
Dicko menghela nafas pelan melihat sambil mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang sedang terlelap tidur. Sebuah hukuman kecil untuk sang istri yang sudah mendiamkannya sejak sore tadi.
Matanya yang sejak tadi melihat bibir merah istrinya, mulai beralih pandangan. Dicko hendak mencium bibir itu, akan tetapi ciumannya dialihkan untuk mencium kening sang isteri.
Meskipun Dicko belum merasa puas, tetapi dia lebih ingin melihat istrinya beristirahat dengan baik demi sang buah hati. Saat dia mulai merebahkan diri di samping Mala, tiba-tiba Mala menggeliat kearahnya. Tangan dan sebelah kakinya menimpa perutnya.
Dicko hampir saja berteriak namun ditahannya. Pertahanan Dicko mulai runtuh setelah tangan Mala bergerak perlahan menyusuri leher lalu masuk kedalam baju tidur Dicko dan berakhir di dada Dicko yang bidang.
Dicko kesal melihat Mala sanggup membangkitkan gairahnya tapi dia merasa tidak bisa tersalurkan. Ini sangat menyakitkan bagi Dicko. Nafasnya mulai memburu dan dia berniat membuat Mala juga merasakan apa yang dia rasakan malam ini.
Dicko mulai aktif mencumbu istrinya. Tangannya mulai tiada henti-hentinya menggapai semua yang di miliki Mala. Dicko berharap istrinya akan terbangun dengan ulahnya. Dan benar saja, Mala mulai merasa sulit bernafas karena ciuman bibir dari Dicko yang cukup lama.
Dengan cepat Mala mendorong tubuh Dicko hingga hampir terjatuh kelantai. Nafasnya terengah-engah dan Mala berusaha menarik nafas panjang. Matanya tajam menatap suaminya yang tersenyum malu.
"Mau apa sih mas? Kalau emang pingin, tinggal bilang aja. Apa susahnya?" ucap Mala kesal sambil menyentuh bibirnya.
"Kamu kan lagi marah," jawab Dicko pelan.
"Meskipun aku lagi kesel sama mas Dicko, tetapi kewajiban aku sebagai istri pasti tetap aku jalankan mas."
Dicko tersenyum mendengar jawaban Mala. Jawaban yang segera merubah sikap Mala yang tadinya kesal menjadi sangat manis.
"Mas, masih pingin?" tanya Mala lembut.
"Aku..."
"Ya udah, karena nggak bisa jawab berarti nggak kan?" kata Mala sambil tertawa.
"Mala..."
"Hmm,"
"Mala..."
"Hmm, hmm."
__ADS_1
"Mau," kata Dicko sambil memegang tangan Mala.
"Iya, tapi pelan-pelan saja. Takut bayinya kenapa-kenapa," kata Mala sambil tersenyum.
"Siap," jawab Dicko sambil menatap wajah Mala yang masih mengembangkan senyum manisnya.
Dicko merasa bahagia memiliki istri seperti Mala. Dia tidak salah pilih. Meski dalam keadaan kesal, masih bisa membuatnya senang. Dan setelah melakukan hubungan suami istri, Mala tidak akan ingat lagi pernah kesal padanya.
Tentu saja, Dicko harus menuruti keinginan Mala untuk melakukannya secara perlahan. Demi bayi dan juga demi kebahagiaan Mala yang suka kelembutan dalam berhubungan. Karena Dicko tidak mau hanya dia saja yang merasa puas tapi juga Mala.
Setelah lelah dan badan yang penuh keringat, Dicko merebahkan dirinya di samping istrinya yang tampak puas dengan perlakuan Dicko. Dicko menarik selimut dan menutupi tubuh Mala yang masih polos. Pandangan mereka beradu dan mereka saling tersenyum, lalu Dicko menarik pelan tubuh Mala kedalam pelukannya. Malam semakin larut dan mereka masih belum bisa tidur.
"Mas, maafkan Mala. Tadinya mau pura-pura kesal. E...keterusan sampai malam," kata Mala.
"Aku tahu," jawab Dicko sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Mala.
"Sebenarnya kamu tidak ingin marah padaku kan? Tapi memang aku bersalah, sudah mengatakan itu. Lagipula, menikah atau tidak itu urusan Bara. Tidak ada hubungannya dengan kita," kata Dicko.
"Untuk apa aku marah sama kamu. Itu bukan salah kamu. Itu salah Bara. Siapa suruh dia mencintai istri orang. Kalau membunuh tidak dipenjara, aku akan membunuhnya sekarang," ucap Dicko keras.
"Aih aih mas Dicko. Aku nggak mau ya, punya suami pembunuh. Sebelum kamu membunuh Bara, aku akan mengikatmu dengan tubuhku biar kamu nggak bisa kemana-mana," ucap Mala.
"Boleh, ikat saja. Sekarang, aku udah siap," ucap Dicko menahan tawa.
"Gemes aku. Pingin sekali Melu mat bibirmu yang suka becanda itu," ucap Mala sambil menyentuh bibir suaminya.
Mereka beradu pandang. Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Dicko mulai mendekat dan mengusap pipi Mala dengan lembut.
🌹🌹🌹🌹🌹
Esoknya, Mala dan Dicko pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin ibu hamil setelah mengantar Gala pergi ke sekolah. Mereka menunggu nomor antrian sambil duduk santai di kursi tunggu.
Mata Mala tertuju pada seorang anak kecil yang sedang berlarian diantara lalu lalang orang yang lewat di lorong rumah sakit. Dan dibelakangnya, ada mbak Sri yang sedang mengejarnya.
__ADS_1
Anak itu pasti Dodi, batin Mala.
"Dodi," panggil Mala ketika Dodi melewatinya.
Dodi berhenti, lalu mendekati Mala dan Dicko.
"Tante, tante ada di sini? Mana kakak Gala?" tanya Dodi sambil celingukan.
"Kakak Gala harus sekolah. Dodi sendiri disini lagi ngapain. Main kejar-kejaran lagi sama mbaknya."
Dodi hanya tersenyum sambil melihat ke arah mbak Tari yang masih terengah-engah.
"Mbak Tari," sapa Mala.
"Iya, mbak. Kita sedang mengantar kakeknya periksa," jawab mbak Tari.
"O, kakek ya. Sakit apa?"
"Nggak tahu ya mbak. Hanya katanya kakek sulit tidur, gitu."
"Tunggu saja disini sama tante. Sekalian aku pingin nyubit pipinya Dodi yang moi itu. Sini," kata Mala gemes dengan pipi Dodi yang tembem.
Tak berapa lama, datanglah seorang wanita dengan seorang bapak-bapak yang meski sudah berumur masih tampak muda.
"Dodi, ayo pulang. Kakek sudah selesai periksa," kata wanita yang bernama Lilis.
"Bentar ma, Dodi masih pingin berbicara dengan tante Mala," jawab Dodi.
"Kalian saling kenal?" tanya Lilis.
"Benar mbak. Kenalkan, aku Mala."
"Aku Lilis dan ini kakeknya Dodi, ayah Reno."
Mala tersentak mendengar nama Reno. Matanya menatap pak Reno yang tersenyum datar.
__ADS_1
Apakah mereka ada hubungannya? Atau hanya kebetulan nama mereka sama.