
Mala berjalan sambil melamun, dan Tanpa disadarinya sebuah mobil melaju kencang kearah Mala berjalan. Mala terkejut ketika melihat dari arah sampingnya sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Mala sudah pasrah karena merasa sudah tidak sempat menghindar lagi. Namun, seseorang tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur di pinggir jalan dan membentur pinggiran jalan.
Prakkk...
Suara benturan keras membuatnya lebih kaget lagi. Mala melihat seseorang terkapar dijalan dan sebuah mobil melaju kencang meninggalkan mereka. Orang itu telah menyelamatkan nyawanya tapi dia sendiri malah yang tertabrak mobil itu.
Mala berjalan pelan mendekati orang itu, ternyata dia adalah Andra. Mala mulai histeris dan berteriak memanggil Andra yang sudah tidak sadarkan diri. Darahnya terus mengalir membuat Mala semakin panik. Untunglah saat itu ada beberapa orang yang kemudian menolongnya membawa mereka ke rumah sakit.
Mala sangat cemas melihat kondisi Andra yang saat ini berada di ruang operasi. Mala duduk dengan gelisah menunggu tim dokter yang dengan sigap menolong Andra. Saat bu Bella datang, dia langsung memarahi Mala.
"Andra terluka karena kamu. Sekarang kamu puas telah membuat Andra begini?!" teriak bu Bella sambil berusaha meraih kepala Mala, namun ditahan oleh suaminya.
Mala sangat kaget dengan reaksi bu Bella. Mala tahu bu Bella memang bicaranya sangat pedas tetapi Mala tidak tahu jika dia juga suka main tangan. Oh...dulu pernah menampar Mei.
"Ibu, tenanglah. Andra sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati. Jangan bikin masalah lagi," kata ayahnya Andra berusaha menenangkan istrinya.
Tatapan mata bu Bella seperti mata pisau yang siap membelah tubuh Mala. Tatapan mata seorang ibu yang takut kehilangan anak satu-satunya. Mala duduk disudut kursi tunggu dengan berlinang airmata. Mala merasa bersalah telah menyebabkan Andra celaka. Jika Andra tidak menolongnya, pasti saat ini yang berada di ruang operasi adalah dirinya.
Ruang operasi terbuka perlahan, semua orang menahan nafas sesaat menunggu keluarnya sang dokter.
"Anggota keluarga pasien?!" tanya sang dokter.
__ADS_1
"Saya ibunya dok, bagaimana kondisi anak saya dok? Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya bu Bella beruntun.
"Bagaimana keadaan anak kami dok?!" tanya ayahnya Andra.
"Apakah disini ada yang bernama Mala?" tanya dokter sambil melihat sekeliling.
Mala mendengar pertanyaan sang dokter dan dia ingin menjawab, namun bu Bella sudah bicara terlebih dulu.
"Memangnya ada apa dok?"
"Sebelum dia kami beri obat bius, dia sempat sadar dan menyebutkan nama itu. Saya yakin dia memiliki hubungan dekat dengan pasien."
Ayah dan ibu Andra saling berpandangan, mereka masih belum percaya dengan semua itu.
"Begini pak bu, pasien masih beruntung nyawanya bisa kami selamatkan. Akan tetapi tubuhnya mengalami banyak cedera. Diantaranya kedua kakinya patah tulang, dan kepalanya mengalami gegar otak. Mungkin pasien akan mengalami amnesia jangka pendek. Tapi jika pasien beruntung mungkin hanya sebagian saja memori yang hilang. Tapi entah ingatan yang seperti apa yang akan ada di ingatannya."
"Pak, bagaimana ini? Dia akan melupakan kita?!" tanya bu Bella sambil menangis.
"Sabar bu, jangan pesimis dulu? Kita belum melihat apa yang akan terjadi."
"Mungkin hanya nama yang sebutkan pasien yang bisa membantunya untuk mempunyai semangat hidup lagi, itu yang pasien butuhkan saat ini. Sebentar lagi pasien akan dibawa keruang rawat inap. Saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang menunggu," kata sang dokter lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Bu Bella menatap dingin kearah Mala yang masih duduk dipojok kursi tunggu. Bu Bella lalu melangkah mendekati Mala.
"Mala, kamu dengar tadi bagaimana kondisi Andra. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan anak dan suami kamu. Aku tidak ingin kamu tertawa bahagia diatas penderitaan Andra. Anakku terbaring tak berdaya, jadi batalkan rencana rujuk kamu dengan mantan suamimu," kata Bu Bella kesal dan marah.
"Tapi, keputusan ini bukan hanya saya yang menentukan. Ada ibu, anakku dan Dicko. Saya tidak bisa memutuskan sekarang," jawab Mala.
"Aku yang akan memutuskan untuk kamu sekarang. Karena kamu yang membuat Andra seperti itu, maka kamu harus merawat Andra sampai dia bisa berjalan kembali. Aku tidak peduli meskipun kamu harus melepaskan kebahagiaan kamu dan keluarga kamu," kata bu Bella tanpa ampun.
"Baik, saya akan melakukan apa yang anda mau. Tapi saya punya pekerjaan dan kuliah yang harus tetap saya kerjakan."
"Kami akan menggajimu lebih besar dari gajimu di cafe. Tentang kuliah, bukankah hanya beberapa kali saja dalam seminggu. Kami setuju," kata ayahnya Andra ikut bicara.
"Bagaimana Mala, anggap saja kamu membalas budi atas pengorbanan Andra," kata bu Bella sambil meneteskan airmata.
"Baik. Mala setuju asal anda bisa menyelesaikan kesulitan saya," jawab Mala.
Kesepakatan antara Mala dan keluarga Andra membuat Mala bertambah bingung. Yang satu belum selesai, muncul masalah lain.
***
Mala pulang dengan hati bimbang untuk memutuskan memberitahu pada Dicko, ibu dan juga Gala. Dia hanya bisa berserah diri pada Allah dan meminta petunjuk-Nya. Dan selalu bersyukur masih diberi keselamatan karena ada yang bersedia mati untuknya.
__ADS_1
Mala ingin terlelap dan tertidur dengan tenang dan bangun keesokan harinya dengan hati damai. Dan hati yang kuat menentukan sikap dan keputusan untuk masa depan hidupnya. Pilihan yang mengandung banyak resiko baik rujuk dengan Dicko atau membantu pemulihan Andra.
Mala harus bisa memilih dan melepaskan salah satu.