
"Kami belum pernah membicarakan sampai sejauh itu," kata bu Shella.
"Karena itu, saat ini mumpung kita sedang berkumpul. Kita tentukan saja tanggal pernikahan kalian secepatnya," kata Mala yang berharap ayah dan ibunya bisa bersama.
Mala mengerti bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang dicintai apalagi sampai bertahun-tahun lamanya.
"Bagaimana?" tanya pak Reno pada bu Shella.
"Terserah mas Reno saja. Aku ngikut saja keputusan mas Reno," jawab bu Shella sambil tersenyum malu.
"Nah, ayah. Ibu sudah setuju. Ayolah ayah, tentukan hari dan tanggalnya," ucap Mala memaksa.
"Baik. Seminggu lagi hari ulangtahun ibumu. Kita tetapkan hari itu untuk menikah," kata pak Reno.
"Apa tidak terlalu cepat ayah?" tanya Lilis.
"Bukankah tadi kalian minta agar cepat? Atau aku ubah saja setahun lagi?" tanya pak Reno.
"Tidak perlu ayah. Hanya saja, waktunya tidak akan cukup untuk melakukan persiapan," kata Mala berpikir keras.
"Untuk apa banyak persiapan, kita bukan pasangan muda lagi. Cukup akad nikah depan pak penghulu di KUA saja. Tak perlu ada pesta," ucap pak Reno.
"Tapi ayah, Mala ingin pernikahan kalian memiliki kesan yang mendalam bagi ayah dan ibu khususnya," kata Mala.
"Mala, kesan mendalam bukan hanya karena pestanya yang meriah, tetapi kesan mendalam itu datang dari hati kita. Ayah rasa ibumu juga sependapat denganku," kata pak Reno sambil melihat Shella.
__ADS_1
"Benar Mala. Asalkan bisa bersama dengan orang yang kita cintai, ibu rasa itu sudah cukup membuat kesan di hati. Karena pernikahan bukan akhir dari cinta. Dalam pernikahan masih banyak hal yang harus kita jaga termasuk cinta itu sendiri," kata bu Shella.
Mala dan Lilis mengangguk. Memang benar, pada awalnya pernikahan itu karena cinta, lalu kenapa ada perceraian?
Karena mereka tidak bisa menjaga cinta diantara mereka. Jadi meski sudah menikah, cinta itu tetap harus dipupuk agar tumbuh menjadi pohon yang tinggi, berakar kuat dan kokoh.
Tetapi juga perlu kerjasama kedua belah pihak, suami dan istri. Jika hanya salah satu saja yang berusaha, semua akan sia-sia dan cinta hanya akan jadi kenangan pahit.
Akhirnya diputuskan mereka akan menikah pada hari ulangtahun ibu Shella. Dengan acara yang sangat sederhana dan sakral.
"Mala, aku ingin bertemu Gala cucuku," kata pak Reno setelah selesai berunding.
"Silakan ayah. Mau aku panggil Gala kemari?" jawab Mala.
"Aku juga ikut. Aku juga ingin bertemu Gala," tambah bu Shella.
Pak Reno dan bu Shella berjalan pelan mendekati kamar Gala yang tidak tertutup. Mereka berdiri didepan pintu dan menyaksikan Gala dan Dodi sedang bermain dengan gembira.
"Kakek," teriak Dodi.
"Dodi, kakek mau bicara sama Gala, boleh tidak?" tanya pak Reno.
"Boleh kek, kan Gala juga cucu kakek juga."
Pak Reno dan bu Shella mendekati Gala yang melongo melihat mereka berdua. Gala ingat, ibunya pernah mengatakan jika dia memiliki kakek dan nenek lagi.
__ADS_1
"Kakek, nenek," teriak Gala sambil memeluk pak Reno.
Pak Reno tersenyum bahagia karena Gala sudah menyebutnya kakek dan memeluknya.
"Sana, peluk nenek juga," ucap pak Reno.
Gala melepaskan pelukannya dan berbalik menatap neneknya.
"Nenek."
Gala memeluk neneknya yang tiba-tiba meneteskan airmata. Dia teringat Mala. Pasti saat kecil, Mala juga menggemaskan seperti Gala.
"Nenek jangan menangis. Kalau ada yang jahat sama nenek, bilang sama Gala. Nanti Gala akan bantu nenek mencubitnya," ucap Gala yang membuat kakek dan nenek itu tertawa.
Seminggu kemudian.
Pernikahan pak Reno dan bu Shella diadakan dengan sederhana dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja. Namun diantara yang hadir, tidak tampak Andra yang sekarang menjadi sepupu Mala.
"Mala, sedang mencari siapa?" tanya Dicko ketika melihat Mala gelisah.
"Tidak mas, hanya penasaran saja sama Andra. Kenapa dia tidak datang," jawab Mala.
Dicko tampak agak kesal mendengar Mala sedang membicarakan Andra. Tetapi dia menyadari jika Andra sekarang adalah keluarga Mala yang berarti juga keluarganya.
Lalu dimanakah Andra?
__ADS_1