
Jangan berakhir, aku tak ingin berakhir. Kuingin bersamamu, menghabiskan waktu hingga ku terlelap. Mungkin esok takkan lagi, kini kumohon ... temani aku sebentar saja.
*******
"Mas ... kenapa semalam kamu gak jadi video call aku?" Sita menurunkan pandangannya lalu melepaskan kedua tangan Haris dari pipinya, kemudian menaruhnya di atas paha dan diusapnya sangat lembut.
"Sayang .... " Haris menjeda kata-katanya seraya menarik napasnya dalam-dalam. Sontak satu kata itu membuat Sita menaikkan pandangannya kembali, menatap manik kecoklatan milik suaminya. Seketika kabut mulai menutupi sebagian pupil mata Sita.
"Aku minta maaf, semalam ... aku ada urusan mendadak. Setelah aku lihat waktu, ternyata udah larut malam. Aku gak mau kamu marah, jadi aku memutuskan untuk menyusulmu ke sini," papar Haris dengan tatapan teduhnya. Sita masih tak bergeming, tatapannya masih mencari sebuah kejujuran di dalam manik matanya.
"Urusan apa? formal banget ya?" tanya Sita dengan rasa penasarannya saat ia melihat pakaian yang masih melekat di tubuh Haris.
"Iya, aku gak sempat mandi dan berganti pakaian lebih dulu sebelum ke sini." Haris tertunduk sambil menghela napas panjang. Lalu melanjutkan perkataannya lagi, "Urusan kantor, Sayang." Ia berusaha meyakinkan Sita.
"Oh." Sita melepaskan genggaman tangannya di tangan Haris.
Sesaat kemudian pintu kamar pun ada yang mengetuk kembali.
"Itu pasti, Bibi yang antar sarapan," gumam Sita seraya turun dari tempat tidurnya. Sementara Haris membiarkan Sita membukakan pintu.
"Non, ini sarapannya." Pelayan itu menundukkan kepalanya. Sita mempersilahkannya masuk.
"Taruh di atas meja belajar aja ya, Bi!" perintah Sita yang masih berdiri di dekat pintu.
"Iya, Non." Pelayan itu patuh. Setelah menaruh pun, ia pergi dari kamar Sita.
"Terima kasih, Bi," ucap Sita kembali saat pelayan itu sudah berada di luar pintu.
"Sama-sama, kalau begitu Bibi permisi." Setelah membungkukkan tubuhnya, ia pun benar-benar pergi dari sana menuju dapur kembali. Sita pun menutup pintu kemudian.
Tak disangka, saat pintu telah tertutup sempurna ... tiba-tiba Haris telah berdiri di belakangnya dan telah membuka pakaiannya, hanya tersisa T-Shirt Oblong dan juga celana short.
__ADS_1
"Astaga! Mas ngagetin aku aja sih!" Sita mendengkus kesal lalu mencoba pergi dari hadapan Haris. Namun ...
"Mas aku mau sarapan dulu, laper banget nih." Sita berakting memegangi perutnya, ia langsung terhubung saat melihat tatapan Haris yang penuh arti.
"Bisa gak aku makan kamu dulu, Sayang." Haris membelai wajah Sita dengan lembut sambil mengangkat dagu dan memberi sentuhan di sana. "I want to eating you, now Beib!" ucapnya dengan suara parau.
GLEK! Sita bersusah payah menelan salivanya. Pupil matanya melebar.
"Apa harus melakukannya di pagi hari ini?" tanya Sita yang sudah mulai gelisah. Gorden kamarnya pun belum sempat ia buka, jadi suasana di dalam kamar pun tidak seperti pagi hari.
"Iyap, why not? bukankah bagus jika di pagi hari? apa kamu gak mau mengandung anakku?" Haris membuat Sita membuka pupil matanya semakin lebar. Bahkan kini tubuh Sita telah bersandar di pintu kamar dengan kedua tangannya yang mengukung istrinya.
"A-anak? kau ingin aku hamil, Mas?" tanya Sita ragu-ragu. Pandangannya masih melekat ke manik kecoklatan yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa? apa kamu belum siap?" Haris membelai wajah Sita kembali dengan sebelah tangannya.
Oh Tuhan, Sita semakin terbawa suasana. Ia mulai merasakan desiran yang menggelitik nadinya. Detak jantungnya pun semakin cepat.
Lidah keduanya menari-nari bersama di langit merah jambu itu. Bersilat dan menarik satu sama lain. Haris tersenyum di tengah permainannya itu, karena Sita telah bisa mengimbanginya.
Tanpa ragu, Haris mengangkat tubuh istrinya dan tanpa di suruh Sita melingkarkan kaki di pinggangnya serta mengalungkan tangan di lehernya. Ia tidak langsung membawa Sita ke atas kasur melainkan ke sofa hijau itu.
Keduanya bermain-main di sana. Meneguk indahnya surga dunia di pagi hari. Merasakan hangatnya hembusan napas yang kian memburu dari keduanya.
Suara lenguhan yang Sita keluarkan itu, menjadi sebuah melodi yang sangat merdu. Ditambah, suara kicauan burung yang ada di luar jendela kamar, semakin menyatu.
Apalagi saat penyatuan itu, Sita tak henti-hentinya melenguh kenikmatan yang tiada tara. Perlakuan Haris sangat membuatnya mabuk kepayang. Kini keduanya sama-sama saling melihat satu sama lain.
Wajah dan tubuh mereka sangat ter-ekspose dengan jelas. Kini Sita benar-benar yakin, kalau Haris itu memang nyata adanya.
Senyum pun tidak pernah pudar sepanjang permainan mereka, di tengah lenguhan yang terus saling bersahutan. Hingga keduanya sama-sama mencapai puncak, Haris mengerang hebat. Sementara Sita terkulai lemas di sofa hijau itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Haris mencium kening Sita sebelum akhirnya melepaskan penyatuan mereka.
Suhu di ruangan ini sangatlah dingin, tapi karena permainan panas yang mereka lakukan tadi, membuat suhu yang mereka rasakan terasa panas. Peluh pun bercucuran di sekujur tubuh keduanya.
"Angkat kedua kakimu ke atas ya! supaya benih yang ku tanam, cepat tumbuh dan berkembang." Haris melepas penyatuannya kemudian langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Sita menurut apa yang dikatakannya— mengangkat kedua kakinya ke atas sambil bertumpu di sandaran sofa.
*******
Setelah pergulatan panas di pagi hari yang membuat rasa lapar terus meronta-ronta minta diisi. Kini pasangan pengantin baru itu tengah menikmati romantisme sarapan pagi yang cukup syahdu ini.
Sita yang hanya memakai bathrobe pun duduk di pangkuan Haris seraya memberikan suapan demi suapan kepada suaminya itu. Satu piring berdua, diiringi senyum simpul yang tampak malu-malu.
Tangan Haris yang melingkar kuat di pinggang Sita, memberi kenyamanan tersendiri untuk istrinya. Sampai sarapannya habis pun, Sita masih duduk di atas pangkuan Haris dengan dada liat yang terpampang nyata.
Kedua tangannya pun melingkar dan mengelus rambut suaminya yang masih basah itu.
"Sayang, kamu mau punya anak berapa?" tanya Haris dengan wajah yang menengadah menatap wajah istrinya itu.
"Dua atau tiga cukup." Sita tersenyum simpul sambil meraup wajah Haris dengan kedua tangannya.
"Apa kamu yakin?" Kini tatapan Haris penuh arti. Kaki Sita yang tadinya dengan posisi menyamping, tapi berkat kedua matanya yang mampu menghipnotis Sita. Membuat kedua kaki Sita melingkar di pinggangnya.
Tanpa aba-aba, bibir Haris langsung melahap pasti bibir ranum istrinya. Sita yang terpancing kembali, akhirnya menyambut serangan Haris dengan darah yang seolah berdesir sangat kencang.
Mereka pun melakukannya lagi, tapi kali ini di atas tempat tidur. Nyanyian merdu kembali menggema.
Hingga tepat pada dua jam setelahnya, Haris menghentikan permainannya. Raut wajah keduanya tampak bahagia.
Vitamin pagi hari pun telah mereka dapatkan satu sama lain. Sebuah moodboaster tersendiri untuk mereka.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...
__ADS_1