahagia." Sulthan menepuk pundak Haris, kemudian berkata lagi, "Baiklah Pak Jundi dan Ibu Rose, kalau begitu kami pamit pulang. Sampai bertemu besok di hari pernikahan Haris dan Sita," sambungnya lalu berjabat tangan pada Jundi dan Rose selaku tuan rumah. Haris pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Iya, hati-hati dijalan." Jundi dan Rose mengantar mereka sampai di depan teras villa.
Setelah mereka meninggalkan villa, kedua tuan rumah itupun masuk ke dalam.
*****
Tak terasa, hari pun cepat berganti. Pagi ini seluruh penghuni villa utama dan juga villa cabang di sana sedang bersiap untuk mengadakan sebuah acara, yang tidak lain adalah sebuah pernikahan.
Sita pun telah selesai dirias sedemikian rupa supaya tampak lebih pangling . Ia memakai satu set kebaya berwarna putih gading yang dipadukan dengan kain batik berwarna coklat bercampur gold, dan riasan wajah serta kepala yang membuatnya tampak sangat berbeda.
Akan tetapi, raut wajahnya tampak datar. Seolah mendung menyelimutinya. Hari yang seharusnya menjadi sebuah kebahagiaan untuknya, seketika menjadi kelabu karena tidak sesuai apa yang dia mau.
"Sita, ayok keluar. Calon suamimu telah menunggu," ucap Rose yang menghampirinya. Sita pun melihat Rose dari pantulan cermin yang ada di hadapannya seraya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Sejak semalaman, Sita masih terjaga hingga saat ini. Tubuhnya terasa panas. Beruntung, ia dibantu oleh riasan wajah. Sehingga kedua kantung mata itu tertutupi dengan sempurna.
Sita berdiri lalu berjalan sambil dipapah oleh Rose keluar dari kamarnya. Ia hanya menundukkan wajahnya.
Sesampainya di ruang keluarga, Sulthan dan Haris menatap Sita bersamaan. Ada rasa kagum di hati keduanya.
****
Dua puluh menit sudah acara pun berlangsung. Kini, mereka saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing. Tak lupa, Haris mencium kening Sita lalu menatap manik mata milik istrinya.
Sungguh indah. Puji Haris dalam hatinya. Sebab dirinya masih malu jika harus memuji langsung.
Seusai itu, para keluarga yang hadir, dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Sementara kedua mempelai, duduk di sebuah kursi yang ada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Haris, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan, Mas?" tanya Sita malu-malu. Haris hanya menjawabnya dengan senyuman dan juga anggukkan kepala.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...