Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Hai, Kakak Ipar!


__ADS_3

Saat mulai memasuki musim penghujan seperti ini, memang paling nyaman berada di atas kasur sambil bergulung dan berguling dengan selimut. Apalagi suhu di dalam ruangan, bisa otomatis menjadi tambah dingin.


Tidak ada bedanya dengan Sita yang menikmati pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya tanpa kehadiran Haris. Rasa malas pun membuatnya enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya itu.


Sesaat kemudian, tiba-tiba ia terperanjat duduk karena ingat akan janjinya hari ini dengan dosen pembimbing. Sita menghela napas panjang sambil meneliti ke sekeliling ruang kamarnya.


Astaga! aku hampir lupa!


Seketika, ia mengangkat kedua sudut bibirnya tatkala melihat kotak pemberian Haris, yang semalam sempat ia taruh di atas meja belajarnya. Benda itu, membangkitkan moodboaster-nya di pagi ini.


Sita turun dari singgasananya seraya bersenandung riang ke kamar mandi. Wajahnya pun sangat berseri, manik matanya yang berbinar membuat dirinya tampak sangat fresh.


*******


Setengah jam berlalu, Sita pun keluar dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga kemudian mencari keberadaan orang tuanya di ruang makan.


Sita menyurutkan senyumnya seketika, saat ia tidak melihat kedua orang tuanya di sana. Pandangannya kemudian beralih ke jam dinding yang terpasang di ruang makan.


Udah jam tujuh, kenapa ayah sama bunda gak ada? apa mereka udah berangkat?


Sita tetap berjalan ke ruang makan, ia tidak ingin didemo oleh para cacing di perutnya. Terlihat, hanya ada seorang pelayan dapur di sana.


"Eh Non Sita, selamat pagi," sapa pelayan itu dengan ramahnya sambil menghampiri Sita lalu membuka satu-per-satu tutup saji yang ada di atas meja makan itu.


"Pagi, Bi ... " Sita duduk di kursi. "Oh iya, lihat ayah sama bunda gak?" tanyanya sambil membalikkan piring yang ada di hadapannya.


"Tuan sama Nyonya, sudah berangkat dari dini hari, Non. Sekitar jam ... empat pagi kalau tidak salah tadi." Pelayan itu menuangkan air dan juga susu ke dalam masing-masing gelas yang ada di depan Sita.


"Pagi banget, mau kemana emangnya? bilang gak sama Bibi?" cecar Sita sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Beliau bilang, ada tugas negara ke negara Swiss, Non. Katanya sih, lumayan lama. Memangnya Tuan sama Nyonya tidak bilang sama Non Sita?" papar pelayan itu membuat Sita tertegun sejenak.


Setelah helaan napas panjang yang berhembus dari hidung dan mulut Sita, ia pun menggeleng lemah seraya berkata, " Enggak, Bi."


Pelayan itu tidak berani berkata apa-apa lagi. Setelah tugasnya selesai, ia pun kembali ke dapur.


Pantas aja ayah sama bunda nyuruh aku cepat-cepat nikah. Mereka taunya mau pergi lama ... Hufft, Sita ... Sita ... sama aja ada atau enggak nya mas Haris. Sendiri emang udah jadi darah daging. Kalau begini caranya, aku harus segera menyelesaikan kuliah dan pergi menemui mas Haris di Australi, terus tinggal deh sama dia.


Sambil bermonolog sendiri di dalam hati, tidak terasa sarapan yang tadi Sita ambil sudah habis. Ia menenggak susunya hingga habis serta meminum air putih secukupnya.


Ia tidak melihat orang di sekelilingnya. Akhirnya ia pun berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri.

__ADS_1


Sebenarnya, Sita sudah lama bisa mengendarai mobil. Hanya karena rasa malasnya pergi ke luar rumah dan bergerumul macam-macam pikiran negatif itu, membuat Sita bisa dibilang sangat jarang mengendarai mobil sendiri.


Akan tetapi, ia tidak melihat mobil apapun di garasinya. Lantas dimana mobil pemberian Haris? Sita meneliti kunci mobil yang sedang ia pegang. Diputar dan dilihat dalam-dalam.


Kemudian ia baru menyadari kalau ada sebuah lakban yang merekat di sana. Sita berdecak sambil melepaskan lekatan lakban tersebut.


Matanya seketika membola, saat ia melihat merek mobil itu.


Ferari? Gila! itu mobil mahal banget. Apa mas Haris sekaya itu?


"Pagi Non Sita." Seorang laki-laki berpakaian satpam menyapanya.


"Pagi, eh Pak Ugih." Sita tersenyum membalas sapaan satpam di kediamannya.


"Non pasti cari mobilnya ya?" tanya satpam itu. Sita pun bergumam seraya mengangguk.


"Mobilnya ada di garasi baru Non. Baru sampai semalam juga. Mari non," ajak satpamnya lalu berjalan lebih dulu. Sita mengekornya dari belakang.


Sita mengernyit saat satpam rumahnya malah berjalan keluar dari gerbang rumahnya. Ia yang saat ini memakai heels setinggi lima centi, cukup menyiksa kakinya.


Begini banget sih mau berubah jadi perempuan seutuhnya Ya Tuhan. Ini mau kemana lagi!


Namun, Sita tidak banyak bertanya. Ia masih tetap terdiam dan tetap mengekor. Hingga tiba di sebuah rumah yang sangat mewah dengan design eksterior yang membuat Sita begitu takjub.


"Yang punya rumah ini yaitu orang yang telah memberi Non Sita mobil."


Sita terperangah mendengat ucapan satpamnya. Ia masih mencoba mencernanya dengan baik.


Apa iya ini rumah mas Haris? tapi ... kenapa di surat itu kalau dia udah nyiapin apartment untukku?


"Ini Non mobilnya."


Lagi-lagi kejutan itu belum selesai rupanya. Sita pun tercekat kagum saat melihat mobil Ferrari keluaran terbaru dengan warna dark grey. Ia bersusah payah menelan salivanya.


Bisa gak ya aku berkendara dengan mobil ini?


"Terima kasih, Pak." Pandangan Sita masih terkunci ada mobil itu.


"Kalau begitu saya permisi, Non." Satpamnya kemudian pergi dari sana membiarkan Sita sendiri.


Sita menekan tombok buka kunci yang ada pada kunci di tangannya. Ia kemudian masuk ke tempat kemudi.

__ADS_1


Sita membuka ponselnya, lalu mencoba menghubungi suaminya.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif dan sedang berada di luar jangkauan."


"Sial! gak aktif lagi. Ya sudahlah, yakin aja!" Monolog Sita kemudian mencoba menyalakan mobilnya sambil melihat tutorial di YouTube, lalu melajukannya.


Sita masih tahap penyesuaian dengan mobil mewah itu. Ia pun berkendara dengan sangat hati-hati.


Jarak dari rumah ke kampus memakan waktu hingga satu jam lamanya. Kendati demikian, Sita bersyukur karena dia telah berhasil mengendarai mobil pemberian suaminya itu dengan aman dan selamat.


"Gila ini mobil keren banget!"


"Iya, Ferrari coy!"


"Eh, yah punya pasti orang kaya nih!"


"Cantik, Bro yang bawanya. Tuh lihat." Sambil menunjuk ke arah Sita yang sudah berjalan meninggalkan mobilnya.


Sita menulikan telinganya saat mereka berkata demikian. Ia tetap berjalan menuju ruang dosen pembimbingnya.


Sebab beberapa bulan lagi, dirinya pun akan segera lulus dari kampus ini. Maka dari itu, ia ingin segera menyelesaikan sekolahnya dan tidak ingin menjadi mahasiswi abadi.


*******


Lima jam sudah ia berkonsultasi dengan dosen pembimbing.


"Pokoknya, untuk semua materi yang saya jelaskan tadi, kalau kamu gak ketemu di internet, coba cari di toko buku. Terus nanti kalau ada yang ingin di tanyakan, bisa lewat WhatsApp. Chat aja, jangan telepon. Ganggu." Dosen itu sambil membenarkan kacamata bulatnya.


"Baik, Bu. Kalau begitu, saya permisi." Sita akhirnya pamit dan pergi dari ruangan itu.


Setelah berada diluar ruangan, Sita segera bergegas pergi ke toko buku sekarang juga. Ia benar-benar ingin membereskan materi yang di berikan dosen tadi sebelum akhir pekan. Sebab hari Sabtu ini, ia harus sudah pindah ke apartment yang telah di sediakan oleh suamianya itu.


Sita pun sudah mulai terbiasa dengan mobil barunya. Semua orang yang ada di tempat parkir itu memperhatikannya dengan tatapan yang beragam.


Tetapi, Sita tidak memperdulikannya. Ia masuk ke dalam, lalu mulai mengemudikan mobilnya sampai ke sebuah mall yang tidak jauh dari kampusnya.


Sita sengaja mengambil parkir di lantai yang sejajar dengan lobby. Supaya bisa memudahkan dia keluar dari parkiran itu.


Ia membenarkan kembali make up tipisnya, lalu turun dari mobil sambil mengaitkan sling bag ke pundaknya. Setelah menguncinya, Sita langsung berjalan ke pintu masuk yang ada di sana—bukan lobby utama, melainkan pintu samping.


Saat Sita membuka pintu, tepat berpapasan dengan seorang laki-laki yang tidak asing baginya. Napasnya pun seketika tertahan. Laki-laki yang ada di hadapannya menoleh, lalu tersenyum.

__ADS_1


"Hai, Kakak ipar!"


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2