Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Ada Yang Terbuka


__ADS_3

Setelah menyelesaikan mandinya, Sita tersenyum tatkala masih melihat Haris yang merebahkan diri di atas sofa. Lampu kamar itu masih saja temaram. Dikiranya, Haris tengah tertidur ... namun ternyata, KLIK. Lampu menyala terang benderang saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe berbahan sutra yang dilapisi silk satin.


Sebenarnya handuk yang menyerupai kimono itu kurang nyaman saat Sita pakai. Karena bagian dadanya begitu terlihat jelas jika dilihat dari depan. Apalagi lekukan bokongnya yang seperti gitar spayol. Setelah menikah, memang banyak perubahan pada bentuk tubuh Sita, terutama bagian dada dan bokongnya. Apa ini efek vitamin yang sering Haris berikan kepadanya? mungkin iya.


Sita berjalan ke arah lemari untuk mencari pakaian yang akan ia pakai. Tiba-tiba ...


"Aaahh ...." Sita mendesah saat ia merasakan hembusan napas yang hangat membuat bulu halusnya merinding. Apalagi saat kedua tangan kekar itu melingkar di pinggangnya, membuatnya terbuai dan terlena.


"Mas katanya mau jelasin ke aku soal alat-alat menyeramkan itu ada di lemari ini?" rengek Sita yang ingatannya kembali akan janji Haris. Perlahan pinggang ramping itu di putar oleh Haris sehingga berhadapan dengannya.


"Ayok, ikut denganku. Kita tour seisi apartment ini!" ajak Haris sambil menarik sebelah tangan Sita mendekat ke ujung lemari yang terdapat alat-alat itu. Haris pun kemudian membukanya.


"Ini adalah benda-benda milik kak Sulthan yang aku ambil dari ruang kerjanya. Entah dia tau atau gak. Aku bukan tertarik dengan alat-alat ini, tapi cuma ingin melindungi kak Sulthan supaya gak nyakitin siapapun termasuk dirinya sendiri."


"Apa kamu pernah melihatnya menyakiti dirinya sendiri?" tanya Sita sambil menoleh ke suaminya, sedangkan Haris masih menatap alat-alat itu.


"Enggak, aku gak pernah lihat langsung. Tetapi, aku memiliki rekaman tentang hal itu dari orang dalamnya yang berhasil aku kelabui ... sejujurnya aku sangat ingin berbicara dengannya, tapi aku belum sanggup. Aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk itu ... dan entah, sampai sekarang aku belum bisa melakukannya." Haris menoleh, membuat Sita pun ikut menoleh. Mereka saling bertukar pandang.


"Kenapa melihatku seperti itu, Mas?" tanya Sita dengan ragu-ragu. Seketika perasaannya pun menjadi tidak enak.

__ADS_1


"Aku ingin meminta bantuanmu .... " Perkataan Haris berhasil membuat Sita tercengang. "Setelah kita berhasil mengamankan kedua orang tuamu, bantu aku berbicara dengan kak Sulthan, kamu mau kan?" tanyanya dengan sorot mata sendu yang lagi-lagi membuat Sita terenyuh.


"Apapun akan kulakukan, selama kamu tetap disisiku dan gak pergi lagi dariku, Mas. Aku sebenarnya bosan dengan kesendirian ini. Kenyataan yang selalu aku hadapkan, selalu sukar untukku mendapat support system. Terutama dari orang yang aku cintai .... " Sita berjalan ke arah balkon yang ada di kamar itu, ia pun membuka pintu kaca yang ada di sana kemudian.


"Haruskan aku mempercayaimu, Mas? Bisakah kamu memegang semua janjimu? karena semenjak kita menikah, baru kali ini aku mendengar kamu bercerita open minded to me." Sita menghentikan langkahnya saat ia telah berada di balkon kamar. Kedua tangannya saling berlipat di dada dengan matanya yang menatap jauh ke depan.


Haris yang hanya mengenakan celana panjang setelan dari jas kantornya itu, menghampiri Sita dan berdiri tepat berdampingan. Ia pun ikut menatap jauh ke depan.


"Aku tau, saat ini aku masih jauh dari kata baik sebagai seorang suami. Karena memang aku sangat sulit untuk terbuka dengan perasaanku sendiri. Sejak awal udah aku sampaikan kepadamu, aku bukan laki-laki yang baik. Kalau kamu gak yakin, jangan dipaksakan." Haris menoleh dan memberikan senyuman manis kepada Sita.


"Buktinya, walau aku ragu ... aku bisa cepat jatuh hati padamu. Aku gak tau kenapa perasaanku bisa secepat itu berubah sama kamu." Sita menyanggah dengan opini yang terlintas di pikirannya.


Keduanya memposisikan tubuhnya dengan saling berhadapan. Haris meraih kedua tangan Sita dan menggenggamnya cukup erat. Senyuman itu terbit dari keduanya.


"Aku harap, kamu bisa mempercayaiku. Sebab hanya itu yang aku butuhkan saat ini, esok ataupun nanti. Mulai sekarang dan sampai nanti kamu lulus dari kuliah, kamu bisa tinggal di sini, di apartment ini. Mau ya?" Haris membiarkan Sita untuk menentukan pilihannya sendiri.


Dalam hati Sita, masih ada keraguan yang membuat pikirannya semakin bercabang. Pikiran negatif mendominasi di dalamnya. Terlebih rasa takut akan Haris yang sulit sekali di hubungi. Sita pun menunduk kemudian, membuat Haris bertanya-tanya lewat tatapan matanya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Haris dengan suaranya yang parau.

__ADS_1


"Aku takut kalau kamu susah dihubungi kalau aku lagi butuh sesuatu." Sita menjawabnya dengan lirih. Haris pun tersenyum jenaka.


"Okey, maafin aku ya. Aku tau, sikap yang selama ini aku tunjukkan sama kamu itu salah. Aku lebih sering mengabaikan kamu terutama dalam hal komunikasi." Haris mengangkat sebelah tangannya dan mendirikan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan lalu berkata, "Baiklah, dibawah bintang yang bersinar malam ini dan juga bulan yang sangat cantik di atas sana. Aku janji, akan lebih menjaga komunikasi dengan baik sama istriku yang sangat aku cintai."


Sita tergelak dengan tawanya sambil menutup bibirnya dengan sebelah tangannya yang tidak digenggam oleh tangan Haris. Demikian pula dengan laki-laki yang baru saja mengucapkan janjinya itu, ikut tertawa yang kemudian diakhiri dengan senyuman.


"I love you, Sita Arkania Ranggalih."


Sita yang tersipu malu pun menjawabnya, "I love you too."


Haris membawa Sita ke dalam pelukannya. Diciumnya puncak kepala sang istri kemudian. Saat ini, Sita mampu mengimbangi posisi ibunya yang selama ini sangat ia cintai sepanjang perjalanan hidup.


Mungkin, ini adalah sebuah awal dari manisnya sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk asmara itu. Cinta setelah pernikahan, mampu menghapus rasa sepi yang selama ini menjadi bayang-bayang kelam dalam hidup seorang Sita.


Walau mata tak selalu bertatap, walau bibir tak selalu terucap. Tetapi Tuhan selalu beri petunjuk, kemana arah angin yang berhembus menuju singgasana yang sesungguhnya. Demikian hati yang belum sepenuhnya terpatri. Niat tulus pun akan saling memberi kekuatan untuk ikhlas. Bukan hanya sekadar harapan, tapi juga memberi kesempatan untuk semua yang ingin berubah menjadi lebih baik.



...Sita & Haris...

__ADS_1


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2