
"Lho lho mas, kok gendong Gala? Sini biar aku yang gendong," kata Mala sambil mengambil Gala dari gendongan suaminya.
"Hati-hati sayang," kata Dicko mengingatkan.
"Apa mas Dicko tidak takut jatuh? Kaki aja masih pincang gitu. Lain kali kalau Gala belum mau bangun panggil saja aku," kata Mala sambil membusungkan dada.
"Aku memang tidak berguna," gumam Dicko manja.
"Udahlah mas jangan kayak anak kecil. Kamu memang mirip Gala kalau lagi ngambek. Sudah-sudah, nanti kalau kamu sudah sembuh, boleh gendong aku aja," kata Mala sambil tersenyum.
Dicko membalas senyum istrinya dan memberikan kode semangat dengan mengangkat satu tangannya yang sakit.
"Au...sakit." teriak Dicko pelan. "Aku ambil wudhu dulu sayang. Aku tunggu, jangan lama-lama."
"Iya mas," jawab Mala sambil tersenyum.
Dicko bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil wudhu dan menunggu Mala yang sedang berusaha membangunkan Gala yang masih malas-malasan.
Mala mendudukkan Gala di atas sofa. Tangan lembutnya menyentuh pinggang Gala dan menggelitiknya pelan. Gala yang memang paling anti digelitikin dan itu menjadi senjata Mala untuk bisa membangunkan Gala.
"Ibu, berhenti. Geli..."
Mala tidak berhenti sampai Gala benar-benar bangun. Gala tampak kesal dengan perbuatan ibunya. Tetapi Mala segera membisikkan sesuatu yang membuat Gala segera berlari ke kamarnya untuk mandi.
Mala mengikuti Gala ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian ganti untuk putranya itu. Dengan penuh semangat, Gala cepat sekali mandinya.
"Gala, kok cepet banget mandinya. Itu mandi atau cuci muka. Apa perlu ibu bantu Gala mandi?" tanya Mala sambil menghela nafas.
"Mandilah Bu, masak nggak. Nggak jadi dong pergi jalan-jalannya kalau nggak mandi," jawab Gala sambil tersenyum.
"Udah ambil wudhu?"
"Udah..."
"Kalau begitu ayo cepet ganti baju, dah ditunggu ayak Dicko tuh dikamar."
Mala segera membantu Gala berganti pakaian. Gala mengenakan baju lengan pendek dan sarung kecil yang sangat lucu. Setiap kali Gala memakai perlengkapan sholat, Mala melihat anaknya tampak imut ditambah peci putih kesukaannya.
Mala menuntun Gala ke kamarnya untuk sholat berjamaah bersama ayah Dicko. Dikamar, ayah Dicko sudah menunggu sambil senyam senyum sendiri entah sedang memikirkan apa.
"Mas, kenapa senyum sendirian? Lagi mikirin apa sih?" tanya Mala sambil mengambil mukena.
"Mau tahu aja," jawab Dicko cuek.
__ADS_1
"Ih... kok mas gitu sih."
Mala memperlihatkan sikap kesalnya. Tetapi Dicko malah tertawa melihat Mala sok kesal. Dicko kenal Mala. Mala bukannya tidak bisa marah, hanya saja dia tidak mudah kesal pada orang terdekatnya. Walaupun mungkin orang itu berbuat sesuatu yang menyakitinya.
"Gala, bisa bantu ayah?" tanya Dicko sambil melirik kearah Mala.
"Bantu apa ayah Dicko?" Gala balik bertanya.
"Tolong bantu ayah cium ibu," jawab Dicko sambil tersenyum.
Mendengar perkataan suaminya itu membuat Mala ingin tertawa. Tetapi dia teringat kalau dia sedang pura-pura kesal.
"Oke..."
Gala secepat kilat mendekati ibunya yang sedang memakai mukena. Dan sebuah ciuman kecil mendarat di pipi Mala yang Chubby.
"Gala..."
Mala berteriak pelan sambil mengejar Gala yang setelah mencium ibunya langsung bersembunyi dibelakang ayahnya.
"Mala, ingat sudah jam berapa ini. Ayo kita beribadah, keburu waktunya habis," kata Dicko sambil tersenyum melihat tingkah kedua ibu dan anak yang sangat disayanginya.
Mereka bertiga menjalankan sholat berjamaah dengan khusyuk. Dan dilanjutkan berdoa untu semua keluarga.
"Boleh, tapi pasti mau mampir kan. Mampir kemana?" tanya Dicko.
"Nggak mas, hanya janji sama Gala. Muter-muter dulu, katanya mau lihat kota," jawab Mala.
"Nanti kalau ayah sudah sembuh benar, ayah ajak Gala keliling kota dan pergi ke taman lagi seperti dulu," jawab Dicko sedih.
"Ya mas, jangan sedih gitu. Ibu mau turun dulu untuk menyiapkan sarapan. Gala main ditemani ayah ya, tapi jangan bikin yah capek."
"Iya bu. Sepertinya ibu lebih peduli sama ayah Dicko daripada aku, ckckck," gumam Gala.
"Siapa bilang," kata Dicko sambil menekan kepala Gala dengan jari telunjuknya.
Gala tertawa diikuti Dicko dan Mala.
🌹🌹🌹🌹🌹
Mala membantu bibik menyiapkan sarapan pagi. Apalagi kalo ini ada ayah dan ibunya, Mala ingin membuat makanan kesukaan mereka. Akan tetapi, sang ibu juga datang membantu untuk menyiapkan makanan.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat saja. Biar Mala yang menyiapkan makanan pagi ini. Biarpun rasanya nggak akan seenak masakan ibu," kata Mala pelan pada ibunya.
__ADS_1
"Ibu ini jarang kemari. Jadi ibu ingin memasak untuk kalian," jawab sang ibu.
"Baiklah bu. Mala tidak akan melarang ibu untuk ikut memasak," kata Mala.
Mala dan ibunya menyiapkan makanan bersama. Karena Mala juga jarang memasak, makanya Mala hanya membantu ibu dan bibik sebisanya.
Pagi itu mereka sarapan bersama dan setelah itu, Mala dan Dicko mengantar Gala pergi ke sekolah setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya. Tidak lupa Mala berpesan pada ayah dan ibunya untuk bersantai di rumah saja.
Mereka pergi diantar sopir pribadi Dicko, pak Sapto karena Mala dan Dicko belum bisa menyetir sendiri.
Mereka berkeliling kota melihat suasana kota di pagi hari. Gala terlihat sangat senang sekali bisa menikmati pemandangan kota pagi ini. Setelah puas berkeliling dan jam masuk sekolah juga sudah waktunya, mereka berhenti di depan TK Kartini.
Gala turun dengan senyum manisnya tersenyum pada ayah dan ibunya yang ikut turun. Sebelum masuk, Gala mencium tangan ayah ibunya.
"Jangan nakal dan jangan bertengkar dengan temanmu," bisik Mala pada Gala yang diikuti anggukan Gala.
Mala dan Dicko melihat Gala yang segera bergegas masuk ke dalam sekolah dengan senyum.
"Mas ayo kita pulang," ajak Mala.
"Kenapa tergesa-gesa. Tidakkah ada yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Dicko serius.
"Maksud mas Dicko apa?" tanya Mala seolah hendak menghindar.
"Kita pergi ke taman sambil melihat bunga," perintah Dicko pada pak Sapto. "Ayolah Mala, ikut aku ke taman."
"Baik mas, terserah mas saja."
Mala mengikuti suaminya masuk kedalam mobil dan pak Sapto segera menyetir mobilnya menuju ke taman kota. Hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai di taman.
"Pak Sapto, bapak boleh pulang dulu. Sejam dari sekarang baru jemput kami," perintah Dicko.
"Baik pak, saya akan pulang dulu. Jika sebelum satu jam, Pak Dicko dan nyonya membutuhkan saya, silahkan hubungi saya. Saya akan segera datang," kata pak Sapto.
"Baik, kami pergi dulu," kata Dicko sambil menggandeng tangan Mala yang agak dingin.
Dicko tentu saja ingin segera mendengar hal yang semalam membuat istrinya menangis. Walupun sekarang, Mala sudah terlihat baik-baik saja. Akan tetapi hati Dicko belum merasa tenang jika belum mengetahui penyebabnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai readers...
Otor bawa karya baru semoga suka
__ADS_1