Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Ayah Reno dan Lilis


__ADS_3

Mala menatap tajam sosok lelaki paruh baya yang ada dihadapannya. Mala berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk baginya untuk mengetahui identitasnya.


Pak Reno tersenyum pada Mala dan Dicko sambil mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Dicko.


"Mala, ada apa?" tanya Dicko saat melihat Mala masih bengong.


"Oh... gak ada apa-apa. Saya Mala," jawab Mala kaget lalu menyambut tangan pak Reno.


Pak Reno terlihat senang bertemu Mala. Diapun tidak segera melepaskan tangan Mala bahkan menggenggamnya erat seolah tidak ingin melepaskannya.


Matanya syahdu menatap Mala yang tersenyum sangat manis. Mirip seseorang yang tidak pernah bisa dia lupakan selama ini. Mala berusaha melepaskan tangannya, namun sangat sulit untuk bisa melepaskannya.


Lilis dan Dicko melihat adegan itu dengan hati penasaran.


"Ayah, sudah. Lepaskan tangan Mala, jangan membuat Mala ketakutan," kata Lilis sambil berusaha menarik tangan ayahnya


Reno baru tersadar saat Lilis menarik tangannya.


"Maafkan aku nak Mala. Wajah kamu mengingatkan aku pada seseorang yang aku kenal," kata pak Reno.


"Maafkan ayah saya Mala," kata Lilis sambil menatap Mala.


Lilis mencoba mengamati sosok Mala yang membuat ayahnya yang tidak pernah tertarik pada wanita manapun menjadi penuh perhatian. Akan tetapi Lilis tidak bisa menemukan sesuatu yang istimewa yang di miliki Mala.


Mala memang terlihat cantik dan jika dilihat lebih lama, dia ada sedikit kemiripan dengan ayahnya. Lilis tiba-tiba teringat, jika sang ayah pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang anak. Tapi apakah itu Mala?


"Tidak apa-apa pak Reno, mbak Lilis. Santai saja," jawab Mala membuyarkan bayangan di pikiran Lilis.


"Jadi Dodi dan kamu sudah saling kenal ya?" tanya Lilis pada Mala.


"Begitulah mbak. Kayaknya emang ada jodoh ya bisa bertemu keluarga Dodi," jawab Mala sambil melihat kearah Dicko.


"Yang pernah nganterin pulang Dodi mama," kata Dodi.


"Ini kartu namaku, kapan-kapan datanglah ke rumah. Udah tahu rumahku kan ya?" tanya Lilis. "Kami pamit pulang dulu. Ayo ayah, Dodi."

__ADS_1


Dodi dan keluarganya melangkah pergi. Sementara pak Reno masih sempat berhenti dan melihat ke arah Mala, sebelum melangkah pergi.


Mala mengamati kartu nama yang ada ditangannya. Dokter Lilis Suryani. Mala tersenyum sambil melihat kepergian keluarga Dodi.


"Mas, kenapa mas Dicko diam saja?" tanya Mala.


"Aku tidak tahu mesti ngomong apa. Jadi lebih baik diam saja."


"Mas, menurutmu pak Reno itu bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Namanya mirip nama ayahku. Tapi semoga hanya kebetulan saja nama mereka sama. Semoga tak seperti bayanganku."


"Apakah kamu khawatir jika bertemu ayah kandungmu?" tanya Dicko.


"Iya mas. Aku belum siap bertemu salah satu dari kedua orangtua kandungku."


"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Jika bertemu mereka, kamu hanya perlu memberi dirimu dan mereka kesempatan untuk saling mengenal."


"Mereka pasti akan mengerti keadaan kamu," kata Dicko memberi semangat pada istrinya.


"Semoga saja," jawab Mala.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara Dodi dan keluarganya sudah sampai di rumah. Pak Reno bergegas masuk kedalam kamarnya.


"Ayah masuk dulu, mau istirahat Lis."


"Baik Ayah, istirahatlah. Kalau bisa tidur saja," jawab Lilis sambil menggendong Dodi yang tertidur lelap.


Didalam kamarnya pak Dodi mencari sesuatu di almari paling bawah. Disana dia mengeluarkan sebuah kotak tua yang sudah usang. Kotak itu diletakkannya diatas ranjang miliknya.


Perlahan-lahan dibukanya kotak itu dengan hati berdebar. Ternyata di situ tersimpan beberapa barang kenangan milik Shella, ibunya Mala yang sudah lama tersimpan rapi dan baru akhir-akhir ini kembali dilihatnya.

__ADS_1


Sebuah foto Shella dan pak Reno saat masih muda masih terlihat jelas.


Tidak terasa diujung matanya menetes sebutir airmata yang segera di halusnya. Pertemuannya hari ini dengan Mala, benar-benar membuatnya seolah dia sedang bertemu dengan Shella. Pak Reno menghela nafas mengingat tujuan awalnya pulang kembali ke kota asalnya.


Penyesalan terbesarnya, dia tidak bisa mengantar saat terakhir ayahnya meninggal. Dia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan setelah memutuskan pergi dari kota ini. Meskipun dia sudah meminta maaf pada ibunya, tetap saja penyesalan itu terus menghantuinya.


Kali ini pak Reno tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Dia ingin menjemput sang ibu untuk tinggal bersamanya di rumah barunya ini. Walaupun ada kemungkinan dia akan bertemu Shella atau keluarganya.


"Ayah, kenapa malah membuka kotak itu? Ingat, jaga kesehatan ayah jika masih ingin menjemput nenek," kata Lilis sambil menata ulang barang-barang milik ayahnya termasuk mengambil foto yang ada ditangan ayahnya.


Lilis memandangi foto ayahnya yang sedang bersama Shella mantan kekasihnya. Dia memang sangat mirip dengan Mala, wanita yang mereka temui saat di rumah sakit tadi. Pantas saja ayah Reno sangat memperhatikan Mala.


"Ayah, apakah ayah pernah berpikir jika anak ayah masih hidup, dia akan seperti Mala?" tanya Lilis.


"Entahlah. Tetapi anak ayah sudah meninggal saat dilahirkan. Masih bolehkah ayah berharap dia masih hidup?" tanya balik pak Reno.


"Tidakkah ayah berharap ada suatu keajaiban yang membuat anak ayah masih hidup sekarang ini?"


"Tentu. Bahkan ayah benar-benar ingin anak ayah masih hidup dan ayah bisa memeluknya. Mengatakan kepadanya bahwa ayah ini ayahnya. Ayah tidak pernah bermaksud meninggalkannya dan dia pasti akan memaafkan ayah," kata pak Reno dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah, Lilis ingin sekali melihat ayah bahagia. Selama ini ayah sangat menyayangi Lilis dan menganggap Lilis seperti anak ayah sendiri. Lilis tahu ayah sangat merindukan putri ayah," kata Lilis sambil memeluk ayahnya.


"Lilis, kamu juga adalah putriku. Putri kesayangan ayah. Ibumu terlalu baik bagi ayah. Ayah yang salah tidak pernah bisa mencintai ibumu. Tapi ibumu bisa menerima ayah apa adanya dengan segala kekurangan yang ayah miliki."


"Ayah, ibu sangat mengerti keadaan ayah. Ayah jangan merasa bersalah. Ibu sangat bahagia selama hidup bersama ayah. Ibu pernah bilang, bahwa ibu ingin sekali melihat ayah tersenyum bahagia dan merasa bersalah telah mengikat ayah dalam ikatan pernikahan yang membuat ayah tidak bisa kembali bersama cinta ayah," kata Lilis sedih.


"Mona...," gumam pak Reno.


"Sebelum meninggal ibu menitipkan keinginan terakhir untuk membuat ayah bahagia. Dan Lilis akan melakukannya untuk ketenangan jiwa ibu," kata Lilis sambil memandang ayahnya yang sudah terlihat menua.


Matanya tak setajam dulu. Namun cintanya masih terikat pad Asatu wanita yang menjadi cinta pertamanya, Shella. Sedangkan ibu Lilis, Mona, hanyalah wanita yang mampu membuat pak Reno masih ingin tetap hidup namun pak Reno tidak pernah menawarkan cinta. Hanya sebuah kesetiaan dalam pernikahan. Selama menikah, pak Reno tidak akan pernah mendekati wanita manapun. Namun hanya cinta yang tidak bisa dia berikan.


Bagaimana bisa menikah tanpa cinta dan ibunya Lilis setuju?


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Teruntuk Lilis ...sebagai saudara tiri Mala


__ADS_2